Teladan Kebaikan Dari Para Keluarga Salafus Shalih

Para ulama Salaf tidak hanya memperhatikan dan mengusahakan kebaikan untuk diri mereka sendiri saja, tapi mereka juga sangat memperhatikan pengajaran dan bimbingan kebaikan bagi anggota keluarga mereka

Para ulama Salaf tidak hanya memperhatikan dan mengusahakan kebaikan untuk diri mereka sendiri saja, tapi mereka juga sangat memperhatikan pengajaran dan bimbingan kebaikan bagi anggota keluarga mereka

Untukmu Wahai Orang Tua yang Belum dan Sudah Dikaruniai Anak

Untukmu wahai orang tua yang belum dikaruniai anak, yakinlah bahwa semua ini merupakan takdir Allah dan berbaik sangkalah engkau kepadaNya

Untukmu wahai orang tua yang belum dikaruniai anak…

Yakinlah bahwa semua ini merupakan takdir Allah dan berbaik sangkalah engkau kepadaNya. Allah Jalla Jalaaluhu berfirman:

???????? ?????? ????????????? ??????????? ???????? ??? ??????? ?????? ????? ??????? ???????? ???????? ????? ??????? ?????????????? ????????????? ?????????? ?????????? ?????????? ??? ??????? ???????? ??????? ??????? ???????

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Asy-Syura: 49-50).

Namun hal ini bukan berarti sama sekali kita berpangku tangan tanpa usaha, perbanyaklah do’a kepada Allah Ta’?l?, janganlah engkau merasa pesimis dan putus asa, sesungguhnya Allah Ta’?l? telah berjanji akan mengabulkan do’a hamba-Nya. Lihatlah para nabi dan orang-orang shalih yang menjadi panutan kita semua, mereka tidak bosan berdo’a kepada Allah, lalu Allah pun mengabulkan do’a mereka.

????? ????? ?????? ?????? ????????? ?????? ??????????? ????????? ??????? ?????? ????? ??????????? ????? ???????????????? ?????? ???????????? ??? ???????? ????????? ?????????? ???????? ?????? ??? ??? ???????? ????????????????? ???????? ???? ??? ????????? ??????????? ????? ??????????? ?????????? ?????? ??????????? ????????? ??????? ???????? ???? ??????? ????? ??? ?????? ????????

Ia berkata Ya Rabb-ku, Sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Rabb-ku. Dan Sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub; dan Jadikanlah ia, Ya Rabb-ku, seorang yang diridhai. Hai Zakaria, Sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan-Nya. (QS. Maryam: 4-7).

Juga, lakukanlah segala usaha untuk mendapatkan anak dengan segala cara yang tidak melanggar syari’at seperti konsultasi dengan para ahli, orang berpengalaman dalam masalah ini, meminum obat-obatan serta ramuan-ramuan, dan lain sebagainya. Semoga dengan demikian, Allah akan mewujudkan keinginanmu.

Bila segala sebab telah engkau lakukan namun tetap saja gagal, maka yakinlah bahwa Allah telah memilihkan yang terbaik bagimu, bersabarlah dan serahkan semua ini hanya kepada Allah saja.

Dan untukmu wahai orang tua yang telah dianugerahi anak…

Bersyukurlah kepada Allah dan tunaikanlah amanatmu sebaik-baiknya dengan penuh keikhlasan dan kesabaran, semoga engkau memetik buahnya di dunia dan akhirat.

—————————————————————————————————————

Diketik ulang dari buku “Bekal Menanti si Buah Hati” karya Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi

Artikel muslimah.or.id

Untukmu Wahai Orang Tua yang Belum dan Sudah Dikaruniai Anak

Untukmu wahai orang tua yang belum dikaruniai anak, yakinlah bahwa semua ini merupakan takdir Allah dan berbaik sangkalah engkau kepadaNya

Untukmu wahai orang tua yang belum dikaruniai anak…

Yakinlah bahwa semua ini merupakan takdir Allah dan berbaik sangkalah engkau kepadaNya. Allah Jalla Jalaaluhu berfirman:

???????? ?????? ????????????? ??????????? ???????? ??? ??????? ?????? ????? ??????? ???????? ???????? ????? ??????? ?????????????? ????????????? ?????????? ?????????? ?????????? ??? ??????? ???????? ??????? ??????? ???????

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Asy-Syura: 49-50).

Namun hal ini bukan berarti sama sekali kita berpangku tangan tanpa usaha, perbanyaklah do’a kepada Allah Ta’?l?, janganlah engkau merasa pesimis dan putus asa, sesungguhnya Allah Ta’?l? telah berjanji akan mengabulkan do’a hamba-Nya. Lihatlah para nabi dan orang-orang shalih yang menjadi panutan kita semua, mereka tidak bosan berdo’a kepada Allah, lalu Allah pun mengabulkan do’a mereka.

????? ????? ?????? ?????? ????????? ?????? ??????????? ????????? ??????? ?????? ????? ??????????? ????? ???????????????? ?????? ???????????? ??? ???????? ????????? ?????????? ???????? ?????? ??? ??? ???????? ????????????????? ???????? ???? ??? ????????? ??????????? ????? ??????????? ?????????? ?????? ??????????? ????????? ??????? ???????? ???? ??????? ????? ??? ?????? ????????

Ia berkata Ya Rabb-ku, Sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Rabb-ku. Dan Sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub; dan Jadikanlah ia, Ya Rabb-ku, seorang yang diridhai. Hai Zakaria, Sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan-Nya. (QS. Maryam: 4-7).

Juga, lakukanlah segala usaha untuk mendapatkan anak dengan segala cara yang tidak melanggar syari’at seperti konsultasi dengan para ahli, orang berpengalaman dalam masalah ini, meminum obat-obatan serta ramuan-ramuan, dan lain sebagainya. Semoga dengan demikian, Allah akan mewujudkan keinginanmu.

Bila segala sebab telah engkau lakukan namun tetap saja gagal, maka yakinlah bahwa Allah telah memilihkan yang terbaik bagimu, bersabarlah dan serahkan semua ini hanya kepada Allah saja.

Dan untukmu wahai orang tua yang telah dianugerahi anak…

Bersyukurlah kepada Allah dan tunaikanlah amanatmu sebaik-baiknya dengan penuh keikhlasan dan kesabaran, semoga engkau memetik buahnya di dunia dan akhirat.

—————————————————————————————————————

Diketik ulang dari buku “Bekal Menanti si Buah Hati” karya Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi

Artikel muslimah.or.id

Mengucapkan Cerai Kepada Istri Dengan Maksud Bercanda

Apa hukum bermain-main mengucapkan kata cerai? Jika seorang suami bercanda dengan istrinya lalu mengatakan: “saya cerai kamu”, namun ia mengatakan demikian bukan untuk cerai sungguhan, bagaimana?

Fatwa Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan

Soal:

Apa hukum bermain-main mengucapkan kata cerai? Jika seorang suami bercanda dengan istrinya lalu mengatakan: “saya cerai kamu”, namun ia mengatakan demikian bukan untuk cerai sungguhan, bagaimana?

Jawab:

Jika mengucapkan kata “cerai”, maka telah jatuh talak. Kecuali jika ia mengucapkannya ketika hilang akalnya, atau ketika sangat marah sampai tidak sadar apa yang diucapkan, maka tidak jatuh talak.

Adapun jika akalnya sehat, lalu mengucapkan kata “cerai”, maka jatuh talak. Walaupun itu dalam rangka bercanda atau main-main. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

??????? ?????????? ????? ? ????????????? ????? ? ?????????? ? ???????????? ? ?????????????

tiga hal yang seriusnya dianggap serius, dan bercandanya dianggap serius: nikah, talak, dan ruju’” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, ia berkata: “hasan gharib”).

***

Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/15967

Penerjemah: Yulian Purnama

Artikel Muslimah.or.id

Mengucapkan Cerai Kepada Istri Dengan Maksud Bercanda

Apa hukum bermain-main mengucapkan kata cerai? Jika seorang suami bercanda dengan istrinya lalu mengatakan: “saya cerai kamu”, namun ia mengatakan demikian bukan untuk cerai sungguhan, bagaimana?

Fatwa Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan

Soal:

Apa hukum bermain-main mengucapkan kata cerai? Jika seorang suami bercanda dengan istrinya lalu mengatakan: “saya cerai kamu”, namun ia mengatakan demikian bukan untuk cerai sungguhan, bagaimana?

Jawab:

Jika mengucapkan kata “cerai”, maka telah jatuh talak. Kecuali jika ia mengucapkannya ketika hilang akalnya, atau ketika sangat marah sampai tidak sadar apa yang diucapkan, maka tidak jatuh talak.

Adapun jika akalnya sehat, lalu mengucapkan kata “cerai”, maka jatuh talak. Walaupun itu dalam rangka bercanda atau main-main. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

??????? ?????????? ????? ? ????????????? ????? ? ?????????? ? ???????????? ? ?????????????

tiga hal yang seriusnya dianggap serius, dan bercandanya dianggap serius: nikah, talak, dan ruju’” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, ia berkata: “hasan gharib”).

***

Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/15967

Penerjemah: Yulian Purnama

Artikel Muslimah.or.id

Tiada Pesona Seindah Pesonamu

Berikut ini beberapa kiat dan tips agar pernikahan seindah pelangi hingga mampu meretas sampai surga

Menjadi pasutri yang harmonis dan bahagia suatu hal yang diimpikan banyak orang. Di saat seorang istri masih terlihat seksi lalu sang suami berkata, “Kamu cantik! bisiknya dengan mesra”. Wanita mana yang tak suka dipuji. Ketika suami masih gagah lagi atletis lantas istri berkomentar, ”Mas ganteng, aku cinta padamu”. Saat itu suami akan tersanjung, dunia jadi begitu berbeda penuh berjuta warna.

