Syarat-Syarat Orang Yang Boleh Menemani Wanita Dalam Safar

Islam memuliakan wanita. Diantara bentuk pemuliaan kepada wanita, Islam mengatur adab bagi wanita dalam bersafar, yang ini dalam rangka menjaga keselamatan dan kehormatan mereka

Islam memuliakan wanita. Diantara bentuk pemuliaan kepada wanita, Islam mengatur adab bagi wanita dalam bersafar, yang ini dalam rangka menjaga keselamatan dan kehormatan mereka. Diantara adab tersebut adalah wanita tidak boleh bersafar kecuali bersama mahramnya. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

?? ?????? ??????? ????? ??? ?? ????? ? ??? ??????? ????? ???? ??? ??????? ?????

tidak boleh wanita bersafar kecuali bersama mahram, dan tidak boleh ada lelaki yang masuk ke rumahnya kecuali di sana ada mahramnya” (HR. Bukhari – Muslim).

Dari sini para ulama membahas siapa saja yang sah untuk menemani seorang wanita bersafar sehingga larangan tersebut tidak berlaku dan hukumnya menjadi boleh bagi wanita untuk bersafar. Syarat-syaratnya adalah sebagai berikut:

1. Orang tersebut adalah mahram bagi Muslimah yang bersafar

Orang yang boleh menemani safar haruslah merupakah mahram bagi Muslimah yang bersafar. Ini jelas dalam hadits di atas. Para ulama mendefinisikan mahram:

???????? ?? ????? ??? ?? ???? ???? ?????? ?? ?????? ??? ??????? ???? ?? ???? ?? ??????

“Mahram adalah orang yang haram untuk dinikahi selamanya, baik karena hubungan nasab, persusuan maupun mushaharah (hubungan pernikahan)”

Mengenai siapa saja yang menjadi mahram, silakan simak artikel “Lihatlah Siapa Mahrammu“. Dari yang dimaksud mahram bagi wanita itu pasti laki-laki, juga yang dimaksud mahram bagi laki-laki pasti ia wanita.

2. Baligh

3. Berakal

Syaikh Abdul Azin bin Baz mengatakan:

???? ?? ???? ?? ????? ?????? ?????? ?? ?????? ? ??? ????? ???? ??? ??? ? ?? ????? ????? ????? ? ?? ????? ????? ????? ??? ????? ????? ?????? . ???? ???? ????? ?? ??? ???????? ?????? ??? ????? ??? ?????? ? ???? ?? ?? ???? ?????? ?????? ? ????? ???? ????? ?? ?????? ???? ??? ?????? ????? ????? ?????? ????? ????? ??? ????? ? ????? ??? ???????

“Usia minimal seorang lelaki agar bisa dianggap sebagai mahram bagi seorang wanita adalah usia baligh. Yaitu usia 15 tahun atau ketika sudah keluar air mani karena syahwat. Atau dengan tumbuhnya bulu kemaluan yang dinamakan dengan al aanah. Jika terdapat salah satu dari tiga tanda tersebut maka ia menjadi lelaki yang mukallaf dan boleh menjadi mahram bagi si wanita. Demikian juga pada wanita, jika ditemukan salah satu dari tiga tanda tersebut, maka ia menjadi wanita yang mukallaf. Namum bagi wanita ada tambahan satu tanda yaitu haid. Wallahu waliyyut taufiq” [1].

Al Lajnah Ad Daimah ditanya, “ada sekolah di Mesir yang memfatwakan kepada murid-muridnya bahwa jika seorang lelaki menikah dengan wanita sedangkan lelaki ini memiliki anak-anak dari istri pertama, maka tidak boleh berhaji dengan istri ayahnya yang kedua tersebut. Apakah ini benar?”. Mereka menjawab:

???? ????? ????? ???????? ???????? ?? ?????? ?????? ????? ????? ?? ????? ???? ?????? ???? ???? ????? ??? ?? ??? ?????

“Anak-anak dari suami yang sah, yang baligh dan berakal, boleh menjadi mahram bagi sang istri untuk bersafar dalam rangka haji atau yang lainnya. Baik wanita tersebut ibu kandung mereka, ataupun ibu tiri”[2].

Faqihul Ummah Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan:

?????? ?? ???? ?????? ?????? ??????? ??????? ???????? ?? ?????? ????? ????? ?????. ???? ??? ???? ?? ??? ?????? ????? ?? ??? ????? ????? ????? ?? ?????? ???? ?????

“Disyaratkan mahram itu harus baligh dan berakal. Anak kecil dan orang gila tidak cukup untuk membolehkan safarnya seorang wanita bersama mereka. Oleh karena itu jika seorang wanita tidak bisa mendapatkan mahram baginya maka ia tidak wajib berhaji. Karena ia tidak termasuk orang yang mampu menempuh perjalanan ke baitullah”[3].

4. Muslim

5. Terpercaya dan amanah

Disyaratkan yang menjadi mahram dalam safar adalah orang yang terpercaya dan amanah. Disebutkan dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Durarus Saniyyah:

??????? ?????? ?? ????? ?? ?? ???? ????? ???????? ???? ?????? ?? ????? ?? ?????? ????? ?????? ?????? ?????? ??? ???????? ??? ??????? ?? ?????? ????? ?????? ???????? ??????? ??????

“Mahram (safar) bagi seorang wanita adalah suaminya atau orang yang diharamkan untuk menikahinya selamanya karena sebab hubungan rahim, atau persusuan atau shahriyyah (hubungan pernikahan). Dan ia harus Muslim, baligh, berakal terpercaya dan amanah. Karena maksud dipersyaratkannya mahram adalah agar dapat menjaga dan melindungi wanita serta membantu urusan-urusannya”[4].

Maka hendaknya wanita Muslimah bertaqwa kepada Allah dan tidak bersafar tanpa mahramnya, demikian juga tidak bersafar dengan orang yang tidak memenuhi syarat sebagai mahram safar.

Wabillahi at taufiq was sadaad.

***

Penulis: Yulian Purnama

Artikel Muslimah.or.id

____

[1] Sumber: http://www.binbaz.org.sa/fatawa/672

[2] Sumber: Fatwa Al Lajnah Ad Daimah no. 8663 juz 17 hal. 318 http://goo.gl/KOUBcs

[3] Majmu’ Fatawa war Rasail 24/422, dinukil dari http://aloloom.net/vb/showthread.php?t=26998

[4] Mausu’ah Fiqhiyyah Durarus Saniyyah http://www.dorar.net/enc/feqhia/2784

 

22 Poin Ringkasan Fikih Safar

Sebagian ulama mengatakan jarak safar batasannya kembali pada ‘urf (kebiasaan setempat). Jarak yang dianggap oleh penduduk setempat sebagai safar, maka itulah batasan safar

Sebagian ulama mengatakan jarak safar batasannya kembali pada ‘urf (kebiasaan setempat). Jarak yang dianggap oleh penduduk setempat sebagai safar, maka itulah batasan safar

Hadits Tentang Haji 04: Wanita yang Berhaji Tanpa Mahram, Sah Namun Berdosa

Bagaimana hukum wanita yang berhaji tanpa mahram? Sahkah? Berdosakah? Apakah dibolehkan seorang istri berangkat haji sendiri tanpa ditemani oleh suami?

Bagaimana hukum wanita yang berhaji tanpa mahram? Sahkah? Berdosakah? Apakah dibolehkan seorang istri berangkat haji sendiri tanpa ditemani oleh suami?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

??? ??????? ??????????? ???????? ????????? ??????????? ??????? ???? ????????? ????????? ?????? ?????????? ?????? ??????? ????????

Seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak boleh melakukan perjalanan jauh (safar) sejauh perjalanan sehari semalam kecuali dengan mahramnya.” (HR. Bukhari no. 1088 dan Muslim no. 1339)

Dalam lafazh Muslim disebutkan,

??? ??????? ??????????? ???????? ????????? ??????????? ??????? ????????? ????????? ?????? ?????? ???? ??? ????????

Seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak boleh melakukan perjalanan jauh (safar) sejauh perjalanan sehari kecuali jika bersama mahramnya.” (HR. Muslim no. 1339).

Hadits di atas mengandung faedah, hukumnya haram jika wanita bersafar (menempuh perjalanan jauh) tanpa adanya mahram. Itu berarti siapa yang tidak mendapatkan mahramnya, maka ia haram melakukan safar, apa pun safarnya termasuk safar ibadah.

Dipersyaratkan wanita harus memiliki mahram untuk melakukan safar haji. Jika wanita tidak memiliki mahram yang menemaninya, maka gugur kewajiban haji untuknya (walau wanita tersebut mampu secara finansial dan fisik, -pen). Inilah pendapat mayoritas ulama yang menyelisihi pendapat sebagian ulama Malikiyah dan pendapat Syafi’iyah. Mereka berpendapat bahwa cukup bersafar dengan orang yang dapat memberikan rasa aman. Namun syarat ini bertentangan dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

?????? ???? ??? ????????

Kecuali bersama mahramnya.” Demikian penjelasan guru kami, Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri dalam Syarh Umdatil Fiqh, hal. 471.

Dipersyaratkan mahram haruslah: (1) baligh, (2) berakal, (3) wanita terus dalam pengawasan mahram. Sehingga tidak boleh mahram ini digantikan dengan yang bukan mahram.

