Hukum Menunda Menikah dengan Alasan Ingin Membangun Masa Depan – Fatwa-Fatwa Pilihan (Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin)

Download Fatwa-Fatwa Pilihan Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah

Download fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin mengenai “Hukum Menunda Menikah dengan Alasan Ingin Membangun Masa Depan” di dalam rekaman audio berikut ini.

Rekaman fatwa ini diterjemahkan oleh Ustadz Junaedi Abdillah. Semoga bermanfaat.

Tulisan Hukum Menunda Menikah dengan Alasan Ingin Membangun Masa Depan – Fatwa-Fatwa Pilihan (Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin) ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.

Download Fatwa-Fatwa Pilihan Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah

Fatwa-Fatwa Pilihan: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin
Penerjemah: Ustadz Junaedi ‘Abdillah

Berikut ini fatwa pilihan dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah yang diterjemahkan oleh Ustadz Junaedi ‘Abdillah. Dalam fatwa kali ini, beliau akan membahas mengenai penjelasan tentang “Hukum Menunda Menikah dengan Alasan Ingin Membangun Masa Depan“. Semoga bermanfaat.

Lihat kumpulan fatwa lainnya di Arsip Kumpulan Fatwa

Dengarkan dan Download Fatwa Pilihan: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin – Hukum Menunda Menikah dengan Alasan Ingin Membangun Masa Depan

Jangan lupa untuk turut menyebarkan kebaikan dengan membagikan link fatwa pilihan ini ke Facebook, Twitter, dan Google+ kita. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan kita semua.

Tulisan Hukum Menunda Menikah dengan Alasan Ingin Membangun Masa Depan – Fatwa-Fatwa Pilihan (Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin) ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.

Fatwa Ulama: Bolehkah Wanita Menawarkan Diri Di Koran?

Apa hukumnya orang tua mengumumkan anak perempuannya di koran dan majalah (bahwa ia siap dinikahi) dengan menampilkan biodatanya di sana bagi orang yang mungkin tertarik untuk menikahinya?

Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts wal Ifta’

Soal:

 ?? ??? ????? ?????? ?? ?????? ?? ??????? ???????? ?? ????????? ??? ???? ?????? ??????? ???? ?

Apa hukumnya orang tua mengumumkan anak perempuannya di koran dan majalah (bahwa ia siap dinikahi) dengan menampilkan biodatanya di sana bagi orang yang mungkin tertarik untuk menikahinya?

Jawab:

 ????? ?????? ?? ??????? ???????? ?? ?????? ?? ?????? ???? ?????????- ?????? ?? ?????? ??????? ?????? ? ??? ??? ?? ???? ???????? ? ??????? ???? . ????? ??? ????? ?????? ?? ????? ????? ????? ? ???? ?????? ?? ????? ???????? .

Mengumumkan seorang wanita melalui koran dan majalah bahwa ia siap dinikahi kemudian menampilkan biodatanya di sana ini bertentangan dengan rasa malu, kesopanan dan sitr (semangat menjaga diri dari fitnah). Dan ini juga bukan kebiasaan kaum Muslimin. Maka wajib untuk ditinggalkan perkara yang demikian.

Selain itu juga, perbuatan ini menunjukkan ketidak-percayaan walinya terhadap si wanita. Yang benar hendaknya lamaran dilakukan dengan cara yang baik dan dengan persetujuan sang wanita.

?????? ??????? ? ???? ???? ??? ????? ???? ???? ????? ????

***

Sumber: http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?languagename=ar&View=Page&PageID=245&PageNo=1&BookID=12

Penerjemah: Yulian Purnama

Artikel Muslimah.or.id

Benarkah Rasulullah Melarang Ali bin Abi Thalib Poligami?

Kisah Rasulullah melarang Ali berpoligami adalah kisah yang shahih diriwayatkan dalam Shahihain, namun bagaimana penjelasan yang benar mengenai hal ini?

Kisah Rasulullah melarang Ali berpoligami adalah kisah yang shahih diriwayatkan dalam Shahihain, namun bagaimana penjelasan yang benar mengenai hal ini?

Problema Rumah Tangga: Mengejar Solusi Atau Melarikan Diri?