Begitulah kira-kira adegan singkat betapa indahnya dan manisnya ketika awal mula memadu kasih dan keduanya seolah berenang dalam lautan penuh madu. Hati mereka happy bagaikan burung yang mengepakkan kedua sayapnya ke langit membentang cakrawala, memeluk ufuk nan luas.

Namun seiring berjalannya waktu akankah kehidupan rumah tangga hanya berisi kesenangan semata?. Realitanya justru semakin jauh berlayar dalam samudra kehidupan akan banyak berhadapan dengan angin, badai halilintar dan beragam problematika yang siap menghadang. Tak ada pernikahan yang sepi dari konflik. Bukankah biduk cinta Rasulullah juga pernah mengalami ujian, namun beliau mampu menyelesaikan dengan bijak.

Ada beberapa kiat dan tips agar pernikahan seindah pelangi hingga mampu meretas sampai surga: 

Berbekal Taqwa

Taqwa kepada Allah adalah kunci utama, pembuka rahmat-Nya, terlebih lagi ketika berbagai kemelut melanda.

????????????????????????????????????????????

Berbekallah dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa (QS. al-Baqarah:19).

Pasutri yang mejadikan Al-Qur’an dan Sunnah shahihah dalam memecahkan permasalahan hidup niscaya pernikahannya akan barokah dan bahagia, hidup terasa lebih damai dalam menjalankan taqdirnya. 

Bersemangat menuntut ilmu

Rutinitas kesibukan rumah tangga jangan menyurutkan antusiasme pasutri untuk mencari ilmu syar’i. Disaat banyak pasutri terlena dalam eufhoria sebagai pengantin baru hingga mereka melupakan obsesi-obsesi semasa masih lajang dan mulai sibuk dengan dunia barunya, anda tak perlu terjebak menirunya.

Berumah tangga sangat butuh ilmu dan anda perlu memenej kembali alokasi waktu hingga tetap semangat hadir di majelis ilmu. Tetaplah optimis dalam mencari ilmu, rajin membuka kitab-kitab ulama’, berteman dengan orang yang salih. Pasutri yang berilmu akan lebih percaya diri ketika menghadapi masalah rumah tangga. Tambah anak semangat kian tinggi dalam mencari ilmu.

Jauhi dosa dan maksiat

Jauhi banyak dosa agar rumah tangga kita abadi. Begitu pesan singkat seorang suami kepada sang istri ketika terjadi sengketa di antara mereka. Perbuatan yang haram dilakukan pasutri bisa membuat kehidupan pernikahan hambar bahkan sad ending dengan perceraian ketika mereka tak bisa mencari solusi penyelesaian masalah dengan baik. Saatnya masing-masing pasutri mampu menjaga cinta dan perasaan pasangan, karena cinta pada pasangan karena Allah Ta’ala akan membuat rumah tangga langgeng.

Jangan remehkan urusan ranjang

Tak sedikit kasus perceraian karena ketidakharmonisan hubungan intim pasutri. Sejatinya hubungan intim dalam koridor Islam adalah bagian dari ibadah yang mendatangkan pahala selama ikhlas karena-Nya. Yakinlah hanya hubungan intim dalam bingkai syar’i yang membuat kehidupan lebih bahagia lahir batin dunia akhirat. Islam secara transparan namun santun telah menjabarkannya bagaimana pasutri memadu cinta kasih yang mampu mendatangkan milyaran cinta.

Saatnya anda optimis untuk menjadi sejoli yang sangat penuh obsesif. Katakan pada belahan hati anda, “Tiada pesona selain pesonamu…”.

——————————————————————

Penyusun: Isruwanti Ummu Nashifah

Pemuraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits, S.T, BA

Artikel Muslimah.or.id

 

Benarkah Nafkah Adalah “Uang Jajan” Bagi Istri?

Sebuah tulisan menyatakan bahwa yang disebut nafkah dari suami kepada istri adalah pemberian suami di luar pemenuhan kebutuhan rumah, makan, pakaian dan turunannya yang bebas digunakan istri sesuai keinginannya. Ini adalah pernyataan yang tidak tepat.

Sebuah tulisan di blog muslimah menyatakan,

“kalau kita kembalikan kepada aturan asalnya, yang namanya nafkah itu lebih merupakan ‘gaji’ atau honor dari seorang suami kepada istrinya. Sebagaimana ‘uang jajan’ yang diberikan oleh seorang ayah kepada anaknya.

Adapun kebutuhan rumah tangga, baik untuk makan, pakaian, rumah, listrik, air, sampah dan semuanya, sebenarnya di luar dari nafkah suami kepada istri. Kewajiban mengeluarkan semua biaya itu bukan kewajiban istri, melainkan kewajiban suami”

Inti dari tulisan tersebut menyatakan bahwa yang disebut nafkah dari suami kepada istri adalah pemberian suami di luar pemenuhan kebutuhan rumah, makan, pakaian dan turunannya yang bebas digunakan istri sesuai keinginannya. Dan menurut tulisan ini, nafkah dari suami adalah sebagaimana uang jajan dari orang tua kepada anaknya.

Sanggahan untuk pernyataan ini, terdiri dari beberapa poin:

1. Nafkah suami kepada istri adalah kewajiban, dan berdosa jika tidak menunaikannya

Banyak dalil yang menunjukkan wajibnya seorang suami memberi nafkah kepada istri. Allah Ta’ala berfirman:

?????????? ??????????? ????? ?????????? ????? ??????? ??????? ?????????? ????? ?????? ??????? ?????????? ???? ?????????????

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka” (QS. An Nisa: 34).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan ayat ‘dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka‘: “yaitu berupa mahar, nafkah dan tanggungan yang Allah wajibkan kepada para lelaki untuk ditunaikan terhadap istri mereka” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/292).

Allah Ta’ala juga berfirman:

????????? ??? ?????? ???? ???????? ?????? ?????? ???????? ???????? ??????????? ?????? ?????? ??????? ??? ????????? ??????? ??????? ?????? ??? ??????? ?????????? ??????? ?????? ?????? ??????? .

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan” (QS. Ath Thalaq: 7).

Syaikh Muhammad bin Muhammad Mukhtar Asy Syanqithi mengatakan, “Para ulama menyatakan, dalam ayat yang mulia ini, ada 2 perkara penting:

  1. Wajibnya nafkah, yaitu dalam kalimat  ?????????. Sehingga memberi nafkah pada istri hukumnya wajib.
  2. Nafkah dikaitkan dengan keadaan si suami.  Jika suami adalah orang kaya, sesuai dengan apa yang Allah karuniakan baginya dari kekayaannya. Jika suami miskin, maka semampunya sesuai dengan apa yang Allah berikan padanya dalam kondisi miskin tersebut” (Sumber: website pribadi syaikh Muhammad Asy Syanqithi).

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

??? ??????? ???? ?? ???? ?? ????

cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya” (HR. Abu Daud 1692, Ibnu Hibban 4240, dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih Abi Daud).

Maka wajib hukumnya seorang suami memberi nafkah kepada istrinya dan keluarganya, dan bila itu tidak dilaksanakan maka ia berdosa.

Dari sini bisa kita ambil faidah, bahwa penyataan “nafkah dari suami adalah sebagaimana uang jajan” memiliki konsekuensi bahwa suami yang tidak memberikan istrinya “uang jajan” berarti ia belum memberikan nafkah kepada istri, belum menunaikan kewajibannya dan ia berdosa. Tentu ini adalah konsekuensi yang berat jika tidak didukung oleh dalil syar’i.

2. Definisi nafkah istri secara syar’i adalah kebutuhan pokok dan umumnya berupa quut (makanan pokok), pakaian, tempat tinggal dan turunan-turunannya

Setelah mengetahui wajibnya nafkah suami kepada istri, kita telaah apa yang dimaksud nafkah. Nafkah atau an nafaqah secara bahasa artinya pengeluaran. Dalam kitab Al Fiqhul Muyassar (1/337) dijelaskan,

?????? ???: ?????? ?? ???????? ??? ?? ????? ????? ??????? ???????? ??? ?????? ??????? ??? ?? ?????

“An Nafaqah secara bahasa diambil dari dari kata al infaq, yang pada dasarnya bermakna: pengeluaran. Dan kata al infaq ini tidak digunakan kecuali dalam hal yang baik”.

Maka semua jenis pengeluaran harta itu secara bahasa dapat disebut infaq atau nafaqah, termasuk pula pengeluaran harta seorang suami untuk istrinya.

Sedangkan, makna nafaqah secara istilah (dan ini yang kita bahas), para ulama mendefinisikan sebagai berikut. Dalam Majma’ Al Anhar (1/484), kitab fiqih Hanafi, disebutkan definisi nafaqah:

??? ??????????? ???????? ??????? ?????? ???? ?????? ????????? ??????????? ?????????

“sesuatu yang keberlangsungan sesuatu ditegakkan di atasnya, semisal makanan, pakaian dan tempat tinggal”

Dalam Fathul Qadir Ibnu Hammam (4/287) disebutkan juga definisi nafaqah,

???????????? ????? ????????? ????? ???? ?????????

“menyediakan untuk sesuatu yang bisa membuatnya tetap ada dan berlangsung”.

Dalam Ad Durr Al Mukhtar, kitab fiqih Syafi’i, disebutkan:

???? ?????????? ????????????? ????????????

“nafaqah adalah makanan, pakaian dan tempat tinggal” (dinukil dari Ar Raddul Mukhtar, 3/572).

Dalam Al Fiqhul Muyassar (1/337) juga disebutkan:

??????: ????? ?? ???????? ???????? ?????? ?????? ???????? ????????