Siapa yang jadi mahram di sini? Yaitu suami, yang menjadi mahram selamanya (ta’bid), mahram karena nasab atau mahram karena sebab persusuan.

Apakah haji dari wanita yang berhaji tanpa mahram itu sah?

Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Menurut Syaikh As Sa’di, pendapat yang lebih kuat adalah hajinya sah, namun ia melakukan dosa besar.

Semoga bermanfaat. Semoga Allah menganugerahkan ketakwaan pada kita sekalian.

 

Referensi:

Syarh ‘Umdatil Ahkam, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Darut Tauhid, cetakan pertama, tahun 1431 H, hal. 400-401.

Syarh ‘Umdatil Ahkam, Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri, terbitan Kunuz Isybiliya, cetakan pertama, tahun 1429 H.

Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, di pagi hari penuh berkah, 14 Dzulqo’dah 1435 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id

Tanya-Jawab: Ramadhan: Puasa Nabi Dawud, apakah hari mulainya ditentukan? Dan perjalanan jauh saat Ramadhan, apakah tetap puasa atau tidak?

Pertanyaan Pertama, saya mau tanya tentang puasa Dawud, […]

Tulisan Tanya-Jawab: Ramadhan: Puasa Nabi Dawud, apakah hari mulainya ditentukan? Dan perjalanan jauh saat Ramadhan, apakah tetap puasa atau tidak? ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.

Pertanyaan

Pertama, saya mau tanya tentang puasa Dawud, apakah hari mulai puasanya ditentukan? Yang kedua, kita kan lagi perjalanan jauh di bulan Ramadhan, lamanya adalah 4 hari, apakah tetap puasa atau tidak?

Jawaban oleh Ustadz Abu Qatadah

Dengarkan jawabannya secara langsung, atau silakan download tanya-jawabnya.

Download Tanya-Jawab seputar Ramadhan

Ini merupakan tanya-jawab seputar Ramadhan yang berlangsung pada saat kajian live pada 10 Rajab 1435 / 10 Mei 2014 yang membahas tentang Kitab Puasa (Bagian ke-1): Puasa Ramadhan hingga Penentuan Awal Ramadhan yang Benar dari seri kajian kitab Umdatul Ahkam.

Tulisan Tanya-Jawab: Ramadhan: Puasa Nabi Dawud, apakah hari mulainya ditentukan? Dan perjalanan jauh saat Ramadhan, apakah tetap puasa atau tidak? ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.

Download E-Book Panduan Mudik Berhari Raya Penuh Berkah

Berikut beberapa tips persiapan safar, tips ketika safar dan tips kembali dari safar serta beberapa keringanan saat safar, yang moga-moga bisa diamalkan

Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in.

Sudah jadi hal yang begitu ma’ruf di negeri ini, di penghujung bulan Ramadhan, menjelang lebaran atau Idul Fithri, kaum muslimin begitu sibuk untuk mempersiapkan mudik lebaran. Bahkan sejak jauh-jauh hari mereka sudah memesan tiket dan memilih kendaraan yang lebih nyaman nan selamat. Namun amat jarang yang memikirkan bagaimanakah ajaran Islam mengajarkan persiapan untuk melakukan perjalanan jauh.

Jika seseorang memperhatikan ajaran tersebut dalam melakukan persiapan perjalanan jauh lantas ia mengamalkannya, maka sungguh mudik yang ia jalani akan begitu berkah. Keberkahan ini diperoleh karena ketaatannya dan semangatnya dalam mengikuti ajaran Allah dan Rasul-Nya. Berikut beberapa tips persiapan safar, tips ketika safar dan tips kembali dari safar serta beberapa keringanan saat safar, yang moga-moga bisa diamalkan.

Berikut kami sajikan e-book panduan mudik berhari raya penuh berkah karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafizhahullah

Link download:
klik di sini

Download E-Book Panduan Mudik Berhari Raya Penuh Berkah

E-Book Panduan Mudik Berhari Raya Penuh Berkah Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in. Sudah jadi hal yang begitu ma’ruf di negeri ini, di penghujung bulan Ramadhan, menjelang lebaran atau Idul Fithri, kaum muslimin begitu sibuk untuk mempersiapkan mudik lebaran. Bahkan sejak jauh-jauh hari mereka sudah memesan tiket dan […]

E-Book Panduan Mudik Berhari Raya Penuh Berkah

Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in. Sudah jadi hal yang begitu ma’ruf di negeri ini, di penghujung bulan Ramadhan, menjelang lebaran atau Idul Fithri, kaum muslimin begitu sibuk untuk mempersiapkan mudik lebaran. Bahkan sejak jauh-jauh hari mereka sudah memesan tiket dan memilih kendaraan yang lebih nyaman nan selamat. Namun amat jarang yang memikirkan bagaimanakah ajaran Islam mengajarkan persiapan untuk melakukan perjalanan jauh.

Jika seseorang memperhatikan ajaran tersebut dalam melakukan persiapan perjalanan jauh lantas ia mengamalkannya, maka sungguh mudik yang ia jalani akan begitu berkah. Keberkahan ini diperoleh karena ketaatannya dan semangatnya dalam mengikuti ajaran Allah dan Rasul-Nya. Berikut beberapa tips persiapan safar, tips ketika safar dan tips kembali dari safar serta beberapa keringanan saat safar, yang moga-moga bisa diamalkan.

Berikut kami sajikan e-book panduan mudik berhari raya penuh berkah karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

link download:
klik di sini

Waktu Puasa Bagi Orang Yang Safar

Orang yang safar ke negeri lain yang jauh dari negerinya, maka hukum puasa yang berlaku adalah sebagaimana hukum puasa di negeri tempat ia safar tersebut.

Fatwa Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan

Soal:
Jika seseorang bersafar (bepergian jauh) dalam rangka menempuh pendidikan di luar negeri, dan sebagaimana diketahui bahwa ada perbedaan waktu antar negara, misalnya ia menambah puasanya 1 jam atau menguranginya 1 jam karena perbedaan waktu tersebut apakah berpengaruh pada keabsahan puasanya? Mohon penjelasannya, semoga Allah memberi keberkahan pada anda.

Jawab:
Orang yang safar ke negeri lain yang jauh dari negerinya, dan negeri tersebut ada perbedaan waktu dengan negerinya, maka hukum puasa yang berlaku adalah sebagaimana hukum puasa di negeri tempat ia safar tersebut. Ia berpuasa dan berbuka sesuatu waktu yang ada di negeri tersebut. Ia mulai berpuasa ketika terbit fajar di negeri tersebut dan ia berbuka ketika tenggelam matahari di negeri tersebut.

Ia tidak perlu melihat pada waktu-waktu di negeri asalnya, karena ia sedang bersafar dan sedang berada di luar negeri asalnya. Dan setiap tempat itu memiliki hukum-hukum yang sendiri (yang sesuai dengannya). Jika seseorang berada di suatu negeri maka hukum-hukum yang berlaku adalah sebagaimana hukum-hukum di negeri tersebut, bukan hukum-hukum negeri tempat asalnya.

Sumber: Majmu’ Fatawa Syaikh Shalih Al Fauzan, 2/388, Asy Syamilah

***

Penerjemah: Yulian Purnama

Artikel Muslimah.Or.Id

Hukum Shalat Wajib Di Atas Kendaraan

Ketahuilah bahwa hukum shalat di atas kendaraan itu ada rinciannya. Hukum asalnya tidak boleh dan tidak sah, namun dibolehkan dalam keadaan tertentu.

Kaum muslimin yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah, ketahuilah bahwa hukum shalat di atas kendaraan itu ada rinciannya. Hukum asalnya tidak boleh dan tidak sah, namun dibolehkan dalam keadaan tertentu.

Wajib Shalat Di Darat Jika Masih Bisa

Sebagaimana kita ketahui bersama, menghadap kiblat adalah syarat sah shalat, tidak sah shalatnya jika tidak dipenuhi. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

???? ????? ????????? ???????? ??? ?????????? ?????????????????? ???????? ?????????? ??????? ???????? ?????? ??????????? ?????????? ???????? ??? ???????? ????????? ??????????? ????????

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya” (QS. Al Baqarah: 144)

Maka pada asalnya, shalat wajib yang lima waktu dilakukan di darat dan tidak boleh dikerjakan di atas kendaraan karena sulit menghadap kiblat dengan benar.

Berbeda dengan shalat sunnah, boleh dikerjaan di atas kendaraan jika sedang safar, karena banyak dalil yang menunjukkan kebolehahnnya. Adapun jika tidak sedang safar, maka tidak ada keperluan untuk shalat wajib atau sunnah di atas kendaraan. Imam An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim membuat judul “bab bolehnya shalat sunnah di atas binatang tunggangan dalam safar kemana pun binatang tersebut menghadap“, yaitu ketika menjelaskan hadits:

????? ??????? ????? ?????? ????? ???????? ????????? ????? ???????? ?????????? ????????? ??????????? ???? ?????????

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya shalat sunnah kemana pun untanya menghadap” (HR. Muslim 33).

dalam riwayat lain:

?? ????? ????? ??? ???? ???? ???? ??? ????? ??? ???????

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya shalat witir di atas unta” (HR. Al Bukhari 999, Muslim 700).