Problematika pasti pernah hinggap dalam kehidupan berumah tangga. Tiap pasangan pun memiliki cara sendiri-sendiri dalam menghadapi dan menyelesaikannya. Nah, sayangnya… ada tipe pribadi tertentu yang memang tidak menyukai konfrontasi dan pada dasarnya menyukai ketenangan atau kedamaian

Problematika pasti pernah hinggap dalam kehidupan berumah tangga. Tiap pasangan pun memiliki cara sendiri-sendiri dalam menghadapi dan menyelesaikannya. Nah, sayangnya… ada tipe pribadi tertentu yang memang tidak menyukai konfrontasi dan pada dasarnya menyukai ketenangan atau kedamaian, cenderung melarikan diri atau membiarkan suatu masalah “hilang dengan sendirinya tertelan waktu“. Banyak kita dapatkan orang dengan berkepribadian seperti ini, jika diajak berdiskusi membicarakan solusi sebuah masalah, dia malah tidak mau berlama-lama dan menghindar seraya beranggapan “Sudahlah…lupakan saja…”. Ada masalah yang tidak bermasalah jika diterapkan prinsip “Sudahlah.. lupakan saja“, namun banyak pula masalah krusial yang tidak mempan disikapi seperti ini. Justru sikap menimbun masalah tanpa solusi pemecah persoalan seperti ini malah menimbulkan ledakan bom masalah yang dahsyat di kemudian hari.

Pentingnya komunikasi efektif

Komunikasi yang terjalin secara efektif antara pasutri merupakan satu langkah jitu yang bisa diambil sebagai sarana awal pemecahan masalah In syaa Allaah. Secara global, langkah-langkah yang bisa ditempuh adalah:

  • Ikhlaskan niat memperbaiki dan mencari solusi hanya karena Allah. Duduklah pasutri bersama-sama dengan tenang, kepala dingin, pengendalian diri dan hati yang menginginkan pemecahan masalah. Kalau di awal saja memang tidak ada niatan untuk melakukan perbaikan dan mencari solusi, bagaimana mungkin seseorang itu sudi duduk meluangkan waktu dan berbicara dari hati ke hati?
  • Pilihlah waktu dan kondisi yang tepat untuk membicarakannya.
  • Sikapilah perbedaan pendapat dengan bijaksana. Kita tidak perlu memaksakan pendapat dan ingin memenangkan pendapat sendiri. Pahami dan hargailah keinginan pasangan meskipun berbeda dengan keinginan kita.
  • Kendalikan emosi ketika terjadi perbedaan pendapat. Hendaknya kedua belah pihak selalu mengedepankan menggunakan bahasa yang santun, halus dan lembut dalam berdiskusi.
  • Hindarilah sikap “sok tahu”.
  • Jadilah pendengar yang “budiman”. Tidak hanya mau didengar saja kata-katanya, namun juga mau mendengar perkataan orang lain dengan seksama dan sabar. Jikalau masalah itu berkaitan dengan kemauan individual, pertimbangkanlah kompromi kemauan kedua belah pihak, meskipun bisa jadi pada akhirnya nanti kemauan masing-masing pihak tidak dapat terpenjuhi seluruhnya “Apa maumu? Ini mauku…mari kita sama-sama mencari jalan tengah dan win-win solution. Kita kompromikan saja kemauan kita jika memang itu masih bisa dilakukan”.
    Satu hal yang harus diingat mengenai kompromi: kompromi terkadang mengharuskan lahirnya sikap “pengorbanan”.
  • Menjaga komitmen dalam menaati kesepakatan yang telah dibuat, tidak lalu bersikap seenak sendiri

Penulis: Ummu Yazid Fatihdaya Khoirani

Artikel Muslim.or.id

Suami Larang Istri Bongkar Barang Privasi

Assalamu’alaykum. Saya mempunyai suami, dimana dia melarang saya (istri) untuk membuka dan melihat benda-benda (HP, Dompet, tas) yang sekiranya itu merupakan area privasi atau pribadi bagi dia, dilarang untuk dibuka atau dilihat untuk diketahui isinya. Pertanyaan saya: 1. Apakah dalam Islam ada yang mengatur larangan perbuatan seperti itu? 2. Adakah hadits yang mengatur permasalahan ini? … Continue reading Suami Larang Istri Bongkar Barang Privasi

Assalamu’alaykum. Saya mempunyai suami, dimana dia melarang saya (istri) untuk membuka dan melihat benda-benda (HP, Dompet, tas) yang sekiranya itu merupakan area privasi atau pribadi bagi dia, dilarang untuk dibuka atau dilihat untuk diketahui isinya. Pertanyaan saya:

1. Apakah dalam Islam ada yang mengatur larangan perbuatan seperti itu?

2. Adakah hadits yang mengatur permasalahan ini? Jazakumullahu khairan

Jawab:

Wa’alaykumussalam warahmatullah. Istri punya kewajiban menaati suaminya selagi tidak disuruh maksiat, dan suami berhak melarang istrinya dalam hal yang mubah, seperti istri dilarang membuka dompet, ponsel, tas, dan perangkat lainnya milik suami, tetapi suami tidak boleh melarang istri beribadah yang itu haknya Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun dalil yang menjelaskan hal ini banyak sekali, misalnya:

Jika istri dilarang oleh suami dari puasa sunnah sedangkan suami ada di rumah maka itu wajib di taati, karena ada di rumah maka itu wajib ditaati perintah suami dalam hal yang mubah hukumnya wajib selagi istri mampu melaksanakannya. Sedangkan puasa sunnah hukumnya tidak wajib, maka istri tidak boleh meninggalkan yang wajib karena menyibukkan diri dengan mengamalkan sunnah. Rasulullah –shallallahu’alaihi wa sallam-:

?? ??????? ???????????? ???? ??????? ??????????? ??????? ???? ?????????? ????? ???????? ??? ???????? ?????? ??????????

Tidak diperbolehkan bagi seorang istri untuk berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada di sisinya kecuali dengan izinnya dan tidak boleh seorang istri mengizinkan seseorang (masuk) ke rumahnya kecuali dengan izin suaminya“. (HR. al-Bukhari)

Jika suami berhak melarang istrinya puasa sunnah pada saat suami berada di rumah, maka suami lebih berhak melarang istrinya dari membuka tas, komputer, ponsel, maupun dompetnya. Istri wajib menjaga barang yang berharga di rumah suami, istri tidak boleh mengambil uang suami tanpa izin darinya, kecuali memang menjadi haknya, seperti suami tidak memberi belanja misalkan.

Termasuk hak-hak suami atas istrinya adalah menaatinya dalam perkara yang bukan maksiat serta menjaga kehormatan dirinya dan hartanya Rasulullah –shallallahu’alaihi wa sallam– bersabda:

???? ?????? ????? ?????? ??? ???????? ???????? ???????? ??????????? ???? ???????? ???????????

Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada seseorang, niscaya aku akan memerintahkan seorang wanita untuk sujud kepada suaminya“. (HR. at-Tirmidzi: 1159, dishahihkan oleh al-Albani)

Termasuk hak-hak suami atas istrinya, istri tidak diperkenankan memasukkan kaum pria atau orang-orang yang tidak disukai oleh suami ke rumahnya tanpa mendapat izin suami. Nabi –shallallahu’alaihi wa sallam– bersabda,

Kamu punya hak melarang istrimu agar tidak mengizinkan seorang pun tidur di kamarmu orang yang kamu benci“. (HR. Muslim: 2137)

Hendaknya istri husnuzhon kepada suami, dan jika istri nyata-nyata melihat kemungkaran suami, hendaknya suami dinasehati dengan baik. wallahua’lam

Dijawab oleh Ust. Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc

Disalin dari: Majalah al-Mawaddah Vol 83 – Jumadal Ula 1436 H, hlm. 8

Latihan Akad Saat Rapak, Apakah Dihukumi Sudah Sah?

Assalamu’alaykum. Afwan sebelumnya, saya ada masalah. Kemarin ketika mau menikah (2 bulan yang lalu), saya disuruh datang ke KUA untuk mengikuti acara rapak pengantin satu pekan sebelum akad. Tujuannya katanya untuk mencocokkan data dari kedua belah calon mempelai. Tapi ada … Baca lebih lanjut

Assalamu’alaykum. Afwan sebelumnya, saya ada masalah. Kemarin ketika mau menikah (2 bulan yang lalu), saya disuruh datang ke KUA untuk mengikuti acara rapak pengantin satu pekan sebelum akad. Tujuannya katanya untuk mencocokkan data dari kedua belah calon mempelai. Tapi ada sesuatu yang mengganjal dalam hati saya. Dalam acara rapak di KUA tersebut, hadir: saya selaku calon mempelai laki-laki, calon istri saya, dan calon mertua sebagai wali calon istri saya, ditambah teman saya sebagai pendamping. Dalam acara itu saya juga membawa maskawin berupa cincin emas. Setelah petugas KUA mencocokkan data-data, maka saya dan mertua dituntun untuk latihan mengucapkan kalimat ijab qabul.

Pertanyaan saya: (1). Apakah akad yang dilakukan di KUA itu dihukumi akad yang sah sehingga saya bisa dikatakan sudah menjadi suami bagi calon istri saya? karena saya pernah mendengar ada hadits yang menyebutkan, bahwa salah satu dari tiga hal yang dihukumi serius walaupun dilakukan karena bercanda ialah akad nikah (2). Jika seandainya pihak wanita atau pria membatalkan pernikahan setelah rapak, apakah boleh langsung dinikahi oleh lelaki lain?  Jazakumullah khairan atas jawabannya.

JAWAB:

Wa’alaykumussalam wa rahmatullah. Rapak di KUA adalah istilah dan peraturan baru yang dikeluarkan oleh Departemen Agama, maksudnya sebelum KUA mencatat pernikahan umat Islam, mereka mengadakan riset atau penelitian dengan memanggil kepada pihak yang akan menikah dan yang akan dinikahkan agar tidak salah tulis dan lainnya pada saat terjadi akad pernikahan. Hal ini untuk kepentingan kita umat Islam di kemudian hari, semisal bila dibutuhkan surat nikah ketika hendak haji, atau umrah, mengurus akta kelahiran anak, maupun keperluan lainnya. Walaupun toh, kita menikah tanpa pencatatan KUA itu sudah sah, jika terpenuhi syarat dan rukunnya. Namun, ketaatan kita kepada waliyul amri (pemerintah) adalah wajib, jika hal ini tidak melanggar syariat Allah.

Ketika KUA mengajari orang tua yang mau menikahkan putrinya tentang cara mengijabkan atau menikahkan putrinya, baik dengan bahasa Arab atau Bahasa Indonesia, niatnya bukankah untuk menuntun wali ketika menikahkan putrinya, tetapi mengajari cara melafalkan akad nikah yang akan dilakukan nanti pada saat terjadi akad nikah yang sesungguhnya. Demikian juga, ketika petugas KUA mengajari calon suami cara qabul atau menerima ijab wali, niatnya bukan menuntun ijab-qabul atau serah terima yang sesungguhnya, tetapi mengajari cara menerima ijabnya si wali, sehingga setelah keduanya selesai belajar tentang caranya, wanita itu belumlah dikatakan menjadi istri yang sah.

Dari Umar bin Khattab radliyallahu’anhu dia berkata, “Rasulullah –shallallahu’alaihi wa sallam– bersabda:

“Amal-amal perbuatan itu harus ada niatnya, dan setiap perbuatan seseorang tergantung niatnya” (HR. Muslim:1084)

Jika calon suami tidak jadi melanjutkan akad nikah setelah diajari caranya (dalam rapak oleh pihak KUA) maka tidak mengapa, karena belum ada niat ijab-qabul dari kedua belah pihak.

Adapun hadits yang menyebutkan bahwa salah satu dari tiga hal yang dihukumi serius, walaupun dilakukan karena bercanda ialah akad nikah, maka hadits itu diriwayatkan oleh para pengarang kitab Sunan seperti Imam Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan yang lainnya. Adapun derajatnya, ia dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani, bunyinya seperti ini:

Dari Abu Hurairah –radliyallahu’anhu-, sesungguhnya Rasulullah –shallallahu’alaihi wa sallam– bersabda:

??????? ?????????? ????? ????????????? ????? ?????????? ???????????? ?????????????

Ada tiga perkara yang apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh atau bergurau, maka akan (tetap) menjadi sungguh sungguh, yaitu: nikah, talak, dan rujuk“. (HR. Abu Dawud: 2194)

Hadits ini tidak bertentangan dengan pengajaran KUA, karena kedua pihak bukan bermaksud mengakadnikahkan, baik dengan serius atau bergurau, tetapi maksudnya belajar. Kesimpulannya, jawaban pertanyaan, masih belum bisa dikatakan sebagai suami dan istri yang sah. Masih bergantung pada keduanya.

Selanjutnya, jika rencana pernikahannya dibatalkan, apakah wanita boleh langsung dinikahi oleh pria lain?

Jika yang menggagalkan pernikahan itu pihak laki-laki atau calon suami, maka wanita itu boleh dinikahi oleh pria lain, tentu bila dinikahkan oleh walinya. Akan tetapi hendaknya wali perempuan memberitahu kepada pihak KUA, agar tidak terjadi masalah di kemudian hari, dengan pertimbangan karena sudah mendaftarkan diri sebelumnya. Dan seandainya yang menggagalkan dari pihak calon istri, karena dipinang oleh pria lain, maka pria (terakhir) yang ingin menikahinya hendaknya meminta izin kepada calon suami pertama, jika diizinkan maka boleh menikah dengannya. Rasulullah –shallallahu’alaihi wa sallam– bersabda:

??? ???????? ?????????? ????? ???????? ??????? ??????  ???????? ???? ????????

Janganlah salah seorang dari kalian melamar wanita yang telah dilamar oleh saudaranya, sehingga ia menikahi atau meninggalkannya“. (HR. Bukhari: 5144)

Dan sebaiknya rencana pernikahan tersebut tidak digagalkan, kecuali nyata ada sebab yang mengharuskan perpisahan, semisal adanya hal yang memadharatkan agama atau kehormatan dirinya. Wallahu a’lam

Dijawab oleh Ust. Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc

Disalin dari: Majalah al-Mawaddah Vol 83 – Jumadal Ula 1436 H, hlm. 4-5

 

Menjadikan Hafalan Al-Qur’an Sebagai Mahar

Sebagian orang menjadikan hafalan Al Qur’an sebagai mahar dalam pernikahan. Apa yang dimaksud menjadikan hafalan Al Qur’an sebagai mahar? Dan bagaimana pandangan syariat mengenai hal ini?

Sebagian orang menjadikan hafalan Al Qur’an sebagai mahar dalam pernikahan. Apa yang dimaksud menjadikan hafalan Al Qur’an sebagai mahar? Dan bagaimana pandangan syariat mengenai hal ini?

Pilih Perawan Atau Janda?

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diberi kabar oleh Jabir bahwa ia telah menikah. Hal ini mengisyaratkan bolehnya seorang murid melangsungkan akad nikah tanpa diketahui oleh guru ngaji-nya

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diberi kabar oleh Jabir bahwa ia telah menikah. Hal ini mengisyaratkan bolehnya seorang murid melangsungkan akad nikah tanpa diketahui oleh guru ngaji-nya

Menunda Nikah Karena Menuntut Ilmu

Dalam suatu kesempatan, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah ditanya, “bagaimana jika seorang pemuda menunda nikah hingga usianya melebihi 30 tahun padahal sebenarnya ia mampu untuk menikah, apakah ini bermasalah? Karena berasalan …

Dalam suatu kesempatan, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah ditanya, “bagaimana jika seorang pemuda menunda nikah hingga usianya melebihi 30 tahun padahal sebenarnya ia mampu untuk menikah, apakah ini bermasalah? Karena berasalan bahwa ia ingin membangun masa depannya dan menunggu menyelesaikan program ta’lim-nya”. Syaikh Ibnul Utsaimin menjawab: Ya, dia ini bermasalah. Yaitu ia tidak […]

Cara Yang Baik Dalam Melamar Wanita

Hendaknya anda menanyakan tentang wanita tersebut (kepada orang lain), yaitu tentang akhlaknya, keshalihannya, nasabnya. Setelah itu, anda datang kepada keluarganya dan utarakan kepada mereka bahwa anda ingin melamar anaknya

Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah ditanya, “bagaimana cara yang shahih dalam melamar wanita? Dan bagaimana jika saya sudah merasa cocok dengan si wanita namun orang tuanya belum tahu, lalu bagaimana cara saya memberitahu orang tuanya?”

Beliau menjawab:

???? ????? ?????? ????? ??? ??????? ??????? ?????????? ?? ??? ??? ?? ?? ????? ??? ????? ????? ????? ?? ???? ???? ??? ?? ??? ?????? ??? ????? ??????? ??? ??? ??? ??? ?????? ?? ??? ????? ???? ??????? ??? ??????? ????? ??? ??? ?????? ?????? ??? ??? ??? ??? ?????? ??? ??? ???? ?? ?????? ?? ???????? ??????? ??? ??????? ?? ??????.

Hendaknya anda menanyakan tentang wanita tersebut (kepada orang lain), yaitu tentang akhlaknya, keshalihannya, nasabnya. Setelah itu, anda datang kepada keluarganya dan utarakan kepada mereka bahwa anda ingin melamar anaknya. Setelah itu, jika orang tuanya setuju dan si wanita juga sudah setuju, maka hendaknya anda meminta untuk melihat wajah si wanita tersebut tanpa berdua-duaan.

Adapun berkomunikasi dengan si wanita, hukumnya boleh jika komunikasinya sebatas percakapan biasa tanpa disertai rayuan-rayuan, tidak berlama-lama dan tidak mengajaknya untuk berduaan. Hendaknya sekedar menanyakan ia mengenai persetujuan dan keinginan untuk menikah, tanpa memperpanjang percakapan.

(Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin, 2/100, Asy Syamilah)

 

Filed under: Fatwa Tagged: Fatwa, galau, khitbah, lamaran, nazhor, nikah