Al Qur’an di mata Syi’ah [1]

Setiap Syiah harus, sekali lagi harus percaya bahwa Al Qur'an yang ada saat ini tidak otentik dan mengalami perubahan. Tidak percaya? Jangan terburu marah, baca dulu selengkapnya.

Setiap Syiah harus, sekali lagi harus percaya bahwa Al Qur'an yang ada saat ini tidak otentik dan mengalami perubahan. Tidak percaya? Jangan terburu marah, baca dulu selengkapnya.

Al Qur’an di mata Syi’ah [1]

Setiap Syiah harus, sekali lagi harus percaya bahwa Al Qur'an yang ada saat ini tidak otentik dan mengalami perubahan. Tidak percaya? Jangan terburu marah, baca dulu selengkapnya.

Setiap Syiah harus, sekali lagi harus percaya bahwa Al Qur'an yang ada saat ini tidak otentik dan mengalami perubahan. Tidak percaya? Jangan terburu marah, baca dulu selengkapnya.

Sumber Ajaran Syiah [2]

Kita patut meragukan apakah sumber mereka masih orisinil atau sudah dipermak sana sini. Dengan mengetahui validitas sumber sebuah ajaran, kita bisa menilai validitas ajaran tersebut.

Kita patut meragukan apakah sumber mereka masih orisinil atau sudah dipermak sana sini. Dengan mengetahui validitas sumber sebuah ajaran, kita bisa menilai validitas ajaran tersebut.

Sumber Ajaran Syiah [2]

Kita patut meragukan apakah sumber mereka masih orisinil atau sudah dipermak sana sini. Dengan mengetahui validitas sumber sebuah ajaran, kita bisa menilai validitas ajaran tersebut.

Kita patut meragukan apakah sumber mereka masih orisinil atau sudah dipermak sana sini. Dengan mengetahui validitas sumber sebuah ajaran, kita bisa menilai validitas ajaran tersebut.

Validitas Literatur Induk Ajaran Syiah

Kita patut meragukan apakah sumber mereka masih orisinil atau sudah dipermak sana sini. Dengan mengetahui validitas sumber sebuah ajaran, kita bisa menilai validitas ajaran tersebut.

Kita patut meragukan apakah sumber mereka masih orisinil atau sudah dipermak sana sini. Dengan mengetahui validitas sumber sebuah ajaran, kita bisa menilai validitas ajaran tersebut.

Imam Syiah Bukan Manusia

Allah telah menjelaskan pada kita sifat manusia dalam beberapa ayat Al Qur’an; dari sana kita dapat mengetahui sifat asal manusia, sebuah jenis makhluk yang diciptakan Allah dari tanah liat, yang diberi misi dan tugas dalam hidupnya, yaitu untuk mengabdi pada Allah. Manusia berani mengemban amanat Allah, yang ditolak oleh gunung dan bumi. Mengapa demikian? Apakah karena manusia begitu bodoh dan zhalim sehingga mau menerima amanat Ilahi itu? Tidak jelas mengapa, tetapi kita –yang juga manusia- terlahir di muka bumi bukan atas keinginan kita, tetapi atas kehendak Allah –dengan hikmah dan kebijakanNya- kita lahir ke dunia ini, sebagai manusia yang tentunya juga bersifat zhalim dan bodoh.

Allah telah menjelaskan pada kita sifat manusia dalam beberapa ayat Al Qur’an; dari sana kita dapat mengetahui sifat asal manusia, sebuah jenis makhluk yang diciptakan Allah dari tanah liat, yang diberi misi dan tugas dalam hidupnya, yaitu untuk mengabdi pada Allah. Manusia berani mengemban amanat Allah, yang ditolak oleh gunung dan bumi. Mengapa demikian? Apakah karena manusia begitu bodoh dan zhalim sehingga mau menerima amanat Ilahi itu? Tidak jelas mengapa, tetapi kita –yang juga manusia- terlahir di muka bumi bukan atas keinginan kita, tetapi atas kehendak Allah –dengan hikmah dan kebijakanNya- kita lahir ke dunia ini, sebagai manusia yang tentunya juga bersifat zhalim dan bodoh.

Imam Bukan Manusia

Allah telah menjelaskan pada kita sifat manusia dalam beberapa ayat Al Qur'an; dari sana kita dapat mengetahui sifat asal manusia, sebuah jenis makhluk yang diciptakan Allah dari tanah liat, yang diberi misi dan tugas dalam hidupnya, yaitu untuk mengabdi pada Allah. Manusia berani mengemban amanat Allah, yang ditolak oleh gunung dan bumi. Mengapa demikian? Apakah karena manusia begitu bodoh dan zhalim sehingga mau menerima amanat Ilahi itu? Tidak jelas mengapa, tetapi kita –yang juga manusia- terlahir di muka bumi bukan atas keinginan kita, tetapi atas kehendak Allah –dengan hikmah dan kebijakanNya- kita lahir ke dunia ini, sebagai manusia yang tentunya juga bersifat zhalim dan bodoh.

Allah telah menjelaskan pada kita sifat manusia dalam beberapa ayat Al Qur'an; dari sana kita dapat mengetahui sifat asal manusia, sebuah jenis makhluk yang diciptakan Allah dari tanah liat, yang diberi misi dan tugas dalam hidupnya, yaitu untuk mengabdi pada Allah. Manusia berani mengemban amanat Allah, yang ditolak oleh gunung dan bumi. Mengapa demikian? Apakah karena manusia begitu bodoh dan zhalim sehingga mau menerima amanat Ilahi itu? Tidak jelas mengapa, tetapi kita –yang juga manusia- terlahir di muka bumi bukan atas keinginan kita, tetapi atas kehendak Allah –dengan hikmah dan kebijakanNya- kita lahir ke dunia ini, sebagai manusia yang tentunya juga bersifat zhalim dan bodoh.

Imam atau Tuhan ?

Syiah meyakini adanya dua belas imam yang menjadi penerus kenabian. Bagi syiah, masalah imamah sudah tidak bisa ditawar lagi, karena siapa saja yang menolak beriman pada salah satu saja dari dua belas imam itu maka dia divonis menjadi kafir. Menolak beriman pada salah satu imam saja sudah kafir –apalagi menolak beriman pada kedua belas imam tersebut-. Karena yang menolak dianggap kafir, maka sudah tentu masalah imamah ini merupakan pokok yang terpenting bagi mazhab syiah. Begitu juga para imam memiliki kedudukan yang sangat penting bagi syiah. Sudah tentu penting, karena syiah meyakini bahwa para imam adalah penerus kenabian. Barangkali pembaca bertanya-tanya apakah syiah meyakini bahwa misi kenabian Nabi Muhammad belum selesai sehingga masih diperlukan penerus lagi? Tetapi inilah keyakinan syiah. Syaikh Muhammad Ridha Muzhaffar dalam kitab Aqaidul Imamiyah –yang berisi keyakinan mazhab Syiah Imamiyah- pada halaman 66 mengatakan bahwa imam adalah penerus kenabian. karena para imam adalah penerus kenabian, sudah tentu memiliki sifat-sifat linuwih kelebihan yang membuat para imam berbeda dengan kita-kita. Boleh jadi pembaca yang kebetulan syiah akan merah telinganya ketika imamnya dibandingkan dengan kita-kita. Ok lah, supaya para imam berbeda dengan para sahabat Nabi yang merampas hak khilafah secara tidak berhak –ini sesuai dengan pendapat syiah-. Jika imam sama dengan para sahabat Nabi, maka bisa jadi sahabat yang menjadi imam, karena tidak ada perbedaan antara mereka. Maka akal mengharuskan adanya perbedaan antara imam dan orang biasa.

Syiah meyakini adanya dua belas imam yang menjadi penerus kenabian. Bagi syiah, masalah imamah sudah tidak bisa ditawar lagi, karena siapa saja yang menolak beriman pada salah satu saja dari dua belas imam itu maka dia divonis menjadi kafir. Menolak beriman pada salah satu imam saja sudah kafir –apalagi menolak beriman pada kedua belas imam tersebut-. Karena yang menolak dianggap kafir, maka sudah tentu masalah imamah ini merupakan pokok yang terpenting bagi mazhab syiah. Begitu juga para imam memiliki kedudukan yang sangat penting bagi syiah. Sudah tentu penting, karena syiah meyakini bahwa para imam adalah penerus kenabian. Barangkali pembaca bertanya-tanya apakah syiah meyakini bahwa misi kenabian Nabi Muhammad belum selesai sehingga masih diperlukan penerus lagi? Tetapi inilah keyakinan syiah. Syaikh Muhammad Ridha Muzhaffar dalam kitab Aqaidul Imamiyah –yang berisi keyakinan mazhab Syiah Imamiyah- pada halaman 66 mengatakan bahwa imam adalah penerus kenabian. karena para imam adalah penerus kenabian, sudah tentu memiliki sifat-sifat linuwih kelebihan yang membuat para imam berbeda dengan kita-kita. Boleh jadi pembaca yang kebetulan syiah akan merah telinganya ketika imamnya dibandingkan dengan kita-kita. Ok lah, supaya para imam berbeda dengan para sahabat Nabi yang merampas hak khilafah secara tidak berhak –ini sesuai dengan pendapat syiah-. Jika imam sama dengan para sahabat Nabi, maka bisa jadi sahabat yang menjadi imam, karena tidak ada perbedaan antara mereka. Maka akal mengharuskan adanya perbedaan antara imam dan orang biasa.