“secara syar’i, nafaqah artinya memberikan kecukupan kepada orang yang menjadi tanggungannya dengan ma’ruf berupa quut (makanan pokok), pakaian, tempat tinggal dan turunan-turunan dari tiga hal tersebut”

Jika kita telaah perkataan para ulama, maka kita akan dapati mereka mendefinisikan bahwa nafkah itu tidak lepas dari 2 hal:

  1. Nafkah adalah sesuatu yang membuat pihak yang diberi nafkah tetap eksis. Maka nafkah untuk istri adalah memberikan sesuatu (sebab) yang membuat istri tetap hidup, tetap sehat dan tergaja sebagaimana mestinya manusia. Dengan kata lain, nafkah bisa kita sebut dengan kebutuhan primer.
  2. Nafkah pada umumnya berupa tiga hal: makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Yang tiga hal ini berdasarikan dalil syar’i dan juga disepakati setiap orang yang berakal merupakan kebutuhan primer manusia.

Maka, memaknai nafkah sebagai “uang jajan” sama sekali tidak sesuai dengan definisi nafkah yang disebutkan para ulama. Karena “uang jajan” bukanlah kebutuhan primer.

3. Batasan nafkah diperselisihkan ulama, namun belum diketahui adalah ulama yang menyebutkan “uang jajan” sebagai bentuk dari nafkah

Telah disebutkan bahwa pada umumnya para ulama menyebutkan nafkah mencakup tiga hal: makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Abu Ishaq Al Hambali dalam Al Mubdi’ ketika menjelaskan nafkah beliau berkata:

???? ???? ???? ?????? ?? ????? ?????? ?????? ( ??????? )

“maka wajib bagi suami untuk memenuhi semua kebutuhan istrinya berupa makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggal”

Dan inilah yang ditunjukkan oleh dalil-dalil syar’i.

1. Nafkah makanan & 2. Nafkah pakaian

Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

?????? ????? ?????? ?????????? ?????????

wajib bagi kalian (para suami) memberikan rizki (makanan) dan pakaian dengan ma’ruf kepada mereka (para istri)” (HR. Muslim 1218).

Juga hadits yang diriwayatkan dari Mu’awiyah Al Qusyairi:

???: ?? ???? ????! ?? ???? ???? ?????? ????? ???: ?? ????????? ???? ???????? ??????????? ???? ??????? ??? ????? ?????? ??? ?????????? ??? ????? ???? ?? ?????

“aku berkata: ‘wahai Rasulullah, apa saja hak istri yang wajib kami tunaikan?’. Beliau bersabda: ‘engkau beri ia makan jika engkau makan, engkau beri ia pakaian jika engkau berpakaian, dan jangan engkau memukul wajahnya, jangan mencelanya, dan jangan memboikotnya kecuali di rumah‘” (HR. Abu Daud 2142 dihasankan Al Albani dalam Adabuz Zifaf, 208).

3. Nafkah tempat tinggal

Allah Ta’ala berfirman:

?????????????? ???? ?????? ?????????? ???? ??????????

Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu” (QS. Ath Thalaq: 6).

Ayat ini membahas mengenai wanita-wanita yang ditalak, Allah perintahkan para suami untuk tidak mengeluarkan mereka tidak rumahnya hingga habis masa iddah. Namun para ulama mengambil istinbath dari ayat ini bahwa wajib bagi suami untuk memberikan tempat tinggal bagi istrinya sesuai dengan kemampuannya (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Syaikh Husain Al Awaisyah, 5/181).

Namun para ulama berselisih pendapat mengenai kadar dari masing-masing tiga hal ini. Berapa kadar makanan yang wajib, berapa pakaian yang mesti diberikan, dan bagaimana kadar minimal tempat tinggal yang wajib? Para ulama khilaf. Namun yang tepat insya Allah, batasan semua ini kembali kepada ‘urf (adat kebiasaan) daerah masing-masing. Dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Durarus Saniyyah (3/150) dikatakan:

???? ?????? ????? ??? ????? ?? ????? ?????? ?????? ????? ???? ??? ??? ???? ??????? ???? ????? ??????? ????? ?????? ????????? ???? ??????? ?????????

“nafkah wajib untuk istri berupa makanan, pakaian dan tempat tinggal dan yang semisal itu yang urgensinya setara. Dan hal ini berbeda-beda tergantung pada keadaan negeri dan zaman, juga tergantung keadaan kedua suami-istri dan adat kebiasaan mereka berdua”

Demikian juga, sebagian ulama menyebutkan beberapa hal lainnya selain tiga hal ini, yang dikategorikan termasuk nafkah. Dalam kitab Raudhatut Thalibin (9/40-52) disebutkan 6 hal yang termasuk nafkah:

  1. Ath Tha’am (makanan pokok)
  2. Al ‘Udm dan sejenisnya (makanan yang menemani makanan pokok; lauk-pauk)
  3. Al Khadim (pembantu)
  4. Al Kiswah (pakaian)
  5. Alaatut tanazhuf (alat-alat kebersihan)
  6. Al Iskan (tempat tinggal)

Namun yang tepat, sebagaimana sudah dijelaskan, batasan cakupan nafkah ini kembali kepada ‘urf (adat kebiasaan). Semisal jika memang adat setempat menganggap pembantu adalah hal yang wajib disediakan suami sebagai nafkah, maka wajib baginya menyediakan pembantu, sesuai dengan kemampuannya.

Dan kami belum pernah mendengar atau membaca pernyataan ulama bahwa “uang jajan” atau yang semakna dengan itu sebagai bentuk nafkah.

4. Pemberian suami selain dari nafkah adalah bentuk sedekah yang paling afdhal

Setelah memahami makna dan batasan nafkah, perlu kita tekankan bahwa bukan berarti suami tidak perlu memberikan hal lain kepada istrinya selain nafkah yang wajib. Jadi, bukan berarti “uang jajan” tidak perlu diberikan kepada istri. Bahkan pemberian di luar nafkah yang wajib merupakan sedekah yang paling afdhal. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

?????? ??????? : ?????? ??????? ??????? ? ?????? ??????? ?? ????? ? ?????? ??????? ?? ????? ????? ? ? ?????? ??????? ??? ????? ? ??????? ???? ??????? ??? ?????

empat jenis dinar: dinar yang engkau berikan kepada orang miskin, dinas yang engkau berikan untuk membebaskan budak, dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, dan dinar yang engkau infakkan untuk keluargamu, yang paling afdhal adalah yang engkau infakkan untuk keluargamu” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad 578, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Adabil Mufrad).

Maka seorang suami sangat dianjurkan memberikan sedekah kepada keluarganya, terutama yang dapat menunjang keshalihan dan kebaikan keluarganya. Suami memberikan mereka buku-buku bermanfaat, alat-alat belajar, pakaian-pakaian tambahan, kendaraan, dan sebagainya. Termasuk juga “uang jajan” yang bisa digunakan oleh sang istri untuk kebutuhannya, ini merupakan sedekah yang afdhal. Tentunya sesuai dengan kemampuan suami dan tanpa berlebih-lebihan.

5. Berbicara masalah agama dengan dalil dan pemahaman para ulama, tidak dengan logika dan hawa nafsu

Sangat disayangkan tulisan dari blog tersebut, dari awal hingga huruf terakhir, tidak menyebutkan satu dalil pun yang melandasi pernyataannya. Sehingga terkesan hanya mengedepankan logika dan opini semata. Padahal berbicara agama tidak layak hanya berdasarkan logika dan opini, semua mesti dikembalikan kepada dalil Al Qur’an dan As Sunnah. Allah Ta’ala berfirman:

?????? ????????????? ??? ?????? ?????????? ????? ??????? ???????????? ???? ???????? ??????????? ????????? ??????????? ???????? ?????? ?????? ?????????? ??????????

Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59).

Allah ta’ala juga berfirman,

????? ????????? ??? ??????????? ?????? ???????????? ?????? ?????? ?????????? ????? ??? ???????? ??? ???????????? ??????? ?????? ???????? ????????????? ??????????

Maka demi Rabbmu, mereka tidaklah beriman sampai mereka menjadikanmu (Muhammad) sebagai hakim di dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak mendapati pada diri mereka rasa keberatan terhadap apa yang kamu putuskan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (QS. An-Nisaa: 65).

Dan Allah ta’ala juga melarang hamba-Nya berbicara agama tanpa ilmu:

???? ???????? ??????? ??????? ???????????? ??? ?????? ??????? ????? ?????? ??????????? ??????????? ???????? ???????? ?????? ?????????? ????????? ??? ???? ????????? ???? ?????????? ?????? ????????? ????? ??????? ??? ??? ???????????

Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) berkata-kata tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al A’raf: 33).

Terutama dalam mewajibkan atau mengharamkan sesuatu. Tidak hanya membutuhkan dalil, namun juga pemahaman yang benar dan penguasaan ilmu-ilmu alat untuk memahami dalil. Semoga ini bisa menjadi nasehat untuk kita semua.

Demikian risalah singkat ini, semoga bermanfaat. Semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada kita semua. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.

***

Penulis: Yulian Purnama

Artikel Muslimah.Or.Id

Perceraian, Sebab-Sebab, dan Solusinya (Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, M.A.)

Sering kita melihat berbagai macam kasus rumah tangga yang mengakibatkan terjadinya kasus perceraian. Dan ini terjadi di mana saja, bukan saja di negri kita. Perceraian di dalam Islam adalah jalan terakhir yang harus ditempuh kedua pasangan ketika semua jalan telah buntu.

Perkara perceraian merupakan perkara yang besar. Sampai-sampai setan sangat berupaya untuk bisa memisahkan hubungan antara suami dan istri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

????? ???????? ?????? ???????? ????? ???????? ????? ???????? ?????????? ????????????? ????? ?????????? ???????????? ????????? ??????? ????????? ?????????: ???????? ????? ???????. ?????: ??? ???????? ???????. ????? ???????? ?????????? ?????????: ??? ?????????? ?????? ????????? ???????? ???????? ???????????. ?????: ??????????? ?????? ?????????: ?????? ??????

“Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air lantas ia mengirimkan tentara-tentaranya. Maka yang paling dekat di antara mereka dengan iblis adalah yang paling besar fitnah yang ditimbulkannya. Datang salah seorang dari anak buah iblis menghadap iblis kemudian berkata, “Aku telah melakukan ini dan itu.” Iblis menjawab, “Engkau belum melakukan apa-apa.” Lalu datang setan yang lain melaporkan, “Tidaklah aku meninggalkan dia (orang yang diganggunya) hingga aku berhasil memisahkan dia dengan istrinya.” Maka iblis pun mendekatkan anak buahnya tersebut dengan dirinya dan memujinya, “Engkaulah yang terbaik.” (HR. Muslim)

Silakan download kajian dengan tema “Perceraian, Sebab-Sebab, dan Solusinya”, yang disampaikan oleh Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, M.A. pada 10 April 2015 di Radio Rodja dan RodjaTV. Semoga bermanfaat.

Tulisan Perceraian, Sebab-Sebab, dan Solusinya (Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, M.A.) ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.

Ceramah agama Islam oleh: Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, M.A.

Berikut ini rekaman audio dari kajian yang disampaikan di Radio Rodja dan Rodja TV pada Kamis, 20 Jumadal Akhirah 1436 / 10 April 2015. Kajian atau ceramah agama Islam tematik ini disampaikan oleh Ustadz Abu Fairuz, M.A. dengan pembahasan seputar “Perceraian, Sebab-Sebab, dan Solusinya“.

Ringkasan Ceramah Agama Islam: Perceraian, Sebab-Sebab, dan Solusinya

Sering kita melihat berbagai macam kasus rumah tangga yang mengakibatkan terjadinya kasus perceraian. Dan ini terjadi di mana saja, bukan saja di negri kita. Perceraian di dalam Islam adalah jalan terakhir yang harus ditempuh kedua pasangan ketika semua jalan telah buntu.

Perkara perceraian merupakan perkara yang besar. Sampai-sampai setan sangat berupaya untuk bisa memisahkan hubungan antara suami dan istri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

????? ???????? ?????? ???????? ????? ???????? ????? ???????? ?????????? ????????????? ????? ?????????? ???????????? ????????? ??????? ????????? ?????????: ???????? ????? ???????. ?????: ??? ???????? ???????. ????? ???????? ?????????? ?????????: ??? ?????????? ?????? ????????? ???????? ???????? ???????????. ?????: ??????????? ?????? ?????????: ?????? ??????

“Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air lantas ia mengirimkan tentara-tentaranya. Maka yang paling dekat di antara mereka dengan iblis adalah yang paling besar fitnah yang ditimbulkannya. Datang salah seorang dari anak buah iblis menghadap iblis kemudian berkata, “Aku telah melakukan ini dan itu.” Iblis menjawab, “Engkau belum melakukan apa-apa.” Lalu datang setan yang lain melaporkan, “Tidaklah aku meninggalkan dia (orang yang diganggunya) hingga aku berhasil memisahkan dia dengan istrinya.” Maka iblis pun mendekatkan anak buahnya tersebut dengan dirinya dan memujinya, “Engkaulah yang terbaik.” (HR. Muslim)

Hadits yang mulia ini memberikan gambaran kepada kita bahwa Iblis sangat menyukai perpisahan antara seorang laki-laki dengan istrinya. Bahkan Iblis menjadikan memecah belah hubungan antara suami dan istri itu sebagai target utama. Hal itu karena Iblis berusaha merusakan masyarakat melalui rusaknya rumah tangga terlebih dahulu. Jika rumah tangga rusak dan kacau, maka otomatis masyarakat juga akan kacau dan rusak.

Mari simak ceramah agama Islam yang membahas tentang permasalah keluaga ini, dengan mendengarkannya secara langsung melalui player yang tersedia di bawah ini atau download rekamannya sekarang juga.

Download Ceramah: Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan – Perceraian, Sebab-Sebab, dan Solusinya

Jangan lupa, share ke Facebook, Twitter, dan Google+. Semoga menjadi amal yang bermanfaat bagi diri kita karena telah membagikan kebaikan ini kepada saudara Muslimin. Aamiin.

Tulisan Perceraian, Sebab-Sebab, dan Solusinya (Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, M.A.) ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.

Antara Dilema dan Galau Menanti Jodoh

Indahnya ketika akad telah dikumandangkan, berjuta doa membanjiri pasangan pasutri baru yang sedang dilanda asmara. Keharmonisan rumah tangga telah terbayang indah nan penuh warna. Euforia walimatul ‘urs semakin menambah suasana berbunga-bunga. Menikah merupakan dambaan setiap insan manusia. Menikah juga tak hanya sarana menyalurkan cinta dan nafsu belaka tanpa menuai pahala dari Allah Ta’ala. Menjadi keluarga […]

Indahnya ketika akad telah dikumandangkan, berjuta doa membanjiri pasangan pasutri baru yang sedang dilanda asmara. Keharmonisan rumah tangga telah terbayang indah nan penuh warna. Euforia walimatul ‘urs semakin menambah suasana berbunga-bunga.

Menikah merupakan dambaan setiap insan manusia. Menikah juga tak hanya sarana menyalurkan cinta dan nafsu belaka tanpa menuai pahala dari Allah Ta’ala. Menjadi keluarga yang bahagia, penuh dengan rasa cinta dalam rumah tangga merupakan impian dan idaman. Sungguh indah bersanding dengan seorang yang didambakan. Maka tak heran jika ada yang memasang berlembar-lembar kriteria diajukan demi mendapatkan pasangan yang diimpikan.

Mematok seabrek kriteria bukanlah hal yang salah, karena setiap orang mengidamkan pasangan terbaik sebagai pasangan hidupnya demi kebahagiaan rumah tangga kelak. Namun, ingatlah bahwa kriteria-kriteria itu bukanlah harga mutlak. Karena tidak ada manusia yang sempurna di dunia. Layaknya matahari dan bulan, mereka sama-sama memiliki fungsi sendiri-sendiri. Bulan datang ketika malam tiba memberikan penerangan dalam kegelapan malam. Pun dengan matahari yang datang memberikan cahaya terbaiknya untuk menghangatkan bumi pertiwi.

Termotivasi dan berkeinginan menikah sampai mencapai level tertentu merupakan anugerah yang indah dari Allah Ta’ala. Dengan menyadari bahwa laki-laki dan perempuan merupakan kekuasaan-Nya, Allah Ta’ala berfirman,

?????? ????????? ???? ?????? ?????? ???? ???????????? ?????????? ???????????? ????????? ???????? ?????????? ????????? ?????????? ????? ??? ?????? ????????? ???????? ??????????????

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. ” (QS. Ar-Ruum: 21).

Menikah adalah hal yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan kita berusaha untuk selalu mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

?????? ?????? ???? ???????? ???????? ??????

“Barang siapa yang membenci sunnahku, maka ia bukanlah termasuk umatku.” (HR. Bukhari no.5063 dan Muslim no.1401).
Berharap pahala dari kehidupan rumah tangga, mendapat keturunan yang shalih dan shalihah. Menjadi taman untuk mendirikan syari’at agama pertama bagi anak-anaknya.

Janganlah keinginan menikah yang telah menghujam dalam hati sirna karena terlalu tingginya patokan kriteria yang diajukan. Jikalau ternyata tidak ditemukan yang sama dengan kriteria yang diinginkan, maka tidak boleh merugikan dirinya dengan menunda-nunda pernikahan demi menunggu dan mendapatkan yang sama persis dengan keinginannya. Sehingga ia tidak sadar dangan kondisinya sendiri yang telah berada pada ambang waktu untuk harus menikah. Sungguh hal yang sangat merugikan jika standar yang diinginkan tertalu tinggi malah menjadi duri bagi dirinya sendiri maupun orang-orang disekitarnya.

“Apabila engkau mendamba seorang yang berbudi tanpa cela, mungkinkah kiranya gaharu menebarkan wanginya tanpa asap?” (Majma’ Al-Hikam wal Amtsal fi Asy-Syi’r Al-‘Arabi).

Kalimat di atas telah menyadarkan dan mengajari kita, bahwa tidak mungkin seseorang akan mendapatkan pasangan yang sempurna tanpa cela. Oleh karenanya, buat apa menunda pernikahan karena terhalang sebuah kriteria selangit yang belum sesuai keinginan?

Seperti ungkapan yang sering didengar,
“Apabila Anda tidak memiliki kualitas sebaik Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka jangan terlalu berangan tinggi bahwa Anda akan mendapat istri seperti ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Bilamana Anda bukan seperti ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, maka jangan terlalu bermimpi mendapatkan wanita sebagaimana Fathimah radhiyallahu ‘anha.”

Alangkah lebih baiknya ketika kita tidak terlalu neko-neko dalam menentukan kriteria calon pasangan kita. “Ketika kamu ingin mendapatkan yang shalih, maka shalihahkan dulu dirimu.”, begitu juga sebaliknya. Agar kita senantiasa sadar atas segala kemampuan dan keterbatasan yang dimiliki. Tidak hanya menuntut namun berusahalah menjadi penurut bagi suami kita kelak.

1. Berusahalah menjadi pribadi yang senantiasa terus menerus memperbaiki diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih taat pada Allah serta Rasul-Nya.
Ingatlah janji Allah Ta’ala dalam firman-Nya. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan mengingkari janji. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
????????????? ?????????????? ??????????????? ?????????????? ??????????????? ?????????????? ??????????????? ?????????????? ????????? ???????????? ?????? ?????????? ?????? ??????????
???????? ???????
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” (QS. An-Nuur: 26).

2. Perbaiki niat
Tanyakan pada diri sendiri apakah tujuan anda menikah? Karena beribadah? Menunaikan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Menyalurkan hasrat kondrat manusiawi?
Pasti akan didapat jawaban yang berbeda-beda. Sesuai dengan apa tujuan mereka menikah. Namun Allah Ta’ala telah berfirman dalam kitab-Nya,
????? ???????? ???????? ??????????? ?????? ?????????????
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Qs. Adz-Dzariat: 56).
Terkandung manifestasi dari tujuan diciptakannya manusia di muka bumi ini, yaitu untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karenanya, sudah sepantasnya dalam melaksanakan segala amalan yang kita kerjakan tentulah akan berpulang pada tujuan awal.

3. Bekali diri dengan ilmu
Ketika bahtera rumah tangga telah melaju jauh, berkibar bak kapal pesiar yang akan terus berjalan mengarungi samudra kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan. Dalam sebuah perjalanan mengarungi samudra pastilah terdapat berbagai ritangan dan hambatan. Ombak yang datang menghantam, hujan, angin, dan badai yang kapan saja mengancam. Oleh karenanya, nahkoda kapal haruslah siap kapanpun rintangan itu datang menghadang. Mustahil seorang nahkoda dapat mengendalikan kapalnya tanpa berbekal ilmu. Begitu pula dengan kita yang sedang menanti pasangan yang diidamkan. Persiapakanlah diri dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Agar senantiasa lebih siap dan bijak dalam mempersiapkan rumah tangga yang diidamkan bersama pasangan.

Menikah sungguhnya sangat menjaga
Menjaga pandangan, hati, lisan, tangan dari yang diharamkan-Nya
Lalu menggunakan untuk meraih pahala dan keridhoan-Nya
Bentuk perilakunya sungguh sama
Pujian, sanjungan, sentuhan, perhatian, rindu, cinta
Namun jika tidak dimulai dengan ikatan agama
Semua perbuatan itu hanya akan berbuah luka
Bahagiakan diri dengan memulai dengan niat yang suci
Akad yang disaksikan Ilahi
Insya Allah keberkahan akan menghampiri

Semoga Allah Ta’ala mempermudah langkah kita untuk menuju ke jenjang pernikahan, mempertemukan kepada seseorang yang diidam-idamkan. Allahu a’lam

Penulis : Ummu Shafiyyah Lia Wijayanti Wibowo
——————————————-
Artikel muslimah.or.id

Benarkah Istri Tidak Wajib Mengerjakan Pekerjaan Rumah Tangga?

Apakah benar bahwasanya pekerjaan rumah seperti memasak dan mencuci dan selainnya bukan merupakan kewajiban atas seorang istri di rumah? Dan pelayanannya terhadap suaminya adalah semata-mata adalah karena perbuatan baiknya terhadap suami?

Fatwa Syaikh Sulaiman Ar Ruhaili

Soal:

Apakah benar bahwasanya pekerjaan rumah seperti memasak dan mencuci dan selainnya bukan merupakan kewajiban atas seorang istri di rumah? Dan pelayanannya terhadap suaminya adalah semata-mata adalah karena perbuatan baiknya terhadap suami? Apakah seorang istri berdosa jika dia tidak mentaati suaminya jika ia menolak mengerjakan pekerjaan rumah tangganya?

Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

Jawab:

Alhamdulillah, adapun yang disebutkan dalam pertanyaan, memang merupakan pendapat sebagian ahli fikih. Akan tetapi pendapat ini marjuh (lemah). Ini dikarenakan dua hal:

Pertama, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

??????????????? ?????????????

Dan pergaulilah mereka (istri-istri kalian) dengan cara yang ma’ruf” (QS An Nisaa’:19)

Dan firman-Nya

????????? ?????? ???????? ??????????? ??????????????

Dan hak mereka semisal kewajiban mereka dengan cara yang ma’ruf” (QS Al Baqoroh: 228)

Dan yang dimaksud dengan ‘urf dalam ayat-ayat ini, adalah sesuatu yang dikenal dan berlaku di kebiasaan masyarakat muslimin dan tidak bertentangan dengan syariat Allah subhanahu wa ta’ala.

Maka wajib atas seorang istri untuk mempergauli suaminya sebagaimana yang berlaku dalam kebiasaan masyarakat selama tidak menyelisihi syariat Allah. Dan telah ada kebiasaan yang berlaku di masyarakat muslim dahulu dan sekarang bahwasanya istri melayani suaminya. Dan seorang wanita hanya dapat melayani suaminya dengan sempurna di dalam rumahnya.

Bagaimana bisa pergaulan suami istri bisa baik dan sesuai dengan ‘urf kecuali dengan pelayanan istri kepada suaminya?

Maka kedua ayat di atas adalah dalil yang menunjukkan bahwasanya wajib atas seorang istri wajib memperlakukan dan mempergauli suaminya dengan kebiasaan yang berlaku di masyarakat tanpa meremehkan atau berlebih-lebihan dalam perkara ini.

Dan telah kami sebutkan bahwasanya kebiasaan yang ada sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga saat ini adalah seorang istri melayani suaminya.

Kedua, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para istri agar taat kepada suami mereka. Dan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan hal ini dengan sabda Beliau,

???? ?????? ???????????? ???? ???????? ????????? ?????????? ?????????? ???? ???????? ???????????

andaikan aku dibolehkan untuk memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain, sungguh aku akan memerintahkan seorang wanita untuk bersujud kepada istrinya

Ini karena besarnya hak suami atas istrinya. Dan apabila suami memerintahkan sesuatu kepada istri dan sang istri menolaknya sehingga membuat marah sang suami, maka akan marah pula para malaikat rahmat. Maka jika suami memerintahkan kepada istri untuk melayaninya, wajib atas istri untuk menurutinya.

Ini merupakan hukum syar’i dan inilah pendapat mayoritas ulama dan inilah yang benar. Dan dikecualikan dari perkara ini satu kondisi di mana pada suatu adat kebiasaan masyarakat tertentu, yang disana biasanya istri tidak melayani para suami. Maka ini pengecualian.

Maka jika seorang wanita berasal dari suatu golongan yang dikenal dalam sebuah masyarakat bahwasanya wanita dari golongan ini disebabkan kedudukan dan kemuliaannya tidak perlu melayani suaminya, maka kasus ini keluar dari perkataan mayoritas ulama.

Lalu saya ingin berpesan, untuk setiap mereka yang berucap kepada orang-orang agar mereka paham bahwa tidak setiap yang diketahui itu disampaikan. Dan selayaknya atas mereka untuk berucap tentang hal-hal yang memperbaiki kehidupan mereka, menyebarkan kebahagiaan dalam keluarga-keluarga mereka. Karena kebahagiaan keluarga adalah suatu hal yang dicari-cari dan diidam-idamkan.

Bagaimana mungkin ada kebahagiaan antara suami dan istrinya jika sang istri mendengar dari orang yang berilmu atau nampak berilmu berkata pada dirinya “tidak wajib atas anda melayani suami Anda”. Sehingga saat sang suami minta makan (minta agar dimasakkan makanan) sang istri berkilah “Demi Allah, Syaikh/Ustadz bilang saya tidak wajib melayanimu wahai suamiku”?!?

Bagaimana mungkin terwujud rasa cinta kasih antara suami istri yang dijunjung syariat? Bagaimana terwujud pergaulan yang ma’ruf? Ini malah menyelisihi maksud-maksud syariat (maqoshid asy syari’ah).

Karena itu saudara-saudaraku, termasuk pemahaman yang baik dalam beragama, adalah tidak menyebarkan setiap yang kalian ketahui. Akan tetapi sebarkanlah sesuatu yang mewujudkan maksud-maksud syariat (maqoshid asy syari’ah). Sebagian orang –Allahul musta’an (Allah-lah tempat meminta pertolongan)– karena kedangkalan ilmunya atau kedangkalan fikihnya, mereka membaca kitab-kitab. Lalu ketika mereka menemukan sesuatu yang asing/unik mereka tampakkan dan sebarkan kepada orang-orang seraya mengatakan, “ini merupakan pendapat ulama”. Memang benar perkataan ini dikatakan oleh sebagian ulama, akan tetapi perkataan ini tidak membuahkan kebaikan di masyarakat.

Dan inilah perkara yang selalu saya ingatkan wahai saudaraku, jika seseorang hendak mengatakan sesuatu tentang agama maka wajib dia memperhatikan 3 hal yang harus dipenuhi sebelumnya:

  1. Perkataan tersebut benar. (bukan kepalsuan, pent) dan perkataan tersebut sesuai dengan dalil syariat yang valid. Dan tidak semua yang dikatakan para (sebagian) ulama itu benar dan sesuai dengan dalil.
  2. Niat dan maksud perkataan itu harus benar. Dia harus meniatkan apa yang ia katakan itu dalam rangka mengharap wajah Allah subhanahu wa ta’ala. Jangan sampai ia berkata-kata (dalam masalah agama) untuk mendapatkan wanita, atau dia berkeinginan untuk mendapatkan perhatian orang lain karena dia mendatangkan sesuatu yang asing sehingga orang-orang tertarik. Haruslah niatnya karena mengharap wajah Allah subhanahu wa ta’ala.
  3. Dampak dari perkataan itu benar. Sehingga perkataan tersebut membuahkan kebenaran, menyebarkan kebaikan, dan menuntun orang kepada kebaikan. Jika konsekuensi suatu perkataan itu lebih banyak keburukannya daripada kebaikannya, maka tidak boleh seseorang mengucapkannya dan menyebarkannya.

Perkara ini selayaknya dijelaskan kepada semua orang.

Wahai sekalian suami dan istri. Selayaknyalah pergaulan yang ma’ruf, kebahagiaan, dan ketenangan rumah tangga menjadi orientasi/dasar kalian. Demi Allah tidaklah hati menjadi tentram sampai rumah tangga itu tentram. Dan tidak akan tentram rumah tangga sampai keluarga bersatu di bawah naungan Kitabullah, sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, rasa cinta, dan pergaulan yang baik.

Dan saya memiliki dua risalah yang telah dicetak, yang pertama berjudul “asbabu sa’adatil usar” (sebab-sebab kebahagiaan keluarga), dan yang kedua berjudul “huququ azzawjayn” (hak dan kewajiban suami dan istri) yang keduanya saya tuliskan berdasarkan Alkitab dan AsSunnah. Dan saya berharap semoga dengan kedua tulisan saya memberikan kebaikan kepada keluarga kaum muslimin. Allahu a’lam

 

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=HqOHDqmlbho

Penerjemah: Auf Ali

Artikel Muslimah.Or.Id

Jadilah Istri Yang Romantis, Wahai Putriku

Segeralah -wahai putriku- engkau mengungkapakan rasa cinta dan tutur kata yang baik, sehingga telinga suami biasa mendengarnya. Jika engkau tidak membiasakannya, maka jangan engkau harapkan akan ada imbalan berupa kata-kata manis darinya

(Sebuah pesan dari seorang ibu)

Wahai putriku, bacalah pesan-pesanku ini :

Putriku …
Jangan engkau kira, bahwa pernikahan itu hanya cinta dan kehidupan yang penuh dengan perasaan yang menyenangkan hati,  kata-kata lembut yang engkau dengar siang malam…

Putriku …
Janganlah heran jika engkau telah mempersiapkan malam yang romantis dengan segenap kemampuanmu, tiba-tiba suamimu menemuimu seolah-olah engkau tidak ada …
Walaupun engkau berupaya untuk merayunya, namun suamimu berkata dengan tenang: “Saya tidak punya waktu untuk hal ini.”
Atau berkata: “Saya sedang sibuk.”

Putriku …
Janganlah heran jika suamimu tahu engkau sedang sakit, tapi dia lupa menanyakan keadaanmu…
Jangan heran jika suamimu kurang memperhatikan untuk mengagumi kecantikanmu dan rumahmu yang rapi…
Jangan heran jika engkau tidak mendengar darinya ucapan cinta dan rayuan…

Putriku …
Janganlah engkau menunggu bahwa perahu bisa berlabuh diatas daratan yang kering…
Segeralah engkau yang mendahului  sebelum suamimu, janganlah engkau menanti darinya…

Ingatlah putriku…
Sesungguhnya lingkungan suamimu berbeda dengan lingkunganmu, kadang suamimu berada di lingkungan yang keras, atau ibu-bapaknya sibuk, sehingga dalam kehidupannya tidak mendengar kata-kata cinta dan kasih sayang, dsb…

Ingatlah …
Bahwa seorang suami masuk kedalam kehidupan rumah tangga dalam keadaan khawatir tidak mampu memikul tanggung jawabnya, karena tanggung jawab laki-laki lebih besar daripada tanggung jawab perempuan, sehingga ada perbedaan yang jelas sekali …
Karena mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan rumah tangga merupakan tanggung jawabnya…
Maka pikirannya sibuk dengan hal-hal seperti itu, dan dia tidak berpikir seperti yang engkau pikirkan putriku …

Ingatlah  …
Bahwa tabiat laki-laki berbeda dengan tabiat wanita…
Ini merupakan fithrah masing-masing dari keduannya…
Janganlah engkau berharap untuk  dapat mengubah tabiat dan fithrah dalam waktu singkat…

Ingatlah …
Bahwa pekerjaan laki-laki itu  penuh dengan problem yang amat berat… yang akan memberikan pengaruh kepada urat syarafnya setiap saat…

Ingatlah …
Bahwa laki-laki itu berbeda-beda dalam cara mengungkapkan perasaan mereka:

  • Ada laki-laki yang pandai dalam seni mengungkapkan perasaannya,
  • Ada yang mengungkapkan dengan perbuatannya,
  • Ada yang kehabisan kata-kata sehingga tidak sanggup berbicara…

Maka terimalah suamimu dengan keadaan apapun, ucapkan pujian kepada Allah, dan jangan minta hal yang lebih yang tidak ada pada suamimu…

Ingatlah …
Bahwa suamipun butuh cinta dan kasih sayang,
Sungguh Allah ta’ala menjelaskan, bahwa wanita yang penyayang itu merupakan nikmat yang Allah berikan kepada hambaNya

(??? ????? ?? ??? ??? ?? ?????? ?????? ??????? ????? ???? ????? ???? ????? ?? ?? ??? ????? ???? ???????)

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (QS. 30:21)

Maka segeralah -wahai putriku- engkau mengungkapakan rasa cinta dan tutur kata yang baik, sehingga telinga suami biasa mendengarnya…
Jika engkau tidak membiasakannya, maka jangan engkau harapkan akan ada imbalan berupa kata-kata manis darinya …
Penuhilah telinga & hati suamimu olehmu -duhai putriku- dengan ucapan yang lembut dan perasaan yang baik…

Ingatlah putriku …
Bahwa kehidupan tidak akan menjadi lurus jika berdiri hanya di atas perasaan saja, karena perasaan saja tidak mungkin direalisasikan di alam nyata …
Maka jadikah engkau seorang wanita yang berada di alam nyata , bukan di alam khayalan…

Demikian, semoga bermanfa’at.

Sumber: “Az-Zawaaj  wa  Al-Ahlaam Al-Wardiyyah“,  Marwah Yusuf  ‘Aasyuur.

————-

Makkah 27/3/1436 H

By: Nuruddin Abu Faynan
Editor: Arfah Ummu Faynan

Artikel Muslimah.Or.Id

Ketika Cemburu Menyapa

Al-Ghirah (rasa cemburu) merupakan fitrah dasar pada diri kaum hawa. oleh karenanya seorang muslimah harus menjaga fitrah ini agar tidak tercampuri oleh bisikan-bisikan setan. Dengan tali keimanan dan genggaman keimanan agar ghirah tersebut dapat berakhir menjadi baik serta memberikan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Bahkan ibunda ‘Aisyah- radhiyallaahu ‘anha- juga sangat cemburu terhadap istri Nabi […]

Al-Ghirah (rasa cemburu) merupakan fitrah dasar pada diri kaum hawa. oleh karenanya seorang muslimah harus menjaga fitrah ini agar tidak tercampuri oleh bisikan-bisikan setan. Dengan tali keimanan dan genggaman keimanan agar ghirah tersebut dapat berakhir menjadi baik serta memberikan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Bahkan ibunda ‘Aisyah- radhiyallaahu ‘anha- juga sangat cemburu terhadap istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa Sallam yang lain. Ibunda ‘Aisyah sangat cemburu kepada Zainab binti Jahsy.

Dalam sebuah riwayat menyebutkan :
“Suatu ketika, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah salah seorang isteri beliau. Tiba-tiba isteri yang lain mengirim mangkuk berisi makanan. Melihat itu, isteri yang rumahnya kedatangan Rasul memukul tangan pelayan pembawa makanan tersebut, maka jatuhlah mangkuk tersebut dan pecah. Kemudian Rasul mengumpulkan kepingan-kepingan pecahan tersebut serta makanannya, sambil berkata:
??????? ???????
“Ibumu sedang cemburu,”
Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh pelayan itu untuk menunggu, kemudian beliau memberikan padanya mangkuk milik isteri yang sedang bersama beliau untuk diberikan kepada pemiliki mangkuk yang pecah. Mangkuk yang pecah beliau simpan di rumah isteri yang sedang bersama beliau” (HR. Al-Bukhari, 5/2003).

Ibnu Hajar menjelaskan bahwa isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memecahkan mangkuk adalah ‘Aisyah Ummul Mu’minin, sedangkan yang mengirim makanan adalah Zainab binti Jahsy. Lihat Fathul Bari (7/149 dan 9/236).

Rasa cemburu akan muncul karena adanya rasa cinta. Semakin kuat rasa cinta seorang istri kepada suaminya maka semakin kuat pula rasa cemburu dalam hatinya. Berdasarkan ketentuan syari’at, cemburu dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

Cemburu yang terpuji

Rasa cemburu ini yang sesuai dengan Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Diantara contoh-contoh cemburu yang terpuji adalah:

– Cemburu terhadap hal-hal yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

– Cemburu terhadap kehormatan. Orang Mukmin harus cemburu terhadap anggota keluarganya jika ada salah satu seorang di antara mereka yang mengotori kemuliaan atau kehormatan diri.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

????????? ??? ???????? ??????? ????? ??????? ?????????? ?????? ????????????: ????????? ?????????????? ????????????? ????????????????? ?????????????

Artinya: “Ada tiga orang yang tidak akan Allah lihat pada hari kiamat: orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang meniru gaya lelaki, dan dayuts.” (HR. Ahmad 6180, Nasai 2562, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

– Cemburu terhadap waktu. Waktu merupakan sesuatu yang paling berharga bagi ahli ibadah. Dia tentu akan cemburu jika kehilangan waktu. Sebab sekali saja kehilangan waktu, dia tidak akan dapat kembali lagi.

Cemburu Yang Tercela

Cemburu yang tercela adalah cemburu yang berada pada kondisi kejiwaan yang hina dan yang tidak dikekang oleh ketentuan-ketentuan syari’at. Maka tidak heran jika pelakunya terseret pada kebinasaan. Seperti contoh:
Rasa cemburu seorang istri yang berlebihan kepada suaminya atau sebaliknya. sehingga di dalam dirinya hanya terdapat Zhan (prasangka) negatif (su’udhon) terhadap suami atau istrinya yang tidak bisa ditawar dan seakan-akan tidak ada keraguan lagi.

Ditinjau dari nilainya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, cemburu bisa dibagi menjadi dua macam. Dalam sebuah hadist disebutkan, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ada jenis cemburu yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, adapula yang dibenci-Nya. Yang disukai, yaitu cemburu tatkala ada sangkaan atau tuduhan. Sedangkan yang dibenci, yaitu adalah yang tidak dilandasi keraguan.”
(Sunan al Baihaqi :7/308)

Cemburu karena karena hawa nafsu dan tanpa bukti dapat menghancurkan rumah tangga yang rapuh. Seorang muslim dan muslimah yang bertaqwa akan menjaga lisannya dari membicarakan hal-hal yang diharamkan akibat kecemburuan yang disebabkan oleh Zhan. Ia juga tidak akan melepaskan perasaan cemburunya secara liar demi menjalankan firman Allah Azza wa Jalla,

????? ????????? ????????? ????? ????????? ??????? ???? ???????????? ??????????? ??????? ???? ???????????

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa apabila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. Al-A’raf: 201)

Bukan berarti kita tidak boleh cemburu. Rasa cemburu bukanlah sesuatu hal yang buruk dan harus dihilangkan atau ditolak, namun semua itu harus berdasar kepada ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dalam syari’at. Dalam sebuah riwayat menyebutkan:

Sa’ad bin ‘Ubadah mengatakan,

???? ???????? ??????? ???? ?????????? ???????????? ??????????? ?????? ????????

“Seandainya aku melihat seorang laki-laki sedang bersama istriku pasti aku pukul dia dengan sisi pedangku yang tajam!”

Mendengar ucapannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

????????????? ???? ???????? ?????? ??????? ???????? ??????? ????????? ???????? ??????

“Tidak herankah kalian kecemburuan Sa’ad? Sungguh aku lebih cemburu daripada Sa’ad, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih cemburu lagi daripada aku.” (HR. Bukhari No. 5220)

Namun jika seorang wanita ingin menyembunyikan gejolak yang membara karena rasa cemburu di dalam hatinya karena ingin mensucikan jiwanya maka itu sah-sah saja bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan pahala dalam Firman-Nya,

????? ???????????? ??? ??????? ??????? ???? ?????????? ????? ?????? ??????????? ??????? ?????? ??????????? ????????????? ??????? ?????? ??????????? ??????????? ??????? ???? ???????? ????? ??????? ????? ??????? ?????? ????????
Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang Allah karuniakan kepada sebagian kamu lebih banyak daripada sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’:32)

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga hati-hati kita dari rasa cemburu yang dapat menyeret kita kepada prasangka buruk serta hal-hal tercela yang membuat murka Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallaahu a’lam.

—-

Penulis: Lia Wijayanti Wibowo (Ummu Shafiyyah)

Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Referensi:
Ensiklopedi Wanita Muslimah. Haya Binti Mubarok Al Barik. Darul Falah.
Majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun X/1428H/2007M. Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta.

Abu Faiz. www.alquran-sunnah.com

Misteri Rumah Angker (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

Misteri Rumah Angker

Rumah merupakan tempat tinggal kita, dimana di sana kita menutup aurat kita, melindungi dari panas dan hujan, tempat berumah tangga, mendidik anak, dan lain sebagainya. Setiap orang pastinya mendambakan rumah yang damai, yang dikatakan oleh sebagian orang dengan istilah “Baiti Janati”. Namun, rumah bisa menjadi sesuatu yang angker, di saat ada hal-hal yang menyebabkan rumah tersebut angker. Apa yang menyebabkan suatu rumah kita angker?

Setidaknya ada dua hal yang menyebabkan rumah angker. Di antaranya adalah:
– Adanya mahkluk halus dari jin atau setan yang ikut menumpang di rumah kita.
– Karena para penghuninya yang angker.

Bagaimana penjelasan dan perincian mengenai penyebab rumah menjadi angker ini?

Silakan download kajian dengan tema “Misteri Rumah Angker”, yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. pada Ahad, 30 November 2014, dari Masjid Al-Barkah, komplek Radio Rodja dan RodjaTV. Semoga bermanfaat.

Tulisan Misteri Rumah Angker (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.) ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.

Ceramah agama Islam oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.

Berikut ini rekaman ceramah agama, kajian dan daurah sehari yang diselenggarakan pada Ahad pagi, 8 Shafar 1436 / 30 November 2014 di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan RodjaTV. Kajian ini merupakan sesi ke-2 yang disampaikan oleh Ustadz Badrusalam dengan tema yang sangat menarik, yaitu tentang “Misteri Rumah Angker“. Simak pula rekaman tanya-jawab dari kajian ini yang sangat sayang jika terlewatkan. (Untuk rekaman sesi ke-1 silakan donwload di sini)

Ringkasan kajian dan ceramah agama Islam: Misteri Rumah Angker

Rumah merupakan tempat tinggal kita, dimana di sana kita menutup aurat kita, melindungi dari panas dan hujan, tempat berumah tangga, mendidik anak, dan lain sebagainya. Setiap orang pastinya mendambakan rumah yang damai, yang dikatakan oleh sebagian orang dengan istilah “Baiti Jannati“. Namun, rumah bisa menjadi sesuatu yang angker, di saat ada hal-hal yang menyebabkan rumah tersebut angker. Apa yang menyebabkan suatu rumah kita angker?

Setidaknya ada dua hal yang menyebabkan rumah angker. Di antaranya adalah:
– Adanya mahkluk halus dari jin atau setan yang ikut menumpang di rumah kita.
– Karena para penghuninya yang angker.

Bagaimana penjelasan mengenai misteri rumah angker ini? Dan bagaimana perincian dari sebab-sebab yang telah disebutkan di atas? Ayo download kajian ini dan simak penjelasan selengkapnya oleh Ustadz Badrusalam, Lc.

Download Ceramah Agama: Ustadz Abu Yahya Badrusalam – Misteri Rumah Angker

Share yuk ke Facebook, Twitter, dan Google+. Semoga banyak kaum Muslimin yang dapat memetik manfaat dari ceramah agama ini, khususnya diri kita sendiri, Aamiin.

Tulisan Misteri Rumah Angker (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.) ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.

Hadirkan Niat dalam Ladangmu, Wahai Ibu?

Belajar teori ikhlas mungkin bisa dilakukan dalam sehari, namun belajar mengamalkan ikhlas, sepanjang hayat akan terus dipelajari. Ikhlas tidaklah sekedar menyatakan ‘aku ikhlas’, tapi ikhlas membutuhkan konsekuensi besar, karena menjadikan Wajah Allah semata tujuannya. Sulit bukan? Sulit, tapi bisa kita latih dan kita usahakan dalam setiap langkah. Dalam segala hal baik bentuknya ibadah langsung kepada […]

Belajar teori ikhlas mungkin bisa dilakukan dalam sehari, namun belajar mengamalkan ikhlas, sepanjang hayat akan terus dipelajari. Ikhlas tidaklah sekedar menyatakan ‘aku ikhlas’, tapi ikhlas membutuhkan konsekuensi besar, karena menjadikan Wajah Allah semata tujuannya. Sulit bukan?

Sulit, tapi bisa kita latih dan kita usahakan dalam setiap langkah. Dalam segala hal baik bentuknya ibadah langsung kepada Allah ataupun amalan-amalan dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya bagi kita para wanita, keikhlasan itu harus selalu kita hadirkan dalam rutinitas kita menjadi istri dan ibu. Karena wanita adalah gudang dari keluhan, gudang dari sifat sensitivitas sehingga terkadang kita lupa bahwa kita juga gudang dari amal sholih. Tidak harus repot-repot shalat berjama’ah di masjid, atau rihlah mencari ilmu seperti laki-laki atau harus berjihad. Bahkan seorang wanita diperintahkan untuk tinggal di rumah-rumah mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

???????? ??? ???????????? ????? ??????????? ????????? ??????????????? ????????? ?????????? ?????????? ???????? ?????????? ?????????? ??????? ??????????? ???????? ??????? ??????? ?????????? ??????? ????????? ?????? ????????? ??????????????? ??????????

Artinya : “Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al Ahzab: 33). ??

Cukup di rumah kita, sudah banyak lahan untuk bisa dijadikan ibadah, tentunya dengan syarat, salah satunya adalah ikhlas. Sayangnya sebagian dari kita tidak memanfaatkan hal tersebut malahan kebanyakan membuka pintu celah setan untuk menggoda dengan banyak mengeluh, banyak berandai-andai dan banyak panjang angan-angan.?? Begitu mulianya wanita di rumah. Kita terjaga dari fitnah dan kita bisa beramal sholih sebanyak yang kita mampu. Semua bisa dilakukan di rumah. Sebagai contoh, rutinitas kita dalam menjaga, merawat dan mendidik anak, merupakan ladang bagi para wanita khususnya agar bisa memperoleh pahala sebanyak-banyaknya. Memang dirasa bak teori belaka dan akan ribet jika dilakukan. Hal tersebut karena kita lupa bahwa menjaga, merawat dan mendidik anak adalah kewajiban kita sebagai orang tua, bukan rutinitas belaka atau bisa kita pindah tangankan begitu saja ke pembantu atau lembaga-lembaga sekolah tertentu.

Namun memang benar ada sebagian wanita pula yang berpendapat ‘saya juga punya hak bebas dan saya punya duit’. Akibatnya, segala kewajibannya berkaitan dengan rumah dan anak dipasrahkan orang lain. Sedangkan wanita tersebut hanya sibuk dandan, leha-leha bahkan menghabiskan waktu dengan cuci mata, baik di dunia nyata atau lewat dunia maya untuk bergaul yang tidak jelas tujuannya.

Hak bebas seperti apa yang wanita tersebut inginkan? Bebas dari tangisan anak? Bebas dari rewelan anak? Sungguh tragis ketika kita merasa bising dengan tangisan anak, capek dan banyak mengeluh bahkan mengumpat dengan banyaknya mainan yang berserakan setiap hari, bosan harus mengajari anak membaca dan menulis serta merasa ribet dengan banyaknya permintaan anak ketika di rumah.?? Wahai saudariku, saya dan anda adalah wanita. Tentunya kita tahu hadits yang menyatakan bahwa penghuni neraka terbanyak adalah wanita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:?

??? ???????? ?????????? ??????????? ???????? ???????????? ???????? ?????? ????????

Artinya: “Wahai kaum wanita, bersedekahlah kalian dan perbanyaklah istighfar! Sesungguhnya aku melihat kalian sebagai penghuni mayoritas di neraka.”?(HR. Bukhari 304 & Muslim 132)??

Apakah dengan mengetahuinya belum cukup untuk membuat kita takut dan mulai berbenah diri ?? Salah satunya dengan menunaikan kewajiban kita mendidik anak dengan baik dan benar. Mendidik anak adalah salah satu bentuk amalan yang bisa bernilai ibadah jika kita melakukannya ikhlas karena Allah dan untuk mendidik anak kita sendiri tak disyaratkan kita harus sarjana atau hafidzoh atau juara, cukup kita ingat firman Allah :

??? ???????? ????????? ??????? ???? ???????????? ????????????? ?????? ?????????? ???????? ?????????????? ????????? ??????????? ??????? ??????? ??? ????????? ??????? ??? ?????????? ????????????? ??? ???????????

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)??

Ketahuilah saudariku, tatkala anak-anak kita menjadi anak yang sholih-sholihah, mereka bisa menjadi aset tabungan jangka panjang kita tatkala di akherat kelak, karena doa anak sholih akan dikabulkan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:?

????? ????? ???????????? ????????? ?????? ???????? ?????? ???? ?????????: ?????? ???? ???????? ?????????? ???? ?????? ?????????? ????? ???? ?????? ??????? ??????? ???

Artinya: “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)??

Maka jangan abaikan mendidik anak dan sertailah dengan keikhlasan agar usaha kita tak sia-sia belaka namun berujung pahala.?? Jika kita sudah terbangun dan akhirnya menyadari bahwa mendidik anak adalah kewajiban kita, pijakan sebagai langkah awal dalam mendidik anak-anak adalah berusaha menghadirkan keikhlasan, agar apa yang telah kita usahakan berbuah pahala dari Allah dan juga menumbuhkan anak-anak yang senantiasa ikhlas dalam beramalan. ?Ingatlah selalu hadits dari umar bin khattab bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:?

???? ??????? ??????? ????? ??? ????? ?? ???

“Sesungguhnya segala amalan itu tidak lain tergantung pada niat; dan sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain (akan memperoleh balasan dari) apa yang diniatkannya.” (Muttafaqun ‘alaihi). ??

Sangat disayangkan bahwa amal yang kita lakukan hanya sebatas niat dunia saja. Seperti misalnya ikhlas yang tidak atau belum hadir dalam:

1. Menentukan tujuan ketika mengajari anak
Fenomena yang sering muncul adalah para orangtua berlomba-lomba mengajari anak ini dan itu hanya untuk kebanggaan atau popularitas. Para orang tua dengan sangat egois menyuruh anaknya belajar ini dan itu agar tidak kalah dengan yang lain, atau agar menjadi penenang pertama atau agar tidak mempermalukan orang tua di hadapan orang lain. Akibatnya anak-anak dipaksa dan dipaksa, dibentak dan dicaci atau bahkan dibanding-bandingkan. Begitulah terkadang egoisnya kita sebagai orang tua. Sampai tanpa sadar kita telah menanamkan kepada anak, rasa tidak ikhlas dalam melakukan sesuatu. Ya… misalnya, melakukan sesuatu karena takut mama atau ayah atau melakukan sesuatu agar disanjung orang. Padahal hanya Allah lah yang perlu ditakuti sebagaimana firman Allah:

????? ????????? ???????? ??????????? . . .

Artinya:“Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku.” (QS. Al-Ma’idah: 44)?

Ternyata tanpa disadari kita membuat mereka bak robot yang tidak berperasaan dan tidak punya pikiran untuk sebuah pilihan pendapat dan yang terutama menanamkan jiwa pamrih dalam dirinya. Bagaimana mungkin anak-anak kita menjadi anak yang takut hanya kepada Allah atau amalannya hanya untuk Allah jika awal pijakkan kita dalam mendidik mereka pun sudah salah. Apakah ketika mereka sudah dewasa dan ternyata terpatri jiwa mengeluh atau pun jiwa pamrih lantas kita salahkan? Bahkan tatkala kita tua dan butuh perawatan, mereka akan bersedia merawat kita jika kita memberi warisan yang banyak, dan dengan keadaan seperti itu kita protes? Tentu tidak bisa…. apa yang kita berikan itu yang akan kita tuai dimasa mendatang.

Ulama memberikan kaidah: al-jazaa min jinsil ‘amal (balasan itu sejenis dengan amal). ??Menuntut dan menuntut itulah salah satu tanda kita belum ikhlas. Tidak pantas kita menundukkan kepala hanya karena anak kita tidak juara, dan tidak tepat bagi kita memaksakan sesuatu kepada anak hanya karena orientasi dunia. Na’adzubillahi min dzalik. Biarlah mereka berkembang menjadi dirinya sendiri. Kita sebagai ibu hanya menunjukkan dan menggandengnya untuk mengetahui mana yang benar maupun yang salah, agar mereka tidak salah jalan tanpa harus memaksa. Toh anak kita punya takdirnya sendiri dan rizki yang sudah ditentukan sejak mereka dalam kandungan.?

????? ?????????? ???????? ???????? ???? ?????? ??????? ???????????? ???????? ????????? ????? ???????? ???????? ?????? ???????????? ???????? ???????? ?????? ???????????? ???????? ???????? ???????? ????????? ?????? ???????????????????? ?????????? ?????????: ???????? ???????? ?????????? ?????????? ????????? ???? ????????

“Sesungguhnya salah satu dari kalian dihimpun penciptaannya di perut ibunya dalam bentuk nutfah selama 40 hari, kemudian menjadi ‘alaqah selama 40 hari, kemudian menjadi mudhgah selama 40 hari, lantas diutuslah malaikat dan meniupkan ruh padanya. Dan ia diperintah untuk menuliskan empat ketetapan, (yaitu) menulis rizki, ajal, amalan dan apakah ia (nanti) celaka atau bahagia …”.(Muttafaqun ‘alaih)??

2. Mendidik anak dengan hadiah
Kita secara tidak langsung memjadikan mereka tidak ikhlas tatkala sering bahkan selalu memberikan hadiah setiap amal perbuatan baik yang mereka lakukan. Sedikit-sedikit hadiah, makanan, mainan dll, tanpa kita selipkan unsur ikhlas karena Allah. Bisa jadi ketika dewasa nanti setiap jerih payahnya harus tertebus dengan nikmat dunia belaka. Hal ini juga harus kita waspadai. Mereka itu ibarat kertas putih akan berubah warna sesuai dengan warna apa yang kita berikan kepada mereka. Artinya ketika kita sedari kecil sudah membiasakan ikhlas di setiap amalan mereka tentu di dalam hati dan pikirannya akan terpatri didikan dari kecil tersebut. Sehingga tatkala sudah baligh mereka akan senantiasa menjaga shalat jamaahnya karena takut Allah dan berharap kepada Allah bukan karena ingin mendapat hadiah kita atau takut kepada kita. Dan ketika anak kita tidak dalam pengawasan kita, mereka tetap menjaga akhlaknya karena merasa selalu diawasi Allaah bukan karena takut omelan kita. Namun boleh-boleh saja merangsang anak terutama balita dengan hadiah karna kondisi nalar mereka yang? belum berkembang, akan tetapi tetap ingatkan dan selipkan tentang ikhlas bagaimanapun bentuk caranya, insya Allaah bisa kita lakukan, biidznillah.

??3. Mendo’akan anak
Kita sebagai ibu terkadang hanya mendoakan untuk kebaikan dunia anak kita, biar anak kita juara, pandai atau bahkan kaya, punya ini dan itu dan kita melupakan mendoakan agar mereka menjadi anak yang shalih sekaligus mukhlisin. Karena terkadang orientasi orang tua kebahagiaan adalah berkecukupan nikmat dunia belaka, sedangkan bahagia akhirat dinomorduakan. Padahal kita tahu bahwa do’a orang tua untuk anaknya itu adalah do’a yang mustajab. Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

??????? ????????? ?????????????? ??? ????? ???????? : ???????? ?????????? ? ?????????? ???????????? ? ?????????? ???????????? ”

?“Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang dizholimi.” (HR. Abu Daud no.1316)?

Sayang jika kita hanya mendoakan kebaikan buah hati untuk urusan dunia saja. Hendaknya kita doakan anak-anak kita baik urusan dunia dan akhirat.??Saudariku, dalam menjalankan keikhlasan kita juga butuh pertolongan Allah. Maka agar amalan-amalan kita dan anak kita senantiasa ikhlas, mintalah pertolongan kepadaNya. ?Allah berfirman:

??????? ????????? ??????????? ????????? ?????? ???? ????????? ???????????????? ???? ?????????? ?????????????? ????????? ???????????

Artinya: “Dan Rabb-mu berfirman, Berdoalah kepadaKu, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Ghafir: 60)??

Saudariku, jadikanlah kewajiban-kewajiban kita ini bernilai pahala di sisi Allah dengan cara memperhatikan niat. Hanya karena niat ini amal kita diterima. Cobalah untuk banyak memberi teladan keikhlasan agar anak-anak bisa menilai dan akhirnya meniru. Anak-anak lebih mudah menyerap apa yang dia lihat daripada apa yang dia dengar.??

Jika ingin buah hati kita shalih maka jadilah kita ibu shalihah?

Jika ingin anak kita menjadi mukhlisin maka awali si ibu mejadi wanita yang ikhlas dan tak mudah keluh kesah?

Anak terdidik berakhlak baik dan berpemahaman benar karena memiliki ibu yang karimah?

Jangan berhenti menggandeng tangan mereka agar mereka selalu ikhlas walau jiwa sudah berpeluh dan raga mulai lelah

?Karena ikhlas mengantarkan anak-anak kita bahagia dunia dan meraih al-jannah.
—-
Penulis: Ummu Hamzah

Murojaah: Ustadz Ammi Nur Baits