Imam An Nawawi lalu berkata: “hadits-hadits ini menunjukkan bolehnya shalat sunnah kemana pun binatang tunggangan menghadap. Ini boleh berdasarkan ijma kaum Muslimin”. Dan di tempat yang sama, beliau menjelaskan: “hadits ini juga dalil bahwa shalat wajib tidak boleh kecuali menghadap kiblat, dan tidak boleh di atas kendaraan, ini berdasarkan ijma kaum Muslimin. Kecuali karena adanya rasa takut yang besar” (Syarah Shahih Muslim, 5/211).

Udzur Yang Membolehkan Shalat Di Kendaraan

Islam itu mudah. Ketika ada kesulitan, maka muncul kemudahan. Demikian juga dalam hal shalat ketika berkendaraan, seseorang diberikan kemudahan jika memang ada kesulitan. Para ulama menyebutkan udzur-udzur atau penghalang-penghalang yang membuat seseorang boleh shalat di atas kendaraan. Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan: “jika orang yang sedang berkendara itu mendapatkan kesulitan jika turun dari kendaraannya, misal karena hujan lebat dan daratan berlumpur, atau khawatir terhadap kendaraannya jika ia turun, atau khawatir terhadap harta benda yang dibawanya jika ia turun, atau khawatir terhadap dirinya sendiri jika ia turun, misalnya karena ada musuh atau binatang buas, dalam semua keadaan ini ia boleh shalat di atas kendaraannya baik berupa hewan tunggangan atau lainnya tanpa turun ke darat” (Al Mulakhas Al Fiqhi, 235).

Diantara udzur yang membolehkan juga adalah khawatir luputnya atau habisnya waktu shalat. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin ketika ditanya mengenai hukum shalat di pesawat beliau menjelaskan: “shalat di pesawat jika memang tidak mungkin mendarat sebelum berakhirnya waktu shalat, atau tidak mendarat sebelum berakhirnya shalat kedua yang masih mungkin di jamak, maka saya katakan: shalat dalam keadaan demikian wajib hukumnya dan tidak boleh menundanya hingga keluar dari waktunya”. Beliau juga mengatakan: “adapun jika masih memungkinkan mendarat sebelum berakhir waktu shalat yang sekarang, atau sebelum berakhir waktu shalat selanjutnya dan memungkinkan untuk dijamak, maka tidak boleh shalat di pesawat karena shalat di pesawat itu tidak bisa menunaikan semua hal wajib dalam shalat. Jika memang demikian keadaannya maka hendaknya menunda shalat hingga mendarat lalu shalat di darat hingga benar pelaksanaannya” (Majmu’ Fatawa War Rasa-il, fatwa no.1079).

Tata Cara Shalat Di Kendaraan

Pada asalnya, tata cara shalat dikendaraan sama dengan shalat seperti biasanya di darat. Tidak boleh seseorang menggugurkan salah satu rukun shalat, jika masih memungkinkan, kecuali ada udzur syar’i.

Dalam sebuah hadits shahih, Ibnu Abbas bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

?? ????? ????? ??? ??????? ?? ????????? ??? ??? ???? ????? ??? ?? ????? ??????

wahai Rasulullah, bagaimana cara shalat di atas perahu? beliau bersabda: ‘shalatlah di dalamnya sambil berdiri, kecuali jika engkau takut tenggelam‘” (HR. Ad Daruquthni 2/68, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami 3777).

Syaikh Al Albani berkata: “hukum shalat di atas pesawat sama seperti shalat di atas perahu. Shalat dilakukan sambil berdiri jika mampu, jika tidak mampu maka sambil duduk, rukuk dan sujudnya dengan isyarat” (Ikhtiyarat Imam Al Albani, 117).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam fatwa beliau di atas juga menjelaskan tata cara shalat di atas pesawat: “shalat dilakukan dengan menghadap kiblat sambil berdiri, jika masih memungkinkan, dan juga rukuk seperti biasa jika bisa. Sujud dilakukan sambil duduk atau dengan isyarat karena sepengetahuan saya tidak mungkin melakukan sujud ketika di pesawat. Karena jarak antar tempat duduk sangat dekat. Allah Ta’ala berfirman:

?????????? ??????? ??? ??????????????

bertaqwalah kepada Allah semampu kalian” (QS. At Taghabun: 16)

dan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

?? ?????? ?? ????? ??? ?? ???????

apa yang aku perintahkan kepada kalian, kerjakanlah sesuai kemampuan kalian” (HR. Al Bukhari 7288, Muslim 1337)

Allah Ta’ala juga berfirman:

????????? ????? ???????????? ??????????? ?????????? ????????? ??????? ???????????

Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam salatmu) dengan khusyuk” (QS. Al Baqarah: 238)

(Majmu’ Fatawa War Rasa-il, fatwa no.1079).

Syaikh Musthafa Al Adawi juga ketika ditanya mengenai shalat di mobil (termasuk bus dan semacamnya) beliau menjelaskan caranya: “jika anda bersafar untuk jarak yang jauh dan tidak memungkinkan untuk berhenti, shalatlah sambil duduk, karena Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

??? ??????? ??? ?? ????? ???????? ??? ?? ????? ???? ???

shalatlah sambil berdiri, jika tidak bisa maka sambil duduk, jika tidak bisa maka sambil berbaring” (HR. Al Bukhari 1117)

jika tidak ada tempat wudhu dan tidak ada air maka bertayamumlah lalu shalat” (Sumber: http://mostafaaladwy.com/play-9716.html).

Demikian, semoga bermanfaat, wabillahi at taufiq.

Penulis: Yulian Purnama

Artikel Muslim.Or.Id

Safar Dakwah di Ternate dan Tidore 4 – 5 April 2014 (seri 2)

Kembali berlanjut kisah kami selama di Pulau Tidore dan Ternate di Maluku Utara. Semoga bisa digali pelajaran dan manfaat.

Kembali berlanjut kisah kami selama di Pulau Tidore dan Ternate di Maluku Utara. Semoga bisa digali pelajaran dan manfaat. Lihat kisah sebelumnya di sini.

Menuju Pulau Tidore

Selepas Jumatan kami bergegas menuju Pulau Tidore. Alhamdulillah, kami mendapat kontak nomor HP salah seorang Ustadz di sana sehingga ada kesempatan untuk mengisi kajian di malam harinya.

Dengan menggunakan kapal feri dari pinggiran kota Ternate, bersama dengan keluarga besar dengan menggunakan tiga mobil, kami berangkat ke Tidore pada pukul 16.00 WIT pada hari Jumat, 4 April 2014. Dengan tidak lupa membaca doa saat naik kendaraan kami pun berangkat menyeberangi lautan kurang lebih 20 menit.

“Bismillah, bismillah, bismillah. Alhamdulillah. Subhanalladzi sakh-khoro lanaa hadza wa maa kunna  lahu muqriniin. Wa inna ilaa robbina lamun-qolibuun. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. Subhaanaka inni qod zholamtu nafsii, faghfirlii fa-innahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta.”

Sesampai di Tidore, rombongan kami kembali menempuh perjalanan darat ke tempat tujuan kurang lebih 30 menit (yang berjarak 25 km dari pelabuhan Feri).

Kesempatan Mengisi Kajian di Tidore

Sampai di sana, waktu Ashar masih ada, rombongan kami yang belum menjalani shalat Ashar mencari Musholla dekat rumah bibi kami untuk melaksanakan shalat tersebut. Yang kami lihat, masjid yang ada di Ternate, Tidore dan Maluku secara keseluruhan adalah masjid yang megah dan besar. Namun demikianlah, masjid yang megah tidak menandakan jama’ahnya juga banyak. Itulah yang kami rasakan di waktu Maghrib dan shalat lima waktu lainnya.

Salah satu kendaraan gaul di kota Tidore, becak motor

Salah satu kendaraan gaul di kota Tidore, becak motor

Di malam harinya sesudah sampai, alhamdulillah ada kesempatan untuk mengisi kajian di Tidore selepas Isya’. Ini semua berkat kemudahan dari Allah, juga dari perantara beberapa ikhwan di Ternate sehingga bisa terhubung dengan Ustadz di Tidore. Kami senang sekali bisa berjumpa dengan para da’i yang sebenarnya berasal dari tanah Jawa yaitu Ustadz Rosi dan Ustadz Agus. Yang spesial bagi kami adalah Ustadz Agus (beliau adalah sahabat dekat Ustadz Dr. Syafiq Basalamah), ia menikahi wanita asli sana. Dan sekarang menetap di Tidore di rumah yang sederhana. Yang kami kagum padanya, beliau adalah seorang lulusan LIPIA Jakarta. Namun ia mau menetap di sana untuk berdakwah. Dan jarang sekali lulusan dari kampus yang mentereng seperti LIPIA mau berdakwah jauh dari keramaian kota. Semoga Allah senantiasa menjaga dan memberkahi umur beliau.

Setelah berdiskusi sebentar dengan Ustadz Agus, datanglah waktu Isya. Akhirnya, kami pun menuju ke masjid terdekat untuk menunaikan Isya secara berjamaah. Rata-rata di masjid yang ada di Maluku, masih kental dengan dzikir dan doa berjamaah setelah shalat. Juga ketika shubuh, imam masjid masih memakai qunut Shubuh.

Setelah Isya, para jama’ah sudah mulai berkumpul di TPQ (Taman Pembelajaran Qur’an). Dan dimulailah pengajian di tempat tersebut. Beberapa yang hadir ternyata adalah tentara dan jadi pengawal Walikota Tidore.  Materi yang disampaikan kala itu adalah tentang kisah ashabul ukhdud. Karena dalam kisah tersebut dibicarakan mengenai tukang sihir, pertanyaan yang muncul setelah pemaparan materi adalah tentang klenik, dukun dan sihir. Pulau Tidore memang sangat terkenal sekali dengan kleniknya. Bahkan ini jadi problema mendasar yang ditemukan di daerah Kepulauan Maluku.

Di pagi harinya, kami menghadiri akad nikah dari saudara sepupu kami. Kami diberi kesempatan untuk menyampaikan nasehat pernikahan setelah berlangsungnya akad nikah. Inti penyampaian khutbah nikah adalah wasiat untuk suami istri yang berisi penjelesan kewajiban istri dan kewajiban suami. Di antara kewajiban istri yang mesti dilakukan adalah selalu menyenangkan hati suami.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

????? ????????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????? ?????????? ?????? ????? ??????? ????????? ????? ?????? ??????????? ????? ?????? ????? ??????????? ??? ????????? ?????????? ????? ????????

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Juga nasehat berharga bagi suami yang kami sampaikan adalah,

???? ??????????? ????? ???????? ????????????? ????? ??????????? – ???? ??????????? – ????? ???????? ????????? ????? ????????? ????? ???????? ?????? ??? ?????????

Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian -atau engkau usahakan-, dan engkau tidak memukul istrimu di wajahnya, dan engkau tidak menjelek-jelekkannya serta tidak memboikotnya (dalam rangka nasehat) selain di rumah” (HR. Abu Daud no. 2142. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih). Mengenai memukul wajah di sini yang kami tekankan, karena seringkali kasus pemukulan pada wajah ini ditemukan di rumah tangga muslim di Indonesia Timur.

Setelah penyampaian khutbah, kami pun berbincang-bincang dengan Bapak Walikota Tidore. Kami menyampaikan sedikit permintaan pada beliau untuk menyokong dakwah Ahlus Sunnah di sana karena beberapa waktu lagi akan segera berdiri Ma’had Ali bin Abi Tholib di Pulau Tidore. Salah satu pengasuhnya adalah Ustadz Agus dan juga Ustadz Ismail (alumnus Universitas Islam Madinah dan merupakan putera asli Tidore).

Semoga dakwah Ahlus Sunnah bisa menyebar di sana, dan berbagai penyimpangan akidah dan berbagai kesyirikan bisa diberantas secara perlahan-lahan.

Perjalanan Pulang ke Ternate dan Menemukan Banyak Masjid

Di sore harinya pada pukul 2 siang, kami bergegas untuk kembali ke Ternate. Karena kami sudah membuat janji pula dengan Ustadz Abu Zakariya Maryono untuk memberi tausiyah pada waktu Maghribnya. Dengan menyewa salah satu angkot -istilah orang Maluku adalah ‘oto’-, kami berangkat menuju pelabuhan speed boat (perahu cepat). Di sini kami tidak menggunakan kapal feri karena butuh waktu yang cepat untuk sampai di kota Ternate. Hanya 10 menit lewat jalur laut dengan kecepatan tinggi bisa sampai di pelabuhan kecil di pinggiran Ternate. Dengan angkot, kami sampai di rumah bibi kami dan akhirnya di sore hari 30 menit menjelang Maghrib sudah mendapat jemputan dari Ustadz Abu Zakariya.

Mengisi Kajian di Ternate

Di Musholla Al Maliki di daerah Ngade, kami memberikan tausiyah. Dalam waktu yang singkat Maghrib hingga Isya, kami menyampaikan materi dari penyampaian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam risalah “10 Pelebur Dosa”.  Setelah itu diadakan tanya jawab, ternyata yang banyak bertanya adalah para da’i di Ternate yang rata-rata bukan penduduk asli Ternate. Ustadz Maryono sendiri yang kami sebutkan tadi berasal dari Wonogiri, yang lainnya berasal dari Pulau Jawa dan ada pula dari Sulawesi. Di antara curhatan kami dalam kajian, kami sangat menyayangkan putera daerah yang asli Maluku umumnya jarang berada di masjid. Padahal nama-nama orang Maluku rata-rata Islami, yaitu Muhammad, Ismail, Hasan dan Husain. Namun jarang sekali kita melihat nama-nama tersebut memenuhi masjid dan shaf shalat berjamaah. Paling yang ditemukan adalah nama-nama warga pendatang, Joko, Sutrisno dan lainnya. Ketika kami menyampaikan hal itu, para jamaah spontan tertawa. Karena mereka pun mengakui demikian.

Dan kami sangat senang kala itu bertemu pula dengan seorang da’i asli Maluku yang bernama Musa yang berasal dari daerah Tual (Maluku Selatan) dan banyak bercerita dengan beliau tentang dakwah di sana.

Cerita dengan beliau berlanjut ke warung makan pada malam tersebut. Bersama Ustadz Maryono dan Ustadz Musa, kami mendapatkan undangan untuk menyantap makan malam di warung makan Bu Rintania yang berada di tengah kota Ternate, tepatnya di depan rumah Gubernur. Kala itu kami banyak berbincang-bincang dengan suami Bu Rintania, yaitu drg Tenang, sambil menyantap makan khas Maluku yaitu ikan laut yang dibakar plus sajian sambal colo-colo (yaitu campuran lombok, tomat yang diberi, minyak dan air garam). Juga kala itu hadir di tengah-tengah kami, keluarga Bu Ummu Afif, beserta suami -yang baru saja pulang dari Pulau Bacan di Maluku Utara- dan kedua anaknya. Ini baru dinner yang memuaskan dan menyenangkan.

Pulang Menuju Jogja

Di pagi hari saatnya kembali pulang menuju Jogja. Tepat pukul setengah tujuh pagi, kami sudah harus menuju bandara dan kala itu dijemput oleh suami Bu Rintania. Akhirnya, kami pun meninggalkan Ternate pada pukul 08.15 WIT dengan Garuda Indonesia dengan terlebih dahulu transit di Jakarta, dan siang hari tepat pukul 1 siang WIB, kami tiba di kota Gudeg, Yogyakarta.

Semoga Allah membalas kebaikan dari keluarga Bu Rintania, Bu Ummu Afif, Ustadz Abu Zakariya, Ustadz Rosi, Ustadz Agus, kerabat kami di Ternate-Tidore yang telah banyak membantu selama kami berada di sana. Awalnya hanya sekedar kunjungan, akhirnya bisa juga berdakwah di kota Tidore dan Ternate. Semoga di lain waktu bisa kembali menginjakkan kaki di dua pulau tersebut.

Selesai disusun menjelang Ashar di Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, 7 Jumadats Tsaniyah 1435 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id

Safar Dakwah di Ternate dan Tidore 4 – 5 April 2014 (seri 1)

Aslinya, perjalanan ini bukan safari dakwah. Kami hanya sekedar ingin menghadiri undangan nikah dari saudara sepupu kami di Pulau Tidore. Namun karena kemudahan dari Allah, safar tersebut bisa berlanjut pada safari dakwah di Pulau Ternate dan Tidore.

Aslinya, perjalanan ini bukan safari dakwah. Kami hanya sekedar ingin menghadiri undangan nikah dari saudara sepupu kami di Pulau Tidore. Namun karena kemudahan dari Allah, safar tersebut bisa berlanjut pada safari dakwah di Pulau Ternate dan Tidore.

Ternate dan Tidore adalah dua pulau kecil di Kepulauan Maluku Utara. Di sebelah timur kedua pulau tersebut terdapat Pulau Halmahera yang memiliki luas lebih besar. Walau kecil, kedua pulau ini teramat indah. Keadaan laut masih alami. Apalagi Pulau Tidore memiliki tata kota yang begitu rapi sehingga mendapatkan penghargaan Adipura hingga 19 kali. Pembaca bisa buktikan ketika berkunjung ke kota Tidore akan melihat keadaan yang begitu bersih dan asri.

Perjalanan dari Jogja

Dari Jogja, kami menempuh perjalanan bersama orang tua dengan pesawat Sriwijaya dari jam 8 malam pada hari Kamis, 3 April 2014, setelah sebelumnya kami mengisi majelis ilmu Kitab Tauhid bersama para mahasiswa di kota Gudeg tersebut. Dari Jogja, pesawat bertolak menuju Surabaya. Hanya transit beberapa menit, kemudian perjalanan berlanjut ke kota Makassar – Sulawesi Selatan di Pulau Sulawesi. Selama kurang lebih empat jam, kami transit di Bandara Hasanuddin. Sambil mengisi waktu dengan meminum kopi, kami menyusun dua tulisan untuk Muslim.Or.Id dan web pribadi kami Rumaysho.Com. Akhirnya, kami tiba di Ternate di Bandara Sultan Babullah pukul 07.45 Waktu Indonesia Timur. Dan perlu diketahui bahwa ada perbedaan waktu dua jam lebih cepat dengan di barat. Saat turun dari pesawat, kami dijemput oleh keluarga drg. Tenang dan istrinya Bu Rintania. Merekalah yang telah banyak membantu selama di Ternate dan lewat perantara merekalah kami mudah mengisi kajian di masjid yang ada di dua pulau yang kami kunjungi ini.

Tiba di Ternate dan Mengisi Khutbah Jum’at

Setiba di rumah bibi di Kampung Pisang (begitulah sebutannya -walau jarang ada pisang di wilayah tersebut), kami pun beristirahat hingga 1 jam sebelum pelaksanaan shalat Jum’at. Dan di salah satu masjid di Kampung Pisang ini, kami akan bertugas mengisi khutbah. Perlu diketahui pula bahwa Kampung Pisang terletak di tengah kota Ternate dan cuma berjarak kurang lebih 15 menit dari Bandara Babullah.

Tibalah jam 12.40, saat masuk waktu Zhuhur. Ritual shalat Jum’at pun dimulai. Mungkin yang kita lakukan di tanah Jawa, shalat Jum’at dimulai pukul 12 siang. Berbeda dengan kota Ternate-Tidore yang terletak paling ujung dari Waktu Indonesia Timur. Waktu Shubuh di sana saja dimulai jam 05.25 WIT.

Khutbah Jum’at di wilayah Maluku secara keseluruhan masih kental dengan tradisi. Yang ratusan tahun telah dijalani. Bahkan sebelumnya lebih parah dari yang ada saat ini. Seperti saat khotib naik mimbar setelah azan kedua pun, ada seorang yang bertugas untuk meneriakkan untuk diam ketika khutbah. Padahal dalam hadits disebutkan sebagai berikut.

Dari Ibnu ‘Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

???? ????????? ?????? ??????????? ??????????? ???????? ?????? ???????? ?????????? ???????? ?????????? ????????? ??????? ???? ???????? ?????? ???? ????????

Barangsiapa yang berbicara pada saat imam khutbah Jum’at, maka ia seperti keledai yang memikul lembaran-lembaran (artinya: ibadahnya sia-sia, tidak ada manfaat, pen). Siapa yang malah berkata pada orang lain, “Diamlah”, maka tidak ada Jum’at baginya (artinya: ibadah Jum’atnya tidak sempurna, pen).” (HR. Ahmad 1: 230. Hadits ini dho’if kata Syaikh Al Albani)

Dalam hadits lain disebutkan,

???? ????????? ?????? ??????????? ??????????? ???????? ?????? ???????? ?????????? ???????? ?????????? ????????? ??????? ???? ???????? ?????? ???? ????????

Barangsiapa yang berbicara pada saat imam khutbah Jum’at, maka ia seperti keledai yang memikul lembaran-lembaran (artinya, ibadahnya sia-sia, tidak ada manfaat, pen). Siapa yang diperintahkan untuk diam (lalu tidak diam), maka tidak ada Jum’at baginya (artinya, ibadah Jum’atnya tidak ada nilainya, pen).” (HR. Ahmad 1: 230. Sanadnya tidak mengapa)

Nah, kalau saat ini yang dilakukan, orang tadi berteriak sebelum imam naik mimbar. Ia berkata pada para jama’ah Jum’at dengan bahasa Arab yang artinya perintah supaya jama’ah diam. Barangsiapa yang tidak diam, maka tidak ada Jumat untuknya. Namun amalan seperti yang dilakukan ini tidak perlu dilakukan karena tidak dicontohkan.

Kemudian ketika naik mimbar pun, khotib sambil membawa tongkat ke atas mimbar dengan tiga anak tangga. Mimbar seperti ini sudah umum terdapat di masjid-masjid di wilayah Maluku. Bahkan ditambah lagi imam naik mimbar dengan baju kebesaran seperti jubah arab.

Intinya, kami agak menyelisihi kebiasaan yang ada, sehingga sempat terlihat aneh. Karena biasanya khotib ketika menyampaikan khutbah terus memegang tongkatnya. Kami sendiri meletakkan tongkat tersebut di samping karena memang kami tidak membutuhkan tongkatnya layaknya orang sepuh. Karena tingkah kami seperti ini, sebagian jamaah sempat terheran sebab kami menyelisihi kebiasaan mereka.

Intinya, khutbah Jum’at yang kami sampaikan berisi ajakan untuk menjaga shalat dan bahaya meninggalkan shalat lima waktu. Mereka antusias mendengar khutbah ini. Salah satu yang membuat mereka seperti baru mengetahui ketika kami menukil perkataan Ibnul Qayyim berikut ini.

“Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.” (Disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya Ash Shalah)

Menuju Pulau Tidore

Selepas Jumatan kami bergegas menuju Pulau Tidore. Alhamdulillah, kami mendapat kontak nomor HP salah seorang Ustadz di sana. Sehingga bisa membuat janji untuk mengisi kajian di malam harinya.

Insya Allah, kisah safar dakwah di kota Ternate dan Tidore akan berlanjut pada serial berikutnya.

Selamat menanti.

Disusun di Soeta Airport Jakarta, 6 Jumadats Tsaniyah 1435 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id

Safar Dakwah di Jayapura Papua 31 Oktober – 5 November 2013

Jayapura adalah kota yang terletak di ujung timur Indonesia tepatnya di propinsi Papua. Kota tersebut banyak dihuni para pendatang dari tanah Jawa, Maluku dan Sulawesi sehingga hampir 30% penduduk Jayapura adalah muslim. Berikut adalah cerita dari safar kami selama 5 hari di Jayapura, Papua yang juga menjadi kota kami tumbuh besar hingga Sekolah Menengah Atas.

Jayapura adalah kota yang terletak di ujung timur Indonesia tepatnya di propinsi Papua. Kota tersebut banyak dihuni para pendatang dari tanah Jawa, Maluku dan Sulawesi sehingga hampir 30% penduduk Jayapura adalah muslim. Berikut adalah cerita dari safar kami selama 5 hari di Jayapura, Papua yang juga menjadi kota kami tumbuh besar hingga Sekolah Menengah Atas.

Selasa, Sudah Bersiap-Siap ke Papua

Sejak Selasa malam (29 Oktober 2013), kami sudah berangkat menuju Jakarta. Sengaja kami memilih transit di Jakarta untuk memanfaatkan waktu mengisi kajian di dua majelis di sana karena baru berangkat Rabu malamnya. Tepatnya pukul 23.55 WIB pada hari Rabu, kami berangkat menuju Papua dengan Batik Air. Pukul 07.30 WIT, pesawat tiba di Bandara Sentani Jayapura, Papua. Namun ada kejadian lucu, hampir saja pesawat tidak jadi mendarat dikarenakan ada anjing yang mondar-mandir di Bandara. Padahal sudah hampir dekat bibir landasan, pesawat kembali tancap gas ke atas dan berputar di atas Danau Sentani yang indah menawan. Akhirnya -alhamdulillah, segala puji bagi Allah-, pesawat kami pun bisa mendarat dengan selamat.

Perlu diketahui bahwa pemandangan anjing dan babi adalah suatu hal yang biasa di tanah Papua. Mahar nikah saja bisa berupa beberapa ekor babi bagi sebagian suku di tanah Papua. Kadang kedua binatang tersebut dan binatang ternak lainnya bisa masuk di Bandara. Ada cerita di salah satu kota di Papua, sempat sapi masuk bandara saat pesawat landing sehingga menimbulkan kerusakan yang parah pada pesawat tersebut di mana dalam beberapa bulan tidak bisa dioperasikan.

Di depan pintu kedatangan, kami sudah dijemput orang tua kami sendiri. Sesaat menunggu bagasi, kami pun bersiap menuju kota Jayapura dari Sentani. Sebelum beranjak ke kota Jayapura, kami sempat mampir di kantor Kabupaten Jayapura di Gunungmerah. Subhanallah, pemandangan indah kami temukan di atas gunung tersebut. Dan kami sempat mengambil beberapa  gambar menarik di sana.

Dalam perjalanan menuju kota, kami dan orang tua mampir sarapan di Entrop (dekat  kantor Walikota Jayapura) di rumah makan ikan yang cukup enak. Rata-rata biaya makanan cukup mahal, tiga orang bisa menghabiskan 250 ribu rupiah (include: minuman). Menu ikan tersebut langsung dipancing dari akuarium dan langsung digoreng.  Tetapi biaya tadi terbayarkan dengan lezatnya sambal dan ikan yang jarang kami temukan di tanah Jawa.

Siap Kajian Sore di Masjid At Taubah Entrop

Setelah sampai di rumah kediaman kami di APO Gunung dan bertemu dengan ibu tercinta, kami beristirahat sejenak untuk persiapan kajian sore di Masjid At Taubah. Hampir seluruh kajian di kota Jayapura berpusat di Masjid At Taubah sekitar 15 menit menempuh perjalanan dari pusat kota jika tidak macet.

Materi sore itu adalah “Bagaimana Cara Mengagungkan Ilmu” yang kami ambil dari bahasan guru kami, Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi hafizhohullah. Ada 12 point yang kami sampaikan pada para ikhwan Jayapura dalam kajian tersebut. Di antaranya kita mesti ikhlas dalam menuntut ilmu, bagaiman cara menuntut ilmu, dan perlu kesungguhan dalam belajar. Ada berbagai kisah yang diceritakan di antaranya dari Imam Al Khotib Al Baghdadi ketika ia mempelajari kitab Shahih Al Bukhari dari gurunya hanya dalam tiga kali majelis. Ini menunjukkan bagaimana kesungguhan para ulama dalam belajar. Inilah kajian perdana kami di hari Kamis tersebut ketika baru tiba di kampung halaman.

Hari Kedua, 1 November 2013

Di Shubuh hari pada hari kedua, 1 November 2013, kami mulai mengisi kajian di Masjid Raya Baiturrohim di Jl. Ahmad Yani Klofkamp (dekat dengan pusat kota). Masjid Raya ini yang kami anggap sebagai pusat dakwah di kota Jayapura karena megahnya masjid tersebut dibanding masjid-masjid lainnya.

Materi yang kami angkat adalah fikih thoharoh dari kitab Matan Al Ghoyah wat Taqrib karya Al Qodhi Abu Suja’. Pembahasan ini dipilih karena jama’ah Masjid Raya lebih fanatik pada madzhab Syafi’i sehingga dipilihkah kitab tersebut. Namun dalam pembahasan, tentu kami menjelaskan jika ada yang kurang tepat dalam penjelasan Abu Syuja’ dengan mempertimbangkan dalil dan pendapat ulama madzhab lainnya. Pertemuan perdana di Masjid Raya tadi diawali dengan pembahasan prinsip Imam Syafi’i dalam beragama dan penjelasan tentang pembagian air. Masyarakat muslim yang mengikuti kajian sabar menanti hingga 30 menit kajian berakhir.

Hari kedua tersebut bertepatan dengan hari Jum’at dan kami ditunjuk sebagai Khutbah Jum’at di Masjid At Taubah Entrop. Tema yang diangkat kala itu adalah kisah Juraij yang dido’akan jelek oleh ibunya dan doa ibu tersebut terkabul. Dalam kisah tersebut juga disebutkan bayi yang bisa berbicara padahal masih dalam momongan.

Di sore hari setelah shalat ‘Ashar, kami mengisi kajian di dekat rumah yaitu di Masjid Al Istiqomah APO Bengkel – masjid yang kami tumbuh besar mempelajari Al Qur’an-. Di masjid tersebut kami membahas hadits dari kitab Bulughul Marom tentang hak-hak sesama muslim.

Di hari yang sama setelah Maghrib, kami kembali menyampaikan materi mengenai “Jual Beli yang Terlarang” di mana tulisan ini pernah dimuat di wesbite pribadi kami Rumaysho.Com. Tanya jawab pun berlangsung menarik setelah kajian karena banyak yang menanyakan mengenai masalah riba dan kredit.

Hari Ketiga, 2 November 2013 Sambil Jalan-Jalan ke Papua New Guinea

Di shubuh hari, seperti kemarin, kami mengisi kembali kajian di Masjid Raya Baiturrohim dengan membahas tema fikih thoharoh pembahasan khusus tentang masalah kulit, bejana emas dan perak serta penjelasan siwak.

Bersiap kembali pada pukul 08.00 WIT, kami menuju daerah Holtekamp yaitu Ma’had Darul ‘Ilmi asuhan Ustadz Hadi (alumni Gontor dan salah seorang murid Ustadz Ja’far Umar Tholib). Saat itu kami berangkat bersama Akh Ahmad dan Akh Edi selaku ketua Majelis Ta’lim Al ‘Ilmu. Ma’had tersebut terbilang ma’had baru dan masih sedikit dana yang digelontorkan untuk pembangunan ma’had tersebut. Ma’had tersebut berada di daerah transmigran yang masih sedikit sadar akan Islam.

Di Ma’had Darul ‘Ilmi, kami menyampaikan tema riba sebagai kelanjutan dari materi malam hari di Masjid At Taubah. Bahasan tersebut berisi penjelasan bahaya riba, macam-macam riba dan seluk beluk riba masa kini. Sehabis penjelasan materi, banyak pertanyaan yang muncul hingga kajian berakhir pada siang hari, pukul 11.30 WIT.

Setelah kajian di Holtekamp, kami beranjak menuju daerah perbatasan di Skouw, yaitu perbatasan antara Indonesia dan Papua New Guinea.

jayapura_PNG

jayapura_PNG

Ketika itu bertepatan dengan hari pasaran di mana warga PNG dibolehkan masuk ke daerah Indonesia untuk berbelanja kebutuhan mereka.

Topi yang dijual orang PNG di daerah perbatasan

Topi yang dijual orang PNG di daerah perbatasan

Mata uang mereka yaitu Kina memiliki nilai lebih tinggi daripada rupiah sehingga membuat mereka senang bershopping ria di daerah perbatasan sambil membawa gerobak ketika pulang. Desa PNG yang berbatasan langsung dengan Indonesia adalah Desa Wutung.

Desa Wutung, PNG

Desa Wutung, PNG

Di atas desa tersebut, kami sempat mengambil beberapa foto dan video yang bertema semangat dalam hal yang bermanfaat. Insya Allah video tersebut akan dimuat di Yufid TV dan di Youtube.

Ketika pulang dari perbatasan, kami melaksanakan shalat Ashar di Koya Timur dan berbelanja jagung dan kacang di daerah tersebut yang di mana para penjualnya adalah para transmigran dari tanah Jawa yang menjual hasil pertanian mereka sendiri.

Sore hari, kami bersiap-siap lagi untuk membahas materi “Taat pada Penguasa” di Masjid Polda Papua. Kami bertemu Pak Gatot -seorang polisi yang berasal dari Gunungkidul-, di mana beliau adalah salah satu anggota polisi yang rajin menimba ilmu agama. Materi taat pada penguasa terasa sangat cocok ketika dibahas di Masjid Polda karena mengingat aparat dan pemerintah di negeri kita kadang dilecehkan oleh rakyatnya. Padahal taat pada penguasa adalah suatu kewajiban seorang muslim meskipun dalam hal yang kita tidak sukai pada mereka. Bahkan dalam keadaan ia berbuat zhalim pun, kita mesti taat. Beberapa aparat turut hadir  termasuk dari tentara, dan mereka sangat berterima kasih dengan adanya materi tersebut. Pembahasan materi berlangsung dari Maghrib dan dilanjutkan kembali setelah shalat Isya, diikuti dengan tanya jawab. Materi yang disampaikan bersumber dari hadits-hadits yang disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Sholihin tentang taat pada ulil amri. Setelah kajian, kami sempatkan dinner dengan para ikhwah kajian seperti Akh Bambang, Akh Ahmad, Akh Edi, serta Akh Abu Hudzaifah Nanang serta orang tua kami.

Hari Ahad, 3 November 2013

Acara pada hari Ahad lebih padat dari hari sebelumnya. Hari itu dimulai dari kajian Matan Al Ghoyah wat Taqrib di Masjid Raya Baiturrahim Jayapura sebagaimana hari sebelumnya Ba’da Shubuh selama 30 menit. Tema lanjutan yang dibahas adalah rukun dan sunnah wudhu. Dan perlu diketahui bahwa yang menghadiri kajian-kajian kami sejak awal banyak dari aparat kepolisian maupun tentara. Alhamdulillah, banyak yang dapat hidayah dan ternyata karena sering menonton TV Rodja. Bahkan kajian kami di kota Jayapura banyak diketahui dari running text TV Rodja. Moga Allah memberkahi para pengelola TV Rodja yaitu Akh Fawas dan lainnya.

Dilanjutkan di pagi hari jam 08.00 WIT, kami berangkat dengan mobil carteran ke daerah Kotaraja Furia,  di Masjid Al Ahkam. Di sana diadakan bedah buku yang diterbitkan Pustaka Muslim yaitu “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris“. Kajian berlangsung selama kurang lebih 2 jam. Sehabis kajian, panitia menyediakan makan siang berupa nasi padang. Yang bisa kami simpulkan saat itu ternyata ilmu agama dari kaum muslimin di Jayapura masih minim ditambah dengan kurangnya tenaga pengajar di sana. Karena sampai saat ini belum ada ustadz yang menetap di kota Jayapura yang bisa membina mereka secara rutin.

Selepas kajian sekitar jam 13.00 WIT, kami bertolak menuju perumahan Jaya Asri di Entrop. Di sana, kami pun diminta mengisi kajian oleh keluarga besar Ambon pas bertepatan dengan acara arisan keluarga. Yang menghadirinya kebanyakan adalah ibu-ibu dan sedikit dari bapak-bapak. Dan keluarga tersebut adalah keluarga Ambon muslim. Selama kurang lebih satu jam, kami memberikan pengajian ditutup dengan tanya jawab. Materi yang disampaikan adalah sederhana yaitu tentang hakekat syukur. Di dalamnya kami memberi motivasi untuk menjaga shalat dan kami jelaskan bahaya jika meninggalkan shalat lima waktu karena Umar bin Khottob pernah berkata bahwa orang yang meninggalkan shalat bukanlah muslim. Siraman ilmu yang kami berikan sebenarnya singkat, namun pertanyaan datang begitu banyak secara langsung setelah itu. Uniknya, pertanyaan begitu sederhana karena yang bertanya adalah orang-orang yang memang awam. Ada yang bertanya tentang cara berniat, doa setelah shalat Dhuha, niat puasa dan lainnya. Ada seorang bapak yang pekerjaannya adalah sebagai sopir, ia bertanya mengenai niat puasa senin kamis. Kami jawab dengan sederhana bahwa niat itu begitu gampang, cukup di dalam hati dan Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengajarkan pada kita untuk melafazhkan niat. Spontan ia menyalami tangan kami, karena anggapan dia kok niat bisa segampang itu,  tidak perlu dilafazhkan?!

Setelah dari Jaya Asri, kami bergegas ke Masjid Al Istiqomah APO karena akan mengisi kembali kajian di sana. Kami kebetulan membawa kitab Riyadhus Sholihin. Kami buka pembahasan adab makan saat itu. Selepas shalat Ashar, kami menyampaikan beberapa hadits dari kitab tersebut. Lalu berlangsung diskusi dan tanya jawab seperti  biasa. Bahasan makan saat itu adalah seputar memulai makan dengan membaca bismillah dan hukum makan dengan tangan kanan.

Ada waktu luang kurang lebih dua jam setelah itu. Selepas Maghrib, kami harus mengisi kajian di Pasir Dua di Masjid Jabal Hikmah. Pasir Dua adalah daerah indah, di bawahnya terdapat pantai Base-G yang langsung lepas ke Samudera Pasifik. Materi yang disampaikan di masjid tersebut adalah pembahasan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa mengenai 10 Pelebur Dosa.

Selepas kajian, kami kembali harus beristirahat karena esok harinya sejak Shubuh harus kembali memberikan kajian di Masjid Raya Baiturrohim.

Hari Kajian Terakhir

Tanggal 4 Oktober adalah hari kajian terakhir bersama Majelis Ta’lim Al Ilmu. Selepas shubuh di Masjid Raya Baiturrohim, kami membahas kitab Matan Al Ghoyah wat Taqrib. Saat itu, tema yang diangkat adalah adab buang hajat dan pembatal wudhu. Selepas kajian, kami didekati oleh seorang jama’ah yang saat ini diangkat sebagai guru agama di SDN Inpres 1 APO (tempat kami menimba ilmu di sekolah dasar dahulu). Beliau adalah Bp Mayor Muhammad Abdullah Al Faqih, SAg. Ia sebenarnya tentara berpangkat mayor, namun ia juga punya gelar S1 berupa pendidikan agama. Beliau banyak berdiskusi dengan kami saat itu tentang dakwah di Papua dan juga hadir saat itu Mayor La Ode yang berdinas di Kodam XVII Cenderawasih. Sangat bagus diskusi yang terjadi dengan mereka berdua. Dan kami ingin ke depannya mengisi kajian di tempat mereka, kajian khusus mengenai Taat pada Penguasa dan Asal Mula Terorisme untuk diterangkan pada para tentara.

Setelah diskusi tadi, kami beranjak naik ke kompleks Kodam. Di situ pemandangan sangat indah karena kami bisa melihat Masjid Raya dan kota Jayapura secara langsung dari atas gunung. Di tempat tersebut, kami sengaja mengambil beberapa video nasehat untuk dimuat di yufid TV dan Rumaysho TV nantinya.

Setelah dari Kodam, kami bersiap-siap ingin ke sekolah kami di SMA 2 Jayapura, di daerah Dok IX. Di sana, kami datang bersama Mas Yayat (yang berada satu level di atas kami di SMA 2) dengan kendaraan pribadinya. Kami menemui beberapa guru kami seperti Pak Mukhsin dan melihat sekolah tersebut dengan ditemani beliau. Saat ini SMA 2 sudah begitu berkembang dengan perubahan gedung serta bertambahnya ruangan kelas dan laboratorium.

Dari SMA 2, kami dan Mas Yayat turun ke pantai Base-G untuk melihat indahnya Samudera Pasifik. Namun qodarullah, hujan deras saat itu turun di pantai dan kami tidak bisa mengambil gambar pemandangan selain dari atas mobil.

Suasana Pantai Base G dan Samudera Pasifik

Suasana Pantai Base G dan Samudera Pasifik

Dari pantai Base-G, dengan Mas Yayat, kami bertolak menuju Angkasa, daerah perbukitan di kota Jayapura. Dari sana bisa  dilihat pemandangan indah Samudera Pasifik, tanjung dan teluk Jayapura. Beberapa gambar indah sempat diambil di daerah pegunungan tersebut. Lalu setelah dari Angkasa, kita berdua menuju Entrop untuk makan siang.

Selepas shalat Zhuhur di Masjid Al Hidayah Entrop, kami menuju Polimak ke suatu gunung yang dapat melihat kota Jayapura dan pelabuhan Jayapura secara langsung. Beberapa cuplik video diambil dari tempat tersebut dengan background pelabuhan dan teluk Jayapura. Subhanallah, begitu indahnya.

Pelabuhan Jayapura dari Gunung Polimak

Pelabuhan Jayapura dari Gunung Polimak

Tak terasa sudah menjelang Ashar, kami harus bergegas kembali bersama Mas Yayat ke kediaman kami di APO. Karena setelah Ashar, kami harus mengisi kajian di Masjid Al Istiqomah APO membahas adab makan dari kitab Riyadhus Sholihin. Setelah penyampaian materi, diskusi menarik pun terjadi karena ada yang menanyakan mengenai hukum merayakan 1 Muharram yang akan diadakan malam hari di masjid tersebut.

Setelah kajian di masjid APO, kami bergegas menuju Entrop untuk menunggu kajian di Masjid At Taubah namun sebelumnya kami mampir sebentar di pantai Dok II, teluk Jayapura untuk perekaman video.

Kapal di Teluk Jayapura yang dipotret dari Pantai Dok II

Kapal di Teluk Jayapura yang dipotret dari Pantai Dok II

Kami bergegas ke Entrop setelah itu karena hari itu ada demo yang dilakukan di depan kantor Gubernur Jayapura yang saat itu memacetkan jalan-jalan besar di kota Jayapura. Menjelang Maghrib, alhamdulillah kami sudah berada di Masjid At Taubah. Malam itu, kami mengisi kajian dengan tema “Adakah Bid’ah Hasanah?” Nasehat sederhana kami sampaikan pada para ikhwah untuk berdakwah dengan lemah lembut terutama ketika menjelaskan pada masyarakat yang masih antipati dengan bid’ah di Jayapura dan watak orang Papua yang memang keras. Kekerasan tentu tidak dibalas dengan kekerasan. Itulah kajian terakhir kami bersama Majelis Ta’lim Al ‘Ilmu.

Menjelang Keberangkatan ke Jogja

Di shubuh hari, 5 November 2013, kami masih berkesempatan untuk mengisi kajian di Masjid Al Istiqomah APO dekat kediaman kami. Di sana, kami kembali membahas adab makan dari kitab Riyadhus Sholihin yang membahas makan dalam keadaaan bersandar dan makan sambil berdiri. Itulah akhir kajian kami selama safar kami di kota Jayapura.

Jam 06.00 WIT, kami harus bergegas menuju Bandara Sentani ditemani saat itu oleh Akh Edi, Akh Ahmad dengan mobil pribadi Akh Abu Abror.

Alhamdulillah, jam 08.45 WIT pesawat Batik Air take off dari bandara Sentani Jayapura menuju Jakarta selama kurang lebih 5 jam. Saat ini kami sudah tiba di Jakarta tepat pukul 11.30 WIB.

Terasa ingin kembali lagi di kampung halaman kami, Jayapura Papua. Anda pun yang membaca tulisan ini jika terbang ke Papua akan tertarik pergi ke sana karena indahnya pemandangan dan suasana pantai di Jayapura. Ustadz Zaenal Abidin dan Ustadz Agus Hasan Bashori -semoga Allah menjaga mereka berdua- yang pernah beberapa waktu ke Jayapura untuk memberikan pengajian juga merasakan indah kota Jayapura dan berencana ingin kembali. Karena alam kota Jayapura masih asri, indah, natural dan belum tercemar banyak polusi seperti di kota-kota lainnya.

Da’i yang paham sunnah di Papua memang masih sangat kurang dan masyarat muslim pun masih butuh siraman ilmu. Alasan inilah yang membuat kami semangat untuk kembali ke sana minimal setahun dua kali setiap tahunnya. Dan rencana Mei 2014, kami akan kembali mengisi kajian dan hadir di kota Jayapura.

Semoga Allah memberikan keberkahan ilmu dan amal bagi ikhwah di kota Jayapura, moga mereka diberi keistiqomahan.

Selesai ditulis lewat perangkat iPad di pesawat Batik Air saat perjalanan Jayapura – Jakarta, 1 Muharram 1435 H

Penulis: Muhammad Aduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id

Rihlah Para Ulama’ dalam Menuntut Ilmu

Telah menjadi kebiasaan para ulama melakukan rihlah(perjalanan jauh) untuk menuntut ilmu. Mereka bersabar hidup jauh dari sanak kerabat dan orang2 yg dicintai demi mendapatkan warisan para Nabi(yaitu ilmu). Mereka memahami benar bahwa ilmu itu perlu dicari dan didatangi, dia tidak datang dengan sendirinya. Hal ini sebagaimana dikatakan, ????? ???? ??? ???? “Ilmu itu didatangi, dan […]

rihlah ilmuTelah menjadi kebiasaan para ulama melakukan rihlah(perjalanan jauh) untuk menuntut ilmu. Mereka bersabar hidup jauh dari sanak kerabat dan orang2 yg dicintai demi mendapatkan warisan para Nabi(yaitu ilmu). Mereka memahami benar bahwa ilmu itu perlu dicari dan didatangi, dia tidak datang dengan sendirinya. Hal ini sebagaimana dikatakan,

????? ???? ??? ????

“Ilmu itu didatangi, dan tidak datang (dengan sendirinya)”

Sebelumnya tentu kita ingat kisah Nabi Musa mengikuti Khidir alaihimassalam. Dengan susah payah Nabi Musa berusaha mencari Khidir lalu mengikutinya untuk mendapatkan ilmu yang ia belum miliki atau ketahui (lihat kisah selengkapnya di dalam surat al Kahfi ayat 60-82). Begitu juga dengan kisah para sahabat yang datang dari segala penjuru untuk menemui dan belajar dari Rasulullah. Mereka bertanya tentang urusan agama mereka. Setelah mereka memiliki ilmu yang cukup maka Rasulullah mengutus mereka kembali untuk mengajari kaum mereka.

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu pernah mengadakan perjalanan selama satu bulan menuju Syam hanya untuk mendapatkan satu hadits. Beliau di Syam menemui Abdullah bin Unais untuk mendengar sebuah hadits dari Rasulullah sholallahu alahi wasallam. Para tabi’in dan ulama’-ulama’ setelah mereka juga demikian. Tidak sedikit dari mereka yang menempuh perjalanan yang begitu jauh untuk menuntut ilmu. Ilmu adalah sesuatu yang agung maka tidak mengherankan untuk mendapatkannya perlu perjuangan.

Imam Abu Hatim Ar Razi rahimahullah pernah mengatakan bahwa dirinya pernah berjalan kaki lebih dari 1000 farsakh. Padahal satu farsakh lebih dari 5 km! Jadi imam ini pernah berjalan kaki lebih dari 5000 km untuk menuntut ilmu!!! Belum lagi perjalanan beliau menaiki kendaraan. Beberapa tempat yang beliau kunjungi untuk menuntut ilmu: Baghdad, Kufah, Makah, Madinah, Syam, Mesir dan lainnya. Lain lagi ceritanya dengan Imam Baqiy bin Makhlad Al Andalusi rahimahullah. Beliau melakukan perjalanan dari Andalus lalu ke Afrika lalu ke Baghdad hanya untuk belajar pada Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah. Imam Ahmad bin Hambal sendiri telah melakukan perjalanan yang begitu jauh dalam menuntut ilmu sehingga ia menjadi imam besar dalam Islam. Ibnu Jauzi mengatakan, “Imam Ahmad pernah mengelilingi dunia dua kali sampai ia mengumpulkan kitab al Musnad”.

Semoga kita diberi kekuatan untuk mengikuti jejak mereka…amien

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 1 Dzulqa’dah 1434 (7 September 2013)

Artikel: www.thaybah.or.id

Filed under: Ilmu Tagged: Ilmu, rihlah, safar, ulama

Umrah Berulang Kali dalam Sekali Safar

umrah safarSyaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin ditanya, “Sebagian orang datang dari negeri yang jauh untuk melaksanakan umrah di Makkah. Mereka melaksanakan umrah, lalu bertahallul. Kemudian setelah itu mereka keluar ke Tan’im, lantas menunaikan umrah kembali. Maksudnya, dalam sekali safar melakukan melakukan beberapa kali umrah. Bagaimana hukum hal ini?” Beliau rahimahullah menjawab, “BarakallahuBaca lebih lanjut…

umrah safar

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin ditanya, “Sebagian orang datang dari negeri yang jauh untuk melaksanakan umrah di Makkah. Mereka melaksanakan umrah, lalu bertahallul. Kemudian setelah itu mereka keluar ke Tan’im, lantas menunaikan umrah kembali. Maksudnya, dalam sekali safar melakukan melakukan beberapa kali umrah. Bagaimana hukum hal ini?”

Beliau rahimahullah menjawab, “Barakallahu fiik, perbuatan termasuk amalan yang dibuat-buat (tanpa ada dalil). Karena kita telah mengetahui bahwa tidak ada yang lebih semangat dalam ibadah dari Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan para sahabat. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana kita ketahui bersama ketika Fathul Makkah di akhir Ramadhan, beliau berdiam di Makkah selama 19 hari. Ketika itu beliau tidak keluar menujuTan’im untuk berihram umrah. Demikian para sahabat tidak melakukan demikian. Oleh karenanya, berkali-kali berumrah dan satu safar termasuk amalan yang mengada-ada.” [Liqo’ Al Bab Al Maftuh, 28: 121][1]

Dalam lanjutan fatwa tersebut, beliau rahimahullah mengatakan, “Jika engkau ingin mendapatkan ganjaran, melakukan thawaf mengelilingi Ka’bah itu lebih baik untukmu daripada engkau mesti keluar ke Tan’im. Kemudian kami juga katakan bahwa saran untuk memperbanyak thowaf tadi jika bukan pada musim haji. Jika pada musim haji, maka cukup bagimu dengan thowaf di awal. Berilah kesempatan pada yang lain untuk melakukan thowaf keliling Ka’bah. Karena kita dapati sendiri bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamdalam beberapa umrahnya tidaklah melakukan thowaf berulang kali. Beliau pun tidak keluar menuju Tan’im untuk melakukan umrah lagi. Ketika haji wada’ (haji terakhir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang beliau lakukan hanyalah thowaf manasik yaitu thowaf qudum, thowaf ifadhoh dan thowaf wada’. Kita pun mengakui bahwa kita masih kalah semangat dibanding beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Oleh karenanya kami sarankan, jangan mempersusah dirimu sendiri. Cukupkan dengan umrah pertama (sekali umrah dalam satu safar). Jika engkau ingin meninggalkan Makkah, lakukanlah thowaf wada’. Walhamdu lillah.[2]

Syaikh Sholih Al Munajjid berkata, “Tidaklah disunnahkan dan tidak pula termasuk petunjuk salaf mengulangi umrah dalam sekali safar baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Asalnya, satu umrah dilakukan dalam satu safar. Barangsiapa yang bersafar untuk umrah, maka tunaikanlah satu umrah dalam safar tersebut. Tidak disyari’atkan untuk mengulang beberapa umrah dalam sekali safar. Kecuali jika seseorang keluar dari Makkah untuk bersafar lantas kembali lagi ke Makkah, ketika itu baru ia bisa melakukan umrah yang lain.” [Fatawa Al Islam Sual wal Jawab no. 134276][3]

Jika dikatakan tidak ada dalil dalam masalah ini dan tidak pernah dicontohkan oleh para salaf, ini menunjukkan bahwa berkali-kali umrah dalam sekali safar adalah amalan yang tidak ada tuntunannya dan perbuatan yang mengada-ada tanpa ada burhan (dalil). Sehingga tentu amalan tersebut adalah amalan yang keliru. Wallahu a’lam.

Wallahu waliyyut taufiq.

 

@ Makkah Al Mukarromah, diselesaikan di pagi hari penuh berkah di Hotel Manarotul Asheel, 20 Syawal 1433 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id

 


[1] Lihat di sini: http://islamqa.info/ar/ref/134276

[2] Lihat di sini: http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=7763

[3] Lihat di sini: http://islamqa.info/ar/ref/134276

Pernik-Pernik Ramadhan (6) : Lebih Utama Puasa Atau Tidak, Bagi Musafir Yang Tidak Berat Dalam Perjalanannya ?

Apabila seorang musafir tidak merasa berat ketika puasa maka ia boleh berbuka atau tetap puasa. Namun, manakah yang lebih afdhal, berbuka atau berpuasa? Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata: “Bila antara puasa dan berbukanya sama-sama mudah, maka yang lebih utama adalah berpuasa, hal itu ditinjau dari empat segi: Pertama. Mencontoh perbuatan Rasulullah shallallahu’alaihi wa … Continue reading »

pernik

Apabila seorang musafir tidak merasa berat ketika puasa maka ia boleh berbuka atau tetap puasa. Namun, manakah yang lebih afdhal, berbuka atau berpuasa?

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata: “Bila antara puasa dan berbukanya sama-sama mudah, maka yang lebih utama adalah berpuasa, hal itu ditinjau dari empat segi:

Pertama. Mencontoh perbuatan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang tetap berpuasa, berdasarkan hadits Abu Darda’ radliyallahu’anhu dia berkata,

“Kami pernah bepergian bersama Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan ketika hari sangat panas, sampai ada seorang diantara kami meletakkan tangannya di atas kepala karena saking panasnya hari itu, di antara kami tidak ada yang puasa kecuali Rasulullah dan Abdullah bin Rawahah.” (HR. Bukhari No. 1945, Muslim No. 1122)

Kedua. Hal itu lebih cepat melepaskan diri dari tanggungan

Ketiga. Lebih ringan bagi seorang hamba, karena berpuasa bersama manusia lebih ringan, dan apa yang lebih ringan maka lebih utama

Keempat. Puasanya bertepatan dengan bulan Ramadhan, dan bulan Ramadhan lebih utama daripada bulan lainnya.

Karena alasan inilah, kