Hadits Palsu: Terjadi Gerhana Ketika Munculnya Al Mahdi

Aku membaca sebuah hadits bahwa di antara tanda datangnya Mahdi adalah terjadinya gerhana matahari dan bulan pada awal bulan Ramadhan. Apakah riwayat ini shahih ataukah dhaif?

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Munajjid

Soal:

Dulu, aku memeluk keyakinan Ahmadiyah, –alhamdulillah– Allah menunjukiku, ibuku, dan dua orang saudaraku pada hidayah sunnah. Aku memohon kepada Allah, agar Dia memberi petunjuk kepada ayahku dan semua saudaraku. Aku membaca sebuah hadits bahwa di antara tanda datangnya Mahdi adalah terjadinya gerhana matahari dan bulan pada awal bulan Ramadhan.

Apakah riwayat ini shahih ataukah dhaif?

Jawaban:

Alhamdulillah,

Kami bersyukur kepada Allah yang telah memberi petunjuk dan taufik kepada Anda. Dia juga menyelamatkan Anda dari kelompok yang menyimpang itu. Kami memohon kepada Allah Yang Maha Suci, agar Dia juga menganugerahkan hidayah dan kebaikan kepada ayah Anda dan semua keluarga Anda.

Berkaitan dengan atsar yang Anda tanyakan, hal itu bukanlah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Atsar ini memang diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dalam Sunan-nya (2/65) dari perkataan Muhammad al-Hanafiyah (putra Ali bin Abi Thalib). Ad-Daruquthni mengatakan, “Abu Said al-Ishtharakhy menyampaikan kepada kami, dari Muhammad bin Abdullah bin Naufal, dari Ubaid bin Ya’isy, dari Yunus bin Bakir, dari Amr bin Syamir, dari Jabir, dari Muhammad bin Ali, ia berkata,

?? ??????? ????? ?? ????? ??? ??? ???????? ?????? ????? ????? ???? ???? ?? ????? ?????? ????? ?? ????? ??? ??? ????? ??? ??? ???? ???????? ??????

Sesungguhnya ada dua tanda yang menunjukkan kedatangan al-Mahdi kita. Kedua tanda tersebut belum pernah terjadi sejak awal penciptaan langit dan bumi, yakni terjadinya gerhana bulan pada awal malam bulan Ramadhan. dan terjadinya gerhana matahari pada pertengahan bulannya. Peristiwa ini belum pernah terjadi sejak langit dan bumi diciptakan”.

Atsar ini maudhu’ (palsu) dan merupakan kedustaan atas nama Muhammad bin Ali al-Hanafiyah rahimahullah.

Dr. Abdul Alim Abdul Azhim al-Bistawi dalam kitabnya al-Mausu’ah fi Ahadits al-Mahdi adh-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah, halaman 169, mengatakan,

“Dalam sanadnya terdapat beberapa rawi, yaitu:

  • Yunus bin Bakir bin Washil asy-Syaibani, Abu Bakr al-Jammal al-Kufi, terkadang keliru dalam meriwayatkan, termasuk thabaqah ke-9 dan wafat pada tahun 199 H;
  • Amr bin Syamir al-Ju’fi al-Kufi asy-Syi’i, Abu Abdillah, seorang pemalsu hadits.

As-Sulaimani mengatakan, “Amr memalsukan hadits untuk menyebarkan ajaran Syiah.”

Al-Juzjani berkomentar, “Ia seorang pendusta dan sesat.”

Menurut al-Hakim, “Banyak riwayat-riwayat palsu dari Jabir al-Ju’fi. Dan tidaklah diriwayatkan hadits-hadits palsu yang buruk itu kecuali dari Jabir.

Ibnu Hibban mengatakan, “Ia adalah seorang (Syiah) Rafidhah, pencela para sahabat, dan meriwayatkan riwayat palsu.”

Abu Hatim menyatakan, “Sangat munkar haditsnya dan lemah. Jangan sibukkan diri dengannya. Tinggalkan dia.”

Beberapa ulama mentahdzirnya. Seperti: al-Bukhari, an-Nasai, Ibnu Sa’d, ad-Daruquthni, dan lain-lain.

Jabir ialah al-Ju’fi. Seorang yang ditinggalkan haditsnya. Asy-Syu’bah, Waki’, dan ats-Tsaury mentsiqahkannya. Namun Ibnu Ma’in, Abu Hanifah, Laits bin Abi Salim, al-Juzjani, Ibnu Uyainah, Ibnu Kharrasy, Said bin Jubair, dll. memvonisnya pendusta. Dan banyak yang mendhaifkannya.

adz-Dzahaby mengatakan, “Syu’bah men-tsiqah-kannya. Ia seorang diri dalam pendapat ini. Dan al-Hafizh meninggalkannya.”

Ibn Hajar mengatakan, “Ia dhaif dan seorang Rafidhah.”

Kesimpulannya:

Riwayat ini adalah riwayat palsu. Dan sebab kepalsuannya adalah seorang periwayat yang bernama Amr al-Ju’fi.

Al-Azhim Abadi mengatakan, “(riwayat) Amr bin Syamir dari Jabir, keduanya adalah perawi yang dhaif. Riwayat keduanya tidak dapat dijadikan hujjah”.

Allahu A’lam.

***

Sumber: https://islamqa.info/ar/26836

Penerjemah: Nurfitri Hadi

Artikel Muslimah.or.id

Anak Pertama Perempuan, Lebih Berkah?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,   Allah berfirman, ??????? ?????? ??????????? …

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

 

Allah berfirman,

??????? ?????? ??????????? ??????????? ???????? ??? ?????? ?????? ?????? ?????? ??????? ???????? ?????? ?????? ??????????

Hanya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. as-Syura: 49)

Dalam ayat ini, ketika Allah menceritakan nikmat anak yang Allah berikan kepada hamba-Nya, Allah awali dengan anak perempuan, baru anak lelaki.

Sebagian ulama memahami, urutan ini bukan tanpa makna. Artinya, bisa jadi mereka yang dikaruniai Allah anak perempuan sebagai anak pertama, itu merupakan tanda kebaikan untuknya.

Al-Qurthubi dalam tafsirnya membawakan keterangan sahabat Watsilah bin al-Asqa’,

?? ?? ??? ?????? ??????? ??????? ??? ?????? ???? ?? ???? ????? ???: ” ??? ??? ???? ????? ???? ??? ???? ?????? ” ???? ???????.”

“Bagian dari keberkahan wanita, ketika dia melahirkan anak pertamanya berjenis kelamin perempuan, sebelum anak laki-laki. Karena Allah berfirman, (yang artinya): “Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki”. Dalam ayat ini Allah mulai dengan anak perempuan.” (Tafsir al-Qurthubi, 16/48)

 

Hadisnya Dhaif

 Terdapat riwayat yang marfu’ dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan bahwa keberkahan wanita, ketika anak pertamanya perempuan. Namun semua riwayat marfu’ ini statusnya dhaif.

Diantaranya, disebutkan asy-Syaukani dalam tafsirnya, riwayat yang dibawakan Ibnu Mardawaih dan Ibnu Asakir dari Watsilah bin Asqa’ secara marfu’,

?? ???? ?????? ???????? ??????? ? ??? ???? ???: ?????? ????? ?????? ????? ???????? ????? ?????? ??????

“Bagian dari keberkahan wanita, anak pertamanya perempuan. Karena Allah berfirman (yang artinya), “Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki.” (Fathul Qadir, 4/776)

Demikian pula diriwayatkan ad-Dailami dalam musnadnya dari Aisyah secara marfu’,

?? ???? ?????? ??? ????? ????? ????? ??? ???? ???????

“Bagian dari keberkahan wanita kepada suaminya, mahar yang murah dan anak pertama perempuan”. (hadis ini di-dhaif-kan as-Sakhawi dalam al-Maqashid al-Hasanah).

Terlepas dari status hadisnya yang bermasalah, anak adalah anugrah dari Allah. Sementara manusia tidak memiliki pilihan untuk menentukan jenis kelamin buah hatinya. Karena anak adalah hibah dari Allah, sementara manusia hanya bisa meminta. Sehingga yang lebih penting adalah berusaha mensyukuri kehadiran semua anaknya.

Para ulama menilai keberuntungan bagi yang memiliki anak perempuan, untuk membangun sikap optimis terhadap setiap anugrah yang Allah berikan. Agar jangan sampai muncul perasaan sial, seperti yang diyakini masyarakat jahiliyah.

Allah ceritakan karakter mereka dalam al-Qur’an,

??????? ??????? ?????????? ???????????? ????? ???????? ?????????? ?????? ??????? ( ) ?????????? ???? ????????? ???? ????? ??? ??????? ???? ???????????? ????? ????? ???? ????????? ??? ?????????? ????? ????? ??? ???????????

“Apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. ( ) Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?.” (QS. an-Nahl: 58 – 59)

 

Allahu a’lam

——————————————————————————————-

Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits

Artikel www.muslimah.or.id

 

Syubhat, Jangan Biarkan Terjerumus ke Dalamnya (Faedah Hadits Arba’in AN-Nawawi ke 6)

Di dalam kehidupan ini, tidak hanya ada halal dan haram yang sudah jelas diketahui. Syubhat …

Di dalam kehidupan ini, tidak hanya ada halal dan haram yang sudah jelas diketahui. Syubhat atau sesuatu yang samar-samar pun ada. Dan inilah yang membuat banyak orang terjerumus ke dalamnya. Tak lama kemudian mengantarkan mereka kepada perkara yang haram yang sudah jelas diketahui dan dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.

Keadaan ini menuntut kita untuk lebih berhati-hati terhadap perkara yang masih samar dan belum jelas antara halal dan haram.

Pembahasan mengenai halal, haram dan syubhat terdapat dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

 

????? ?????????? ??????? ??????? ?????????? ??????? ????????????? ???????? ????????????? ??? ????????????? ???????? ???? ????????? ?????? ???????  ???????????? ?????? ??????????? ?????????? ??????????? ?????? ?????? ??? ???????????? ?????? ??? ??????????? ??????????? ??????? ?????? ???????? ???????? ???? ???????? ??????? ????? ???????  ??????? ?????? ????? ????? ??????? ????? ????? ??????????? ????? ??????? ??? ?????????   ???????? ????? ???????? ?????? ????????? ??????? ??????? ???????? ?????? ????????? ???????  ????? ?????? ?????????

Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya di sekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati “. (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Hadits di atas menjelaskan mengenai sikap wara’, dengan cara meninggalkan sesuatu yang syubhat. Hadits di atas juga menjelaskan bahwa segala yang ada di sekitar kita terbagi menjadi 3, yaitu,

1. Halal yang jelas, seperti biji-bijian, buah-buahan, dan binatang ternak, apabila tidak diperoleh dengan jalan yang haram.

2. Haram yang jelas, seperti meminum khamr, memakan bangkai dan menikah dengan wanita yang merupakan mahramnya dan hal tersebut telah diketahui baik secara khusus maupun umum.

3. Syubhat yang meragukan, dan hal ini tidak banyak orang mengetahuinya.

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara jelas memposisikam syubhat di antara halal dan haram. Akan tetapi, untuk kehatian-hatian, sebaiknya kita menghindarinya dan jangan bermudah-mudahan dengannya. Hal ini dikarenakan apabila seseorang telah terjerumus ke dalam perkara syubhat, maka sedikit demi sedikit dapat menjerumuskannya ke dalam perkara yang haram.

 

Sebagaimana dalam hadits di atas, Rasulullah mengumpamakannya dengan seorang penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya di sekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya. Begitu juga dalam sabda beliau yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Muhammad Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib tentang perintah Allah untuk meninggalkan sikap ragu-ragu.

???? ??? ?????????? ????? ??? ??? ??????????

Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan suri tauladan dalam hal wara’. Sebagai contoh, Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendapati sebutir kurma jatuh di rumah beliau. Lalu beliau bersabda, “Kalau saja aku tidak khawatir bahwa sebutir kurma ini merupakan kurma shadaqah, tentu aku sudah memakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Karena shadaqah diharamkan bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh betapa sempurna sikap kehati-hatian beliau dalam segala hal yang syubhat.

Sebagian ulama membagi syubhat dalam 3 jenis, yaitu:

  1. Sesuatu yang diketahui manusia sebagai barang haram, namun mereka ragu apakah pengharamannya masih berlaku atau tidak. Maka dalam hal ini hukumnya haram sampai diketahui dan diyakini kehalalannya. Sebagi contoh daging binatang yang diharamkan bagi seseorang untuk dimakan sebelum disembelih, jika ia meragukan penyembelihannya. maka daging tersebut haram sampai dapat diyakini telah disembelihan

2. Sesuatu yang halal, lalu diragukan keharamannya. Maka, hukumnya mubah kecuali jika diketahui keharamannya

3. Sesuatu yang diragukan apakah halal atau haram dan kedua kemungkinan ini sama kuatnya dan tidak diketahui petunjuk yang menguatkan salah satunya. Maka, hukumnya sebaiknya dijauhi.

 

Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam menyikapi perkara-perkara yang masih meragukan dan berdo’a kepada Allah agar dilindungi dari perkara syubhat. Apabila kita mendapati sesuatu yang meragukan (syubhat), sebaiknya kita menjauhinya karena perkara syubhat dapat mengantarkan kita ke dalam perkara haram yang mana dapat menghalangi kita dari terkabulnya do’a. Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari perkara haram dan syubhat.

 

Wallahu a’lam.

—————————————————————————————————————-

Oleh: Annisa Nurlatifa Fajar

Referensi:

[1] Fathul Qawiy Al Matiin fii Syarhil ‘Arbain wa Tatimmatil Khamsiin, hal. 112, Abdul Muhsin Bin Hamad Al Abbad Al Badr.

[2] 40 Pesan Nabi untuk Setiap Muslim, hal. 46-53, Fahrur Mu’is dan Muhammad Suhadi. Taqiya Publishing.

 

Menjadi Ahlul Quran; Meraih Hidup yang Lebih Bermakna dengan Mempelajari Wasiat-Nya

Definisi Al Qur’an Al Qur’an adalah kalam Allah Ta’?l? yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu’alaihi …

Definisi Al Qur’an

Al Qur’an adalah kalam Allah Ta’?l? yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu’alaihi wa Sallam, melalui perantara Jibril, dengan lafadz Bahasa Arab, merupakan mu’jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu’alaihi wa Sallam yang disampaikan secara mutawatir dan membacanya adalah ibadah, diawali dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan An-Nas.

1. Al Qur’an sebagai Firman Allah Jalla Jalaaluhu

Al Qur’an adalah kalamullah, firman Allah Ta’?l?. Ia bukanlah kata-kata manusia, bukan pula kata-kata jin, syaithan atau malaikat. Ia sama sekali bukan berasal dari pikiran makhluk, bukan syair, bukan sihir, bukan hasil pemikiran filsafat manusia.

 ????? ??????? ???? ????????? ???? ???? ?????? ?????? ???????

?“Dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Alquran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4)

Telah berkata Ar-Rabi’: Aku mendengar Asy-Syafi’i –rahimahull?hu ta’?l?– berkata: ‘Al Qur’an itu adalah Kalamullah ‘Azza wa Jalla, bukan makhluk, barangsiapa yang mengatakan bahwasanya ia adalah makhluk, maka ia telah kafir.’” (Asy-Syari’ah oleh Al-Imam Al-Ajurri hal. 59, Maktabah Al-Misykah)

 

2. Al Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu’alaihi wa Sallam

Al Qur’an itu diturunkan khusus kepada Nabi Muhammad Shallallaahu’alaihi wa Sallam , dan berbeda dengan hadits Qudsi karena Al Qur’an itu lafazh dan maknanya berasal dari Allah Ta’?l?, sementara lafazh hadist Qudsi berasal dari Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam tetapi maknanya dari Allah Ta’?l?.

 

3. Al Qur’an diturunkan melalui perantara Jibril.

Asal mulanya turun Al Qur’an pada bulan Ramadhan dengan diturunkan secara berangsur-angsur serta terdiri dari 30 juz, 114 surat dan 6666 ayat.

 

4. Mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu’alaihi wa Sallam

Mukjizat adalah perkara luar biasa, yang tidak akan mampu manusia membuatnya karena hal tersebut di luar kesanggupannya. Tujuan mukjizat dianugerahkan kepada nabi dan rasul adalah untuk menguatkan kenabian serta menjadi bukti bahwa agama yang dibawa oleh mereka benar-benar dari Allah Jalla Jalaaluhu.

Al Qur’an merupakan mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad Shallallaahu’alaihi wa Sallam. Di antara kemukjizatannya itu terletak pada fashahah dan balaghahnya, keindahan susunan dan gaya bahasanya yang tidak ada tantangannya.

 

5. Membaca Al Qur’an adalah ibadah

MembacaAl Qur’an itu investasi yang sangat menguntungkan karena satu hurufnya diganjar dengan 1 kebaikan dan dilipatkan menjadi 10 kebaikan.

Abdullah bin Mas’ud –radhiyall?hu ‘anhu– berkata: “Rasulullaah Shallallaahu’alaihi wa Sallam bersabda: ‘Siapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan ??? satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.’ (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, No. 6469).

 

6. Al Qur’an disampaikan secara mutawatir

Al Qur’an disampaikan secara mutawatir (diriwayatkan banyak orang) sehingga terpelihara keasliannya.

  ?????? ?????? ?????????? ????????? ???????? ???? ????????????

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Al Hijr:9)

—————————————————————————

Faedah kajian bersama Ustadzah Azizah Ummu Yasir di Masjid Agung Syuhada, 13 Dzulhijjah 1436 H / 27-09-2015

Artikel muslimah.or.id

Derajat Hadits Puasa Tanggal 11 Muharram

Hadits lemah: “Puasalah pada hari ‘Asyuraa, dan berbedalah dengan orang-orang Yahudi, oleh karena itu puasalah satu hari sebelumnya dan satu hari sesudahnya”

????????? ?????? ???????????? ???????????? ?????? ?????????? ? ????????? ???????? ?????? ?? ???????? ???????.

(????. ????? ????(?/???) : ??? ???? : ??? ??? ???? ???? ?? ???? ?? ??? ?? ???? ?? ??? ??? ???? ??? : ??? ???? ???? ??? ???? ???? ? ??? : ?????.)

Artinya : Puasalah pada hari ‘Asyuraa (10 Muharram), dan berbedalah dengan orang-orang Yahudi, oleh karena itu puasalah satu hari sebelumnya (9 Muharram) dan satu hari sesudahnya (11 Muharram).

Dha’if. Yakni dengan tambahan lafadz “satu hari sesudahnya 11 Muharram” munkar.

Dikeluarkan oleh Imam Ahmad di musnadnya (1/241) : Berkata Husyaim: Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abi Laila, dari Dawud bin Ali, dan bapaknya (yaitu Ali bin Abdullah bin Abbas), dari kakeknya yaitu Ibnu Abbas, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: (seperti di atas).

Saya berkata: Sanad hadis ini dla’if, Dawud bin Ali telah diterangkan di Taqrib (1/233): “Maqbul!”. Maksudnya, maqbul apabila ia mempunyai mutabi’ (rawi penguat). Jika tidak ada mutabi’-nya maka riwayatnya menjadi lemah/dha’if sebagaimana telah dijelaskan sendiri oleh Al Hafidz Ibnu Hajar di muqaddimah Taqribnya (1/5) apa yang dimaksud dengan istilah “maqbul” menurut beliau.

Dan sepanjang pemeriksaan saya, memang tidak ada yang meriwayatkan hadis di atas dengan tambahan “satu hari sesudahnya” (yaitu sunah puasa pada tanggal 11 Muharram) selain Dawud bin Ali yang menyendiri dalam periwayatannya (tidak terdapat mutabi’nya). Dengan demikian -menurut takhrij kami- tambahan di atas dla’if. Wallahu a’lam.

Perhatian!

Hadis di atas menyatakan –dan biasa dijadikan sebagai dalil– sunah puasa pada tanggal 11 Muharram. Akan tetapi karena riwayatnya dla’if , maka tidak sunah lagi mengamalkannya bahkan hukumnya menjadi bid’ah. Yang sunah menurut hadis-hadis yang shahih ialah:

  1. Puasa pada hari ‘Asyura (tanggal 10 Muharram), riwayat Bukhari (2/250) dan Muslim 3/146-151.
  2. Atau puasa tanggal 9 Muharram (Riwayat Muslim 3/151).
  3. Atau puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram.

——————————————————————

Diketik ulang dari buku Hadits-hadits Dla’if dan Maudlu’ karya Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat –hafizhahullah– hal. 59

Artikel muslimah.or.id

Hadits-Hadits Lemah dan Palsu Seputar Anak

Kami akan menyebutkan tiga contoh hadits yang popular dinisbatkan atas Nabi kita Muhammad ? yang mulia, padahal ternyata bukan

Masalah ini dibahas agar tidak terjerumus dalam ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang-orang yang mendustakan beliau,

???? ?????? ??????? ???????????? ??????????????? ?????????? ???? ????????

Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia bersiap-siap (mendapat) tempat duduknya di neraka.” (HR. al-Bukhari no. 1209).

Kami akan menyebutkan tiga* contoh hadits yang popular dinisbatkan atas Nabi kita Muhammad ? yang mulia, padahal ternyata bukan. Oleh karenanya, hendaknya hal ini menjadi perhatian dan kewaspadaan bagi kita semua.

Adzan Saat Bayi Lahir

???? ?????? ???? ??????????, ????????? ??? ???????? ?????????? ????????? ??? ???????? ??????????, ???? ????????? ????? ????????????

Barangsiapa yang dikaruniai seorang bayi, lalu dia adzani di telinga bagian kanannya dan iqamat di telinga bagian kirinya, maka dia tidak akan ditimpa gangguan jin.

MAUDHU’. Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Syu’aibul Iman (VI/390), Abu Ya’la (no. 6780), Ibnu Sunni dalam ‘Amalul Yaum wa Lailah (no. 623). Dari jalan Yahya bin al-Ala’ dari Marwan bin Salim dari Thalhah bin ‘Ubaidillah dari Husain bin ‘Ali.

Sanad hadits ini maudhu’ atau palsu disebabkan Yahya bil al-Ala’ dan Marwan bin Salim adalah dua rawi yang memalsukan hadits. [1]

Nama yang Paling Dicintai

??????? ???????????? ????? ??????? ??? ??????? ? ??? ???????

Nama yang paling dicintai oleh Allah adalah nama yang dihambakan dan dipuji.

TIDAK ADA ASALNYA. Sebagaimana ditegaskan oleh as-Suyuthi dan sebagainya. Lihat Kasyful Khafa’ (I/390, 50).

Lafazh yang benar adalah sebagai berikut:

??????? ??????????? ????? ??????? ?????? ??????? ?? ?????? ??????????

Sesungguhnya sebaik-baik nama kalian di sisi Allah adalah ‘Abdullah dan ‘Abdurrahman.[2]

Faedah: Ibnu Hazm rahimahullah menukil kesepakatan ulama tentang haramnya setiap nama yang dihambakan kepada selain Allah seperti ‘Abdul ‘Uzza dan ‘Abdul Ka’bah. Pendapat ini disetujui oleh al-‘Allamah Ibnul Qayyim dalam Tuhfatul Maudud (hal. 37).

Dengan demikian, maka tidak halal nama-nama seperti ‘Abdu ‘Ali dan ‘Abdul Husain sebagaimana popular dalam kelompok Syi’ah, juga ‘Abdu Nabi atau ‘Abdu Rasul sebagaimana dilakukan oleh sebagian Ahlus Sunnah yang awam. [3]

Pahala Anak untuk Orang Tuanya

????? ????????? ?????????? ????????????? ???? ???????????

Pahala ibadah anak kecil itu untuk kedua orang tuanya atau salah satunya.

MAUDHU. Ibnu Muflih dalam al-Furu’ (I/291) menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya dengan sanad yang lemah dari Anas secara marfu’. Dan disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam al-Maudhu’at. [4] Tetapi kami belum mendapatkannya dalam Musnad Ahmad maupun al-Maudhu’at. Wallahu a’lam.

Faedah: As-Sakhwi berkata, “Anak kecil diberi pahala atas amal shalih mereka sebagaimana pendapat mayoritas ulama. An-Nawawi menceritakan dalam Syarh Muslim dari Malik, Syafi’i, Ahmad dan mayoritas ulama.”

Hal ini diperkuat dengan hadits bahwa ada seorang wanita yang mengangkat anak kecilnya kepada Nabi, seraya mengatakan: “Apakah anak ini mendapat pahala haji?” Nabi ? bersabda: “Ya, dan untukmu juga pahala.” [5] Yakni, anak tersebut mendapat pahala haji tetapi itu hanya sunnah baginya, sehingga dia belum gugur kewajiban haji apabila telah dewasa.

Adapun dosa anak kecil, maka tidak dicatat, berdasarkan hadits:

Diangkat pena dari tiga golongan, orang gila sehingga sadar, orang tidur hingga bangun, dan anak kecil hingga baligh.

Kesimpulannya, anak kecil dicatat amal kebaikannya tetapi tidak dicatat amal jeleknya.[6]

Allahu a’lam.

***

Diketik ulang dengan sedikit penyesuaian bahasa oleh Tim Muslimah.Or.Id dari buku “Bekal Menanti si Buah Hati” karya Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi.

*) Pada naskah aslinya terdapat empat hadits, untuk lebih lengkapnya silahkan langsung merujuk ke buku yang telah kami sebutkan di atas.

Catatan kaki

[1] Silsilah adh-Dha’ifah (no. 321). Dan lihat kembali bahasan dalam buku “Bekal Menanti si Buah Hati” karya Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi bahasan ‘Mengadzani Bayi, Sunnahkah?

[2] HR. Muslim (no. 2132)

[3] Lihat Silsilah al-Ahaadits adh-Dha’iifah (no. 411)

[4] Al-Muntaqa min Faraidh al-Fawaid (hal. 91) Ibnu ‘Utsaimin dan at-Tuhfah al-Karimah (hal. 99) Ibnu Baaz

[5] HR. Muslim (no. 1336)

[6] Al-Ajwibah al-Mardhiyyah (II/766-767)

——————————-

Artikel muslimah.or.id

Meninggalkan Pakaian Mewah Karena Tawadhu

Hadits keutamaan orang yang meninggalkan (menjauhkan diri dari) suatu pakaian (yang mewah) dalam rangka tawadhu’ (rendah hati) karena Allah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

?? ???? ??????? ???????? ???? ??? ?????? ???? ? ???? ????? ???? ???????? ??? ????? ???????? ??? ??????????? ??? ???? ?????? ???????? ???? ???????????

Barangsiapa yang meninggalkan (menjauhkan diri dari) suatu pakaian (yang mewah) dalam rangka tawadhu’ (rendah hati) karena Allah, padahal dia mampu (untuk membelinya / memakainya), maka pada hari kiamat nanti Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluq, lalu dia dipersilahkan untuk memilih perhiasan / pakaian (yang diberikan kepada) orang beriman, yang mana saja yang ingin dia pakai” (HR. At Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam “Shahih Al-Jami’” 6145).

Fawaid Hadits

  • Hadits ini tidak menunjukkan tercelanya memakai pakaian mewah, namun hadits ini memberi motivasi untuk zuhud & tawadhu‘ (rendah hati).
  • Meninggalkan pakaian mewah bukan karena tak mampu, namun karena tawadhu‘.
  • Jika meninggalkan pakaian mewah yang mampu dia beli, namun bukan dalam rangka tawadhu‘, maka tidak ada keutamaannya.
  • Meninggalkan pakaian mewah bukan berarti memakai pakaian compang-camping, namun maksudnya adalah “sederhana” (sedang-sedang saja) dalam berpakaian.

Wallahu a’lam.

Disarikan dari:

***

Penyusun: Ustadzah Arfah Ummu Faynan, Lc.

Artikel Muslimah.or.id

Diantara Sifat-Sifat Al-Qur’an

Al-Qur’an, Kalamullah, memiliki beberapa sifat yang teramat agung. Adanya banyak sifat dan nama bagi Al-Quran, menunjukkan betapa mulianya kitab Allah ini

Saudariku sekalian yang semoga senantiasa dirahmati Allah Ta’ala,

Al-Qur’an, Kalamullah, memiliki beberapa sifat yang teramat agung. Adanya banyak sifat dan nama bagi Al-Quran, menunjukkan betapa mulianya kitab Allah ini. Dan kita bisa semakin mencintai sesuatu, ketika kita mengenal sifat-sifatnya. Karena itu, untuk menanamkan rasa cinta kita kepada Al-Quran, selayaknya kita mengenal beberapa sifatnya.

Berikut diantara sifat-sifat itu,

Al-Quran adalah Ash-Shirath Al-Mustaqim (jalan lurus)

Yakni, Al-Qur’an adalah jalan lurus yang mengantarkan orang yang senantiasa membaca dan mengamalkannya kepada surga yang penuh kenikmatan. Allah Ta’ala berfirman,

??????? ?????? ???????? ???????????? ?????????????

Dan sungguh, inilah jalanKu yang lurus, maka ikutilah!. (QS. Al-An’am: 153).

Al-Quran adalah AlHablul Matin

Yakni, Al-Qur’an adalah tali yang sangat kokoh, barang siapa yang berpegang teguh dengannya dan melaziminya, maka ia akan berhasil dan ditunjukkan kepada jalan yang lurus. Allah Ta’ala berfirman,

????????????? ???????? ????? ????????

Maka berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah. (QS. Ali ‘Imran: 103).

Al-Quran adalah Al-Mizan

Yakni, Al-Qur’an merupakan timbangan, yang merupakan pemutus dan sebagai tempat mengajukan hukum. Allah Ta’ala berfirman,

????? ????????????? ??? ?????? ?????????? ????? ????? ????????????

Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul. (QS. An Nisa’: 59).

“Kembali kepada Allah” maknanya adalah kembali kepada Al-Qur’an, sedangkan “kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” adalah kembali kepada As-Sunnah.

Al-Quran adalah Al‘Urwatul Wutsqa

Yakni, Al-Qur’an adalah tali yang sangat kuat. Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,

??? ????????? ??? ???????? ??? ?????????? ????????? ???? ???????? ????? ???????? ????????????? ????????? ??????? ?????? ??????????? ????????????? ??????????? ??? ????????? ????? ??????? ??????? ???????

Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat, yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 256).

Al-Quran adalah An-Nural Mubin

Yakni, Al-Qur’an merupakan kitab yang diturunkan sebagai cahaya yang terang benderang. Al-Qur’an disifati sebagai cahaya, yakni cahaya yang terang dan sangat jelas. Sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

??? ???????? ???????? ???? ???????? ????????? ???? ?????????? ???????????? ?????????? ?????? ????????

Wahai manusia! Sesungguhnya telah sampai kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu (Muhammad dengan mukjizatnya), dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang. (QS. An-Nisa’: 174).

Dan sebagaimana pula dalam firman Allah Jalla wa ‘Ala,

??????????? ??????????? ???????? ?????? ????? ????????? ??? ????? ??????? ??? ?????????? ????? ??????????? ???????? ??????????? ?????? ???????? ???? ??? ???????? ???? ?????????? ????????? ????????? ?????? ??????? ????????????

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (AlQur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidak mengetahui apakah kitab (Al-Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al-Qur’an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki diantara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus. (QS. Asy-Syura: 52).

Al-Quran adalah AlHuda

Yakni, Al-Qur’an merupakan petunjuk. Allah Ta’ala berfirman,

????? ?????? ?????????? ??????? ???????? ???? ???????? ??????????? ?????????????? ????????? ??????????? ????????????? ????? ?????? ??????? ????????

Sungguh, AlQur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar. (QS. Al-Isra’: 9).

Dan Allah Jalla wa ‘Ala juga berfirman,

???????????? ???????? ?????????? ?????????? ???????? ?????? ??????? ?????????? ?????????? ???????????????

Dan Kami turunkan AlKitab (AlQur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim). (QS. An-Nahl: 89).

Al-Quran adalah AsySyifa’

Yakni, Al-Qur’an adalah penyembuh, dimana Al-Qur’an merupakan obat bagi berbagai penyakit hati. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

??? ???????? ???????? ???? ?????????? ??????????? ???? ?????????? ????????? ?????? ??? ?????????? ??????? ?????????? ????????????????

Wahai manusia! Sungguh telah dating kepadamu pelajaran (AlQur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman. (QS. Yunus: 57).

Demikian pula, Allah Jalla wa ‘Ala berfirman di ayat lainnya,

?????? ??????????? ???????? ???????????? ?????????? ??????? ????????? ???????? ????????????? ??????????? ???? ???? ?????????? ??????? ????? ?????????

Dan sekiranya AlQur’an Kami jadikan sebagai bacaan dalam bahasa selain bahasa Arab niscaya mereka mengatakan, ‘Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya? Apakah patut (AlQur’an) dalam bahasa selain bahasa Arab sedang (Rasul) orang Arab? Katakanlah, AlQur’an adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman. (QS. Fussilat: 44).

Namun berkah Al-Qur’an sebagai obat dan penyembuh berbagai macam penyakit hati hanya bisa diperoleh oleh mereka yang mengimani serta mengamalkan hukum-hukum Al-Qur’an, bukan mereka yang membacanya namun lalai darinya.

Disamping itu, Al-Qur’an juga merupakan obat bagi penyakit-penyakit fisik maupun penyakit akibat gangguan jin, sebagaimana yang telah kita ketahui melalui hadits-hadits tentang ruqyah.

Tentunya sifat-sifat ini tidaklah kita ketahui sebagai nama belaka. Namun di dalamnya terkandung pelajaran dan motivasi bagi kita untuk terus membaca, mempelajari, mengimani, dan mengamalkan isi Al-Qur’an sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, agar kita dapat memperoleh buah dari sifat-sifat Al-Qur’an tersebut.

Maka, maukah kita mengambil pelajaran?

—–

Artikel muslimah.or.id

Penyusun: Ummu Qonita Ika Kartika

Pemuraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

 

Maraji’:

  • Al Qur’an dan Terjemahnya. Departemen Agama RI.
  • AlWashiyyah bi Kitaabillaahi ‘Azza wa Jalla. SyaikhAbdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr. Cet. I. 1433 H.

 

Benarkah Seseorang Mendapat Adzab Kubur Karena Tangisan Keluarganya?

Zahir hadits menunjukkan bahwa setiap mayit diadzab dengan tangan keluarganya, namun bukan adzab berupa hukuman, karena ia dalam hal ini tidak melakukan suatu dosa sehingga patut dihukum

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Soal: 

Benarkah mayit mendapatkan adzab kubur karena tangisan keluarganya?

Jawab:

Itu benar, mayit mendapatkan adzab kubur karena tangisan keluarganya, karena hal ini shahih dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam[1]. Namun para ulama rahimahumullah berbeda pendapat mengenai maksud hadits tersebut.

  • Sebagian ulama memaknai bahwa yang dimaksud hadits adalah orang kafir.
  • Sebagian ulama juga memaknai bahwa maksudnya adalah orang yang mewasiatkan kepada keluarganya untuk menangisinya setelah wafat.
  • Sebagian ulama juga memaknai bahwa maksudnya adalah seorang yang mengetahui bahwa keluarganya akan meratapinya setelah wafatnya, namun ia tidak melarangnya dari perbuatan tersebut semasa hidupnya karena ia memang ridha untuk diratapi. Dan diamnya ia merupakan pertanya dari keridhaannya tersebut. Dan keridhaan terhadap perbuatan munkar itu semisal dengan perbuatan kemungkaran.

Inilah tiga tafsiran para ulama mengenai hadits ini.

Namun (menurutku) semua tafsiran ini tidak sesuai dengan zahir hadits. Karena dalam hadits tidak ada makna demikian. Zahir hadits menunjukkan bahwa setiap mayit diadzab dengan tangan keluarganya, namun bukan adzab berupa hukuman, karena ia dalam hal ini tidak melakukan suatu dosa sehingga patut dihukum. Namun adzab yang dirasakan merupakan penderitaan dan kesedihan hati karena tangisan tersebut. Penderitaan dan kesedihan hati tidak melazimkan hukuman.

Tidakkah engkau lihat sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tentang safar:

??? ???? ?? ??????

ia adalah sepotong adzab

Padahal safar bukanlah hukuman dan bukan pula adzab. Namun yang dimaksud adalah kegalauan, kesusahan dan kegelisahan jiwa.

Demikian juga adzab bagi mayit di kuburnya dalam hal ini termasuk jenis tersebut. Yaitu, mayit merasakan penderitaan dan kesusahan, walaupun itu bukan merupakan hukuman atas dosa yang ia lakukan.

***

Catatan kaki

[1] Yang dimaksud beliau adalah hadits:

???? ???????? ???????? ?? ????? ?????? ????? ????

sesungguhnya mayit diadzab di dalam kuburnya karena tangisan keluarganya kepadanya” (HR. Bukhari – Muslim).

___

Sumber: http://islamancient.com/play.php?catsmktba=5129

Penerjemah: Yulian Purnama

Artikel Muslimah.or.id

Setan Dibelenggu Di Bulan Ramadhan, Mengapa Masih Ada maksiat?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du, Suasana maksiat masih sangat terasa di bulan ramadhan. Tidak hanya di lingkungan, termasuk diri kita sendiri, untuk menghindari maksiat, terasa masih sangat susah. Sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa ketika datang Ramadhan, setan-setan dibelenggu. Apakah berarti hadis ini sudah tidak berlaku? Atau hadisnya tidak […]

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Suasana maksiat masih sangat terasa di bulan ramadhan. Tidak hanya di lingkungan, termasuk diri kita sendiri, untuk menghindari maksiat, terasa masih sangat susah. Sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa ketika datang Ramadhan, setan-setan dibelenggu.

Apakah berarti hadis ini sudah tidak berlaku?

Atau hadisnya tidak benar?

Tentu saja, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bohong. Beliau as-Shadiq (orang yang benar) dan al-Mashduq (wajib dibenarkan).

Hadisnya juga shahih. Riwayat Bukhari Muslim.

 

Di mana sisi masalahnya?

Ketika kita menghadapi hadis shahih, namun ada hal yang mengganjal sehingga masih kita pertanyakan, maka kedepankan pernyataan ini,

???? ????? ???? ????

Salahkan akalmu… salahkan dirimu

 

Doktrin diri kita, al-Quran itu benar, hadis itu benar, Rasul itu benar, hadis itu tidak ada cacatnya. Selanjutnya, ini semua karena keterbatasan saya dalam memahaminya. Ini karena ketidaktahuan saya.

Husnudzan (berprasangka baik-red) kepada hadis, dan suudzan (berprasangka buruk-red) kepada  diri sendiri.

 

Sebelumnya, kita simak hadisnya:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

????? ????? ????????? ????????? ????????? ?????????? ??????????? ????????? ???????? ??????????? ?????????????

“Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079).

 

Dalam lafazh lain disebutkan,

????? ????? ????????? ????????? ????????? ??????????? ??????????? ????????? ????????? ???????????? ?????????????

“Jika masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu rahmat dibukan, pintu-pintu Jahannam ditutup dan setan-setan pun diikat dengan rantai.” (HR. Bukhari no. 3277 dan Muslim no. 1079).

 

Selanjutnya, kita kembali ke pertanyaan di atas.

Mengapa masih ada maksiat, jika setan telah dibelenggu?

 

Ada beberapa pendekatan yang disampaikan ulama dalam memahami kasus ini,

Pertama, sumber maksiat tidak hanya setan. Karena hawa nafsu manusia di sana berperan.

Keterangan disampaikan Imam as-Sindi dalam Hasyiyah-nya (catatan) untuk sunan an-Nasai. Beliau mengatakan,

??? ?????? ???? ???????? ?? ???? ???? ??????? ????? ????? ????????? ??? ???? ?? ???? ?? ????? ?????? ?????? ???? ???? ??? ????? ????? ???????? ?????? ????? ??? ?? ??? ????? ????? ???? ??????? ?? ???? ??? ?? ??? ????? ????? ????? ????

Hadis ‘setan dibelenggu’ tidak berarti meniadakan segala bentuk maksiat. Karena bisa saja maksiat itu muncul disebabkan pengaruh jiwa yang buruk dan jahat. Dan timbulnya maksiat, tidak selalu berasal dari setan. Jika semua berasal dari setan, berarti ada setan yang mengganggu setan (setannya setan), dan seterusnya bersambung. Sementara kita tahu, tidak ada setan yang mendahului maksiat Iblis. Sehingga maksiat Iblis murni dari dirinya. Allahu a’lam.

(Hasyiyah Sunan an-Nasai, as-Sindi, 4/126).

 

Kedua, setan dibelenggu tapi dia masih bisa mengganggu. Hanya saja, dia tidak sebebas ketika dilepas. Karena makhluk yang dibelenggu hanya terikat bagian tangan dan lehernya. Sementara kakinya, lidahnya masih bisa berkarya.

Kita simak keterangan Imam al-Baji – ulama Malikiyah – dalam Syarh Muwatha’,

 

???? ????? ???????? ????? ?? ???? ?? ???? ???? ?????? ?????? ?? ??? ??????? ???? ?? ?????? ??? ?? ????????? ???? ?? ??? ???? ??? ?????? ?????? ????? ??? ?????? ?? ??????? ????? ??? ???? ????? ??????? ?????? ????? ?? ?????

 

Sabda beliau, ‘Setan dibelenggu’ bisa dipahami bahwa itu dibelenggu secara hakiki. Sehingga dia terhalangi untuk melakukan beberapa perbuatan yang tidak mampu dia lakukan kecuali dalam kondisi bebas. Dan hadis ini bukan dalil bahwa setan terhalangi untuk mengganggu sama sekali.  Karena orang yang dibelenggu, dia hanya terikat dari leher sampai tangan. Dia masih bisa bicara, membisikkan ide maksiat, atau banyak gangguan lainnya.

 

Ketiga, sejatinya setan tidak dibelenggu secara hakiki. Sifatnya hanya kiasan. Mengingat keberkahan bulan ramadhan, dan banyaknya ampunan Allah untuk para hamba-Nya selama ramadhan. Sehingga setan seperti terbelenggu.

Masih kita lanjutkan keterangan al-Baji,

?????? ?? ??? ????? ?????? ????? ??????? ??? ?????? ?????? ???? ???????? ??? ????????? ??? ????? ?? ????? ???????? ?? ???…

Bisa juga kita maknai, bahwa mengingat bulan ini bulan pernuh berkah, penuh pahala amal, banyak ampunan dosa, menyebab setan seperti terbelenggu selama ramadhan. Karena upaya dia menggoda tidak berefek, dan upaya dia menyesatkan tidak membahayakan manusia… (al-Muntaqa Syarh al-Muwatha’, al-Baji, 2/75)

 

Keempat, yang dibelenggu tidak semua setan. Tapi hanya setan kelas kakap (maradatul jin). Sementara setan-setan lainnya masih bisa bebas. Terjadi maksiat, disebabkan bisikan setan-setan kelas biasa.

Dalam fatwa  syabakah islamiyah dinyatakan,

??? ??? ??? ??? ????? ??? ?? ????? ?????? ?? ???????? ??????? ???? ??? ??? ??? ??????? ?????? ?? ?? ???? ?? ????????

Sebagian ulama berpendapat bahwa setan yang dibelenggu hanyalah setan kelas kakap. Berdasarkan pendapat ini, adanya maksiat, disebabkan bisikan setan yang belum dibelenggu. (Fatwa  Syabakah Islamiyah, no. 40990).

 

Yang lebin penting adalah kita berupaya untuk menghindari maksiat sebisa yang kita lakukan. Agar puasa kita semakin berkualitas.

 

Allahu a’lam

 

———————————–

Artikel muslimah.or.id

Nama-nama Surat Al Fatihah

Telah jelas berdasarkan keterangan para Ulama bahwa Al Fatihah memiliki banyak nama yang hal tersebut menunjukkan keagungan surat ini di dalam Islam. Namun para Ulama berbeda pendapat mengenai berapa sebenarnya jumlah nama dari surat Al Fatihah

Tulisan ini merupakan lanjutan dari dua tulisan sebelumnya mengenai nama-nama Al Quran dan nama-nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jumlah Nama Surat Al Fatihah

Telah jelas berdasarkan keterangan para Ulama bahwa Al Fatihah memiliki banyak nama yang hal tersebut menunjukkan keagungan surat ini di dalam Islam. Namun para Ulama berbeda pendapat mengenai berapa sebenarnya jumlah nama dari surat Al Fatihah. Al Imam As Suyuthi dalam karyanya Al Itqon fi ‘Ulumil Qur’an menyebutkan bahwa jumlah nama dari Al Fatihah adalah berkisar pada dua puluhan nama. Sedangkan Al Fairuz Abadi dalam kitabnya Basoir Dzawit Tamyiz fi Latoifil Kitabil ‘Aziz berpendapat bahwa al-Fatihah memiliki hampir tiga puluh nama.

Berikut akan dibawakan di antara nama-nama tersebut beserta penjelasan ringkasnya.

Nama-Nama yang Disebutkan Secara Jelas Dalam Nash

1. Al Fatihah/Fatihatul Kitab/Fatihatul Quran

Al Fatihah artinya adalah pembukaan, sehingga Fatihatul Kitab bermakna pembukaan dari kitab dan Fatihatul Quran bermakna pembukaan dari Al Quran. Nama ini diambil dari sebuah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

??? ??????? ?????? ???? ???????? ??????????? ??????????

Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab.(HR. Bukhari dan Muslim dari Ubadah bin Shomit).

Perlu diperhatikan bahwa surat ini dinamakan sebagai pembukaan jika dilihat dari sisi penyusunan Al Quran dalam bentuk tertulis, bukan dari sisi urutan penurunan ayat-ayatnya. Berdasarkan pendapat yang lebih tepat, surat yang pertama turun adalah surat Al Alaq.

2. Ummul Quran dan Ummul Kitab

Ummul Quran maknanya adalah induk atau inti dari Al Quran, sedangkan Ummul Kitab maknanya adalah induk atau inti dari kitab. Dinamakan demikian karena inti dari kandungan Al Quran juga terdapat di dalam Al Fatihah. Nama ini bersumber dari sebuah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

????????? ??????? ????? ?????????? ??????? ?????????? ??????????? ???????????

(Surat) alhamdulillah (yaitu Al Fatihah) adalah ummul qur’an, ummul kitab dan as sab’ul matsani.” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah)

3. As Sab’ul Matsani

Arti dari As Sab’ul Matsani adalah tujuh (ayat) yang diulang-ulang. Nama ini selain disebutkan dalam hadis yang telah disebutkan di atas, juga disebutkan dalam ayat berikut (yang artinya):

Dan sungguh Kami telah memberikan kepadamu tujuh (ayat) yang berulang-ulang dan Al Qur’an yang agung” (QS. Al Hijr : 87).

Di antara penjelasan kenapa disebut sebagai tujuh ayat yang diulang-ulang adalah karena surat Al Fatihah dibaca diulang-ulang di setiap rakaat solat.

4. Al Quran Al Azhim

Makna Al Azhim adalah Yang Agung. Nama ini bersumber dari surat Al Hijr yang telah disebutkan di atas.

Dan sungguh Kami telah memberikan kepadamu tujuh (ayat) yang (dibaca) berulang-ulang dan Al Qur’an yang agung” (QS. Al Hijr : 87).

Berdasarkan penjelasan Ibnu Katsir di dalam tafsirnya, yang dimaksud dengan Al Quran Al Azhim dalam ayat tersebut adalah surat Al Fatihah. Penjelasan ini juga diperkuat oleh sebuah hadis dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

????????? ??????? ????? ????????????? ???? ????????? ??????????? ???????????? ?????????? ??????? ??????????

Alhamdulillahirabbil ‘alamin (surat al-Fatihah) adalah as sab’ul matsani dan al-Qur’an yang agung yang dikaruniakan padaku.” (HR. Bukhari dari Abu Sa’id bin al Mu’alla).

5. Ash Sholah

Nama ini diambil dari sebuah hadits Qudsi, dimana Allah berfirman:

Aku membagi Ash Sholah antara aku dan hambaku menjadi dua bagian. Apabila seorang hamba berkata:

????? ??? ?? ???????

Allah menjawab : ‘hambaku memujiku’. Dan apabila seorang hamba berkata:

?????? ??????

Allah menjawab: ‘Hambaku menyanjungku’. Dan apabila seorang hamba berkata:

??? ??? ?????

Allah menjawab : ‘hambaku mengagungkanku’. Dan apabila seorang hamba berkata:

???? ???? ? ???? ??????

Allah berkata: ’ini adalah dua bagian antara aku dan hambaku. Dan untuk hambaku apa yang dia inginkan’” (HR. Muslim (390) dari Abu Hurairoh)

Yang dimaksud dengan Ash Sholah dalam hadis tersebut adalah Al Fatihah.

6. Ar Ruqyah

Dinamakan dengan Ar Ruqyah karena dikisahkan dalam sebuah hadis sahih bahwa para sahabat pernah diminta untuk meruqyah seseorang yang tersengat kalajengking. Para sahabat kemudian membacakan surat Al Fatihah kepada orang tadi dan dengan serta merta diberi kesembuhan oleh Allah. Ketika para sahabat menceritakan kisah tersebut kepada Nabi shallallaahu’alaihi was sallam, beliau pun bersabda: “Tahukah engkau bahwa (Al Fatihah) itu adalah Ruqyah?” (HR. Bukhori (2276) dan Muslim (2201) dari Abu Sa’id Al Khudri).

7. Asy Syifa

Nama Asy Syifa bermakna penawar. Nama ini diambil dari sebuah hadis yang diriwayatkan di dalam sunan Ad Darimi dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri secara marfu’, dikatakan:

????? ?????? ???? ?? ?? ??

Al Fatihah sebagai syifa (penawar) dari segala racun” (HR. At Tirmidzi no.2878 dan Al Hakim dalam Al Mustadrok 2/259).

Nama lainnya yang Disebutkan oleh Para Ulama

1. Asasul Quran

Asasul Quran bermakna asas atau pondasi dari Al Quran. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh As Sya’bi dari sahabat Ibnu Abbas rodhiallohu ‘anhuma bahwasanya Al Fatihah adalah Asasul Quran.

2. Al Waqiyah

Nama ini disebutkan oleh Imam Sufyan bin ‘Uyainah sebagaimana yang disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir di dalam tafsirnya. Al Waqiyah bermakna pelindung.

3. Al Kafiyah

Al Kafiyah bermakna sesuatu yang mencukupi. Nama ini disebutkan oleh sebagian ulama berasal dari sebuah hadis mursal:

???? ????????? ?????? ??? ???????? ????? ???????? ???? ??????

“Ummul Quran lah yang menjadi pengganti dari yang selainnya, sedangkan yang lainnya tidak dapat menggantikannya” (HR. Ahmad 2/284, Muslim 780).

4. Nama-nama lainnya

Selain itu terdapat beberapa nama lainnya yang disebutkan oleh Fairuz Abadi dalam karyanya Basha’ir Dzawit Tamyiz fi Lathaifil Kitabil ‘Aziz tanpa beliau menyebutkan dalil yang melandasinya, diantaranya: Al Hamdu (Pujian), Asy Syafiah, Al Wafiyah (Yang Mencukupi), Surotuts Tsana’ (Surat Sanjungan).

Al Imam As Suyuthi dalam karyanya Al Itqon fi ‘Ulumil Qur’an juga menyebutkan nama lainnya tanpa menyebutkan nash yang jelas, diantaranya: Al Kunz (Perbendaharaan), An Nur (Cahaya), Surotus Syukr (Surat Sukur).

***

Penulis: Muhammad Rezki Hr.

Artikel Muslimah.Or.Id

Meninggalkan Perkara Yang Tidak Bermanfaat

Meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat termasuk tanda baiknya Islam seseorang. Kebaikan Islam seseorang akan memberikan banyak kebaikan, dilipatgandakan pahalanya, dan dihapus dosa-dosanya

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

( ???? ?????? ????????? ????????? ???????? ??? ??? ?????????? )

“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara-perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi No. 2318 dan yang lainnya)

Kedudukan Hadits

Imam Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata :

(??? ?????? ??? ???? ?? ???? ????? )

“Hadits ini adalah landasan yang penting dalam masalah adab ”

Imam Abu ‘Amr Ibnu Shalah menceritakan perkataan Imam Abu Muhammad Ibn Abi Zaid, seorang Imam mazhab Maliki di zamannya, Beliau mengatakan, “Inti dan kunci dari adab yang baik terdapat dalam empat hadits Nabi berikut :

Pertama, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

( ???? ????? ?????? ?????? ??????? ????? ???????? ????? ?? ????????? )

Barangsiapa yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berkata yang baik atau diam” (H.R Bukhari dan Muslim)

Kedua, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

( ???? ?????? ?????? ??????? ??????? ?? ?? ????????? )

“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara-perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (H.R Tirmidzi, hasan)

Ketiga, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

( ?? ????????)

Sabda Nabi kepada seorang yang meminta wasiat kepada beliau, kemudian beliau memberi wasiat singkat, “Jangan marah” Beliau sampai mengulanginya sebanyak tiga kali. (H.R Bukhari)

Keempat, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

( ?????????? ?????? ????? ?? ?????? ????? )

Seorang mukmin itu menginginkan untuk saudaranya apa yang dia inginkan untuk dirinya sendiri” (H.R Bukhari dan Muslim). (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam)

Faidah Hadits

Hadits di atas mengandung beberapa faidah :

  1. Hadist ini termasuk di antara jawaami’ul kalim, yakni suatu kalimat yang ringkas namun padat makna.
  2. Hadits ini termasuk pokok dalam masalah adab Islami.
  3. Termasuk ciri baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat. Kata min dalam hadits di atas adalah min tab’idhiyyah yang menunjukkan makna sebagian. Artinya, mengamalkan hadits ini termasuk di antara ciri baiknya Islam seseorang, namun perkara-perkara yang menunjukkan kebaikan Islam seseorang tidak terbatas dengan mengamalkan hadits ini saja. (Lihat Syarh Arbain An Nawawiyyah li Syaikh Shalih Alu Syaikh)
  4. Perkara yang tidak bermanfaat meliputi perbuatan yang haram, perkara yang makruh, hal-hal yang mutasyabihat, serta berlebih-lebihan dalam perkara mubah yang tidak dibutuhkan. (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam).
  5. Meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat termasuk tanda baiknya Islam seseorang. Kebaikan Islam seseorang akan memberikan banyak kebaikan, dilipatgandakan pahalanya, dan dihapus dosa-dosanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    ??? ???????? ?????????? ?????????? ? ??????? ???????? ??????????? ???????? ???????? ???????????? ????? ?????? ??????? ?????? ? ??????? ????????? ??????????? ???????? ???? ??????????? ?????? ??????? ??????? ????? ???????

    “Jika Islam salah seorang dari kalian baik, maka setiap amal kebaikan yang ia lakukan akan dicatat (pahalanya) sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat dan setiap kejelekan yang dia lakukan hanya dicatat sebagai satu kejelekan. Hal ini berlaku sampai dia berjumpa dengan Allah ‘Azza wa Jalla (HR. Muslim ) (Qawaid wa Fawaid min Al Arba’in An Nawawiyah)

  6. Batasan suatu perkara yang tidak bermanfaat adalah dinilai berdasarkan tolak ukur syariat, bukan sesuai hawa nafsu. Sebagian orang keliru memahami hadits ini dengan meninggalkan perkara wajib ataupun sunnah yang dianggap tidak bermanfaat seperti meninggalkan memberi nasihat untuk orang lain dan berbuat amar ma’ruf nahi munkar. (Qawaid wa Fawaid min Al Arba’in An Nawawiyyah)
  7. Jika disebutkan Islam secara mutlak maka terkandung di dalamnya iman dan ihsan, yaitu seluruh syariat dalam agama baik yang lahir maupun yang batin. Seorang muslim berdasarkan status ke-Islamannya terbagi menjadi dua : yaitu yang baik Islamnya dan jelek Islamnya sebagaimana diisyaratkan dalam kandungan hadits di atas. Barangsiapa yang bisa melaksanakan Islam lahir dan batin maka dia seorang yang baik Islamnya. Allah Ta’ala berfirman :

    ?????? ???????? ?????? ???????? ???????? ???????? ??? ?????? ???????? ????????? ??????? ???????????? ???????? ?????????? ?????? ???????????? ????????

    Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus ? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya “ (An Nisaa’:25) ( Bahjatu Quluubil Abrar )

  8. Hadits di atas menunjukkan bahwa ke-Islaman seseorang bertingkat-tingkat, tidak sama antara satu orang dengan orang yang lain.
  9. Barangsiapa yang tidak bisa meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat menunjukkan jeleknya status keislaman orang tersebut, misalnya dengan melanggar perkara haram dan makruh baik dengan perkataan maupun perbuatan. ( Bahjatul Quluubil Abrar )
  10. Motivasi untuk melakukan perkara yang bermanfaat dan mempergunakan waktu di dalam hal-hal yang mendatangkan manfaat bagi seorang hamba di dunia dan akhirat. Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    ??????? ????? ??? ?????????? ??????????? ????????? ????? ????????

    “ Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah” (H.R Muslim)

Semoga bermanfaat. Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad.

 

Penyusun : Adika Mianoki (Almuni Ma’had Al ‘Ilmi)

Referensi :

  1. Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam karya Imam Ibnu Rajab Al Hambali.
  2. Qawaid wa Fawaid min Al Arba’in An Nawawiyyah karya Nadhim Muhammad Sulthon.
  3. Syarh Arbain An Nawawiyyah karya Syaikh Shalih bin ‘Abdil ‘Aziz Alu Syaikh.
  4. Bahjatu Quluubil Abrar wa Qurrati ‘Uyuunil Akhyaar Syarh Jawaami’il Akhbaar karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di.

Nama-Nama Al Quran

Telah banyak ulama yang mencoba mengumpulkan dan menghitung nama-nama Al Quran dalam kitab yang mereka karang. Namun demikian, tidak ada kesepakatan di antara para ulama tersebut tentang berapa sebenarnya jumlah nama dari Al Quran

Banyaknya Nama Al Quran

Di dalam Islam terdapat beberapa hal yang mulia yang memiliki banyak nama, yang nama-nama tersebut diberikan oleh Allah dan Rasulnya. Sebagaimana telah disampaikan pada pembahasan sebelumnya, selain Allah dan Nabi juga terdapat Al Quran, Al Fatihah, ibadah shalat, dan hari kiamat yang memiliki banyak nama yang bersumber dari Al Quran dan Hadis.

Al Fairuz Abadi berkata: “Ketahuilah bahwa banyaknya nama menunjukkan mulianya sang pemilik nama, atau kesempurnaannya dalam perkara tertentu. Tidakkah engkau mengetahui bahwa singa memiliki beberapa nama yang menunjukkan luar biasanya kekuatannya, hari kiamat memeiliki banyak nama menunjukkan luar biasanya kesusahan dan kesulitan pada hari itu….Maka begitu juga dengan banyaknya nama Allah yang menunjukkan kesempurnaan, kemulian, dan keagungannya. Banyakya nama Rasulullah menunjukkan mulianya kedudukannya dan tingginya derajatnya. Begitu pula banyaknya nama Al Quran yang menunjukkan keagungan dan keutamaanya.”1

Pada tulisan kali ini akan disampaikan beberapa nama dari Al Quran.

Berapa Sebenarnya Jumlah Nama Al Quran?

Telah banyak ulama yang mencoba mengumpulkan dan menghitung nama-nama Al Quran dalam kitab yang mereka karang. Namun demikian, tidak ada kesepakatan di antara para ulama tersebut tentang berapa sebenarnya jumlah nama dari Al Quran.

Imam Az Zarkasyi dalam kitabnya Al Burhan fi ‘Ulumil Qur’an mengutip pendapat Al Harali (wafat 647 H) bahwa jumlah nama Al Quran tidak lebih dari 90 nama. Imam Az Zarkasyi juga mengutip pendapat Abul Ma’ali Azizi bin ’Abdul Malik bahwa Al Quran memiliki 55 nama. Imam As Suyuthi dalam kitabnya Al Itqon fi ‘Ulumil Qur’an juga mengutip pendapat yang menyatakan bahwa nama Al Quran berjumlah 55 tersebut. Sholih bin Ibrahim al-Bulaihi dalam karyanya Al Huda wal Bayan fi Asmail Quran berpendapat bahwa Al Quran memiliki 46 nama. Sedangkan Al Fairuz Abadi dalam kitabnya Basoir Dzawit Tamyiz fi Latoifil Kitabil ‘Aziz menyebutkan bahwa Al Quran memiliki 100 nama.

Ketidaksepakatan mengenai jumlah nama Al Quran tersebut dikarenakan adanya perbedaan pendapat mengenai pengelompokkan mana yang sebenarnya merupakan nama Al Quran dan mana yang sebenarnya hanyalah sifat dari Al Quran. Sebagian ulama menolak pendapat bahwa Al Quran memiliki banyak nama hingga berjumlah puluhan dan mengatakan bahwa sebagian besar dari jumlah tersebut hanyalah sifat, bukan nama. Sebagian ulama, semisal Al Mawardi, juga berpendapat bahwa nama sebenarnya dari Al Quran hanya berjumlah lima, yaitu Al Quran, Al Kitab, Adz Zikr, Al Furqon, dan At Tanzil.

Terlepas dari berbagai pendapat mengenai berapa jumlah sebenarnya dari nama-nama Al Quran, hal yang perlu disepakati adalah bahwa nama dan sifat dari Al Quran bersifat tauqiffiyah. Artinya, nama dan sifat yang disematkan kepada Al Quran haruslah berdasarkan Al Quran dan hadis nabi, tidak dibenarkan untuk dibuat-buat sendiri.

Di Antara Nama dan Sifat Al Quran

1. Al Quran (Bacaan/Yang Mengumpulkan)

Nama ini merupakan nama yang paling utama dan digunakan oleh Allah di banyak tempat, semisal dalam dua ayat berikut (yang artinya):

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Quran kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur.” (QS. Al Insaan: 23).

Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2).

Terdapat banyak penjelasan dari para ulama mengenai makna kata Al Quran, di antaranya adalah apa yang dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Solih Al ‘Utsaimin dalam karyanya Ushul fi Tafsir. Beliau menjelaskan bahwa Al Quran merupakan mashdar (kata bentukan) dari kata kerja qoro-a yang bisa memiliki dua makna, yaitu ism maf’ul dan ism fa’il. Jika dimaknai sebagai ism maf’ul, maka arti dari Al Quran adalah sesuatu yang dibaca (bacaan). Namun jika dimaknai sebagai ism fa’il maka arti dari Al Quran adalah sesuatu yang mengumpulkan (pengumpul). Al Quran merupakan pengumpul khabar-khabar dan hukum-hukum Allah.

2. Al Kitab (Buku)

Nama Al Kitab Allah gunakan dalam awal surat Al Baqoroh (yang artinya): “Inilah Al Kitab yang tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” (QS. Al-Baqarah: 2).

3. Adz-Dzikr (Pemberi Peringatan)

Allah menyebut nama Adz Dzikr di antaranya dalam surat Al Hijr (yang artinya): “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (QS. Al Hijr: 9).

4. Al-Furqan (Pembeda)

Disebut sebagai Al Furqon (Pembeda) karena Al Quran membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Allah menyebut nama ini dalam firmanNya (yang artinya): “Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al Furqaan: 1).

5. At-Tanzil (Yang Diturunkan)

Nama ini Allah gunakan dalam firmanNya (yang artinya): “Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam” (QS. Asy Syu’ara’: 192).

6. 50 Nama lainnya

Berikut lima puluh nama lainnya dari Al Quran beserta ayat dimana Allah menggunakan nama tersebut, yang dikumpulkan oleh Abul Ma’ali Al-Uzaizi bin Abdul Malik dalam kitabnya Al Burhan:

Al Mubîn (Yang Menjelaskan; QS. Ad Dukhan: 2), Al Karîm (Yang Mulia; QS. Al Waqi’ah: 77), Al Kalâm (Perkataan; QS. At Taubah: 6), An Nûr (Cahaya; QS. An Nisa’: 174), Al Hudâ (Petunjuk; QS. Yunus: 57), Ar Rahmah (Kasih Sayang; QS. QS. Yunus: 57), Asy Syifâ’ (Obat; QS. Al Isro’: 82), Al Mau’idhah (Nasehat; QS. Yunus: 57), Al Mubârak (Yang Diberkahi; QS. Al Anbiya’: 50), Al Aliy (Yang Tinggi; QS. Az Zukhruf: 4), Al Hikmah (Himah; QS. Al Qomar: 5), Al Hakîm (Hakim; QS. Yunus: 2), Al Muhaimin (QS. Al Maidah: 48), Al Habl (Ikatan; QS. Ali Imron: 103), Ash Shirâth Mustaqîm (Jalan Yang Lurus; QS. Al An’am: 153), Al Qayyim (Bimbingan yang Lurus; QS. Al Kahfi: 3), Al Qaul (Perkataan; QS. At Thoriq: 13), Al Fashl (Yang Merinci; QS. At Thoriq: 13), An Naba’ al Adhîm (Berita Yang Besar; QS. An Naba’: 2), Ahsanal Hadîts (Perkataan Terbaik; QS. Az Zumar: 23), Al Matsany (Yang Diulang-ulang; QS. Az Zumar: 23), Al Mutasyâbih (Yang Sreupa; QS. Az Zumar: 23), Ar Ruh (Ruh; QS. Asy Syuro: 52), Al Wahyu (Wahyu; QS. Al Anbiya’: 45), Al Araby (Yang Berbahasa Arab; QS. Yusuf: 2), Al Bashâ’ir (Bukti; QS. Al A’rof: 203), Al Bayân (Penjelasan; QS. Ali Imron: 138), Al Ilmu (Ilmu; QS. Al Baqoroh: 145), Al Haq (Kebenaran; QS. Ali Imron: 62), Al Hâdi (Petunjuk; QS. Al Isro’: 9), Al ‘Ajab (Yang Menakjubkan; QS. Al Jin: 1), At Tadzkiroh (Peringatan; QS. Al Haqqoh: 48), Al Urwatul Wutsqâ (Ikatan Yang Kuat; QS. Al Baqoroh: 256), Ash Shidq (Kebenaran; QS. Az Zumar: 33), Al Adl (Keadilan; QS. Al An’am: 115), Al Amr (Perintah; QS. At Tholaq: 5), Al Munâdy (Yang Menyeru; QS. Ali Imron: 193), Al Busyrâ (Kabar Gembira; QS. Al Baqoroh: 97)), Al Majid (Yang Mulia; QS. Al Buruj: 21), Az Zabûr (Zabur; QS. Al Anbiya’: 105), Al Basyir (Pemberi Kabar Gembira; QS. Al Fushilat: 4), An Nadzîr (Pemberi Peringatan; QS. Fushilat: 4), Al Azîz (Yang Mulia; QS. Fushilat: 41), Al Balâgh (Penjelasan; QS. Ibrohim: 52), Al Qashash (Kisah-kisah; QS. Yusuf: 3), Ash Shuhûf (Lembaran-lembaran; QS. ‘Abasa: 13), Al Mukarramah (Yang Dimuliakan; QS. ‘Abasa: 13), Al Marfû’ah (Yang Ditinggikan; QS. ‘Abasa: 14), Al Muthahharah (Yang Disucikan; QS. ‘Abasa: 14).

Jika ingin mengetahui penjelasan lebih lanjut tentang makna nama-nama tersebut, silahkan merujuk ke Al Burhan fi ‘Ulumil Qur’an (1/276-281) karya Al Imam Az Zarkasyi dan Al Itqon fi ‘Ulumil Qur’an (1/146-148) karya Al Imam As Suyuthi.

7. Nama-nama Al Quran dari Hadis

Fairuz Abadi juga menyebutkan beberapa nama Al Quran yang beliau klaim berasal dari hadis-hadis Rasulullah (namun beliau tidak menyebutkan teks dan sanad dari hadis yang dimaksud), di antaranya: Hablullah Al Matin (Tali Allah yang Kuat), Syifaullah An Nafi’ (Obat Allah yang Bermanfaat), Al Mursyid, Al Mu’addil, Al Mu’tashom, Al Hadi (Petunjuk), Al ‘Ishmah, Qoshimuz Zhor, Qishmatullah, An Naba’ Al Khobar, Ad Dafi’ (Penghalang), dan Sohibul Mu’min (sahabat bagi orang yang beriman).

***

Catatan kaki

1 Dalam Basoir Dzawit Tamyiz fi Latoifil Kitabil ‘Aziz 1/88

 

Penulis: Muhammad Rezki Hr.

Artikel Muslimah.Or.Id

Hadits Lemah: Anjuran Memandang Wanita Cantik

Hadits lemah: “Memandang wajah wanita cantik dan benda yang hijau-hijau akan menambah ketajaman penglihatan”

Mungkin ada sebagian orang yang berkeyakinan dianjurkan memandang wanita cantik dan meyakini ada keutamaan melakukannya. Karena terdapat sebuah hadits, yang diriwayatkan jalan Ahmad bin Al Husain ia berkata, Ibrahim bin Habib bin Salam Al Makki menuturkan kepada kami, Ibnu Abi Fudaik menuturkan kepada kami, Ja’far bin Muhammad menuturkan kepada kami, dari ayahnya dari Jabir radhiallahu’anhu secara marfu’,

?????? ??? ???? ??????? ?????????? ??????????? ??????? ?? ????????

Memandang wajah wanita cantik dan benda yang hijau-hijau akan menambah ketajaman penglihatan” (HR. Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 3/234).

Derajat hadits

Abu Nu’aim berkata: “hadits gharib dari Ja’far. Ibnu Abi Fudaik bersendirian periwayatannya dari Ja’far”. Ash Shaghani mengatakan: “maudhu’ (palsu)”. Adz Dzahabi mengatakan: “hadits ini batil”. As Suyuthi berkata: “lemah”.

Ibnul Qayyim mengatakan: “hadits ini dan semisalnya dibuat-buat oleh kaum zindiq”. Terdapat beberapa lafadz lain dari hadits ini yang semuanya lemah atau palsu. Al Albani berkata: “tidak bertentangan antara dua pendapat yang ada (dhaif dan palsu), karena hadits ini dhaif secara sanad dan palsu secara matan dengan telah kami bawakan beberapa contoh lainnya”.

Sumber:

  • Dorar.net
  • Silsilah Al Ahadits Adh Dha’ifah

Artikel Muslimah.Or.Id

Anda Mau Dimadu?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,   Anda mau dimadu? Bagaimana jika Allah yang memberi anda madu? Seharusnya anda bahagia…meskipun bisa jadi anda merasa resah… Madu dari Allah, bukan sembarang madu. Jelas ini madu yang berbeda. Mari kita perhatikan hadis berikut,   Dari sahabat Amr bin al-Hamiq radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi […]

Bismillah was shalatu was salamu ala Rasulillah, amma ba’du,

 

Anda mau dimadu?

Bagaimana jika Allah yang memberi anda madu?

Seharusnya anda bahagia…meskipun bisa jadi anda merasa resah…

Madu dari Allah, bukan sembarang madu. Jelas ini madu yang berbeda.

Mari kita perhatikan hadis berikut,

 

Dari sahabat Amr bin al-Hamiq radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

????? ??????? ??????? ???????? ??????? ????????? ???????: ??? ??????? ???????? ????? ????????? ?????: «??????????? ???????? ???????? ????? ?????????? ????????»

“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Allah memberinya ’asal.

 

Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah, apa maksud ‘asal dari-Nya?’

Beliau bersabda,

“Allah berikan taufiq untuk beramal soleh, kemudian Allah cabut nyawanya dalam keadaan husnul khotimah.” (HR. Ahmad 17784, Ibn Hibban 342, al-Hakim 1258 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

 

Makna Asal

Kata ‘Asal secara bahasa artinya madu. Di surga ada sungai madu murni. Allah sebut dalam al-Quran dengan kalimat asal mushaffa,

??????????? ???? ?????? ????????

“Dan sungai-sungai dari madu murni.. ” (QS. Muhammad: 15)

 

Lalu apa yang dimaksud Allah memberinya asal (madu)?

Al-Munawi menjelaskan,

??? ???? ???? ???? ???? ???? ? ?? ??? ????? ??? ????? ( ??? ) ?? ????? ?? ???? ???? ( ??? ???? ) ?? ?? ????? ( ??? ???? ?? ???? ????? ??? ???? ) ?? ????? ( ?? ????? ???? ) ??? ?? ???? ???? ?? ????? ?????? ?????? ???? ?? ?????? ?????? ???? ???? ?? ?? ??? ????? ?? ?? ?????

Dalam hadis, “apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, dia akan berikan ‘asal-Nya, maknanya adalah pujian yang baik di tengah masyarakat. Para sahabat bertanya, ‘Apa itu ‘asal dari Allah?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah berikan taufiq untuk melakukan amal soleh sebelum dia mati.’

 

Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut amal soleh yang Allah berikan kepada seseorang dengan kata asal yang artinya madu. Karena madu adalah makanan yang paling bagus, yang bisa membuat manis semua yang diberi madu dan menjadi lebih bagus jika ditambah madu. (at-Taisir bi Syarh Jami’ Shaghir, 1/126).

 

Dalam riwayat lain dinyatakan,

????? ??????? ????? ???????? ??????? ?????????????? ???????? ???? ?????? ??????? ?????? ?????? ???????? ?????? ??????? ?????? ???? ????????

“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi salah satu hamba-Nya, Dia akan mempekerjakannya”.

 

Lalu beliau menjelaskan,

’Allah berikan taufiq kepadanya untuk beramal saleh sebelum kematian, sehingga orang lain di sekitarnya menjadi senang dengannya.’ (HR. Ahmad 21949 dan dishahihkan al-Albani).

Berdasarkan riwayat inilah, al-Munawi menafsirkan kata asal dengan pujian yang baik dari masyarakat, sebagaimana layaknya madu yang manis.

 

Ketika menjelaskan hadis ini, Imam al-Albani menuliskan,

?????? ??? ??????? ? ??? ???? ??? ?? ???? ??? ??? ?? ?????? ??????? ??????? – ??? ????? ???? ????

“Diantara tanda Allah memberikan madu untuknya adalah, Allah jadikan orang yang berada di sekitarnya menjadi ridha kepadanya. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam“. (as-Silsilah as-Shahihah, keterangan hadis no. 1114).

 

Karena hadis di atas, diberitakan bahwa Syaikh al-Albani sering mendoakan orang yang berbuat baik kepada beliau dengan kalimat doa,

 

????? ????

”Semoga Allah memberimu madu”

 

Allahu alam

 

—–

Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits

Artikel www.muslimah.or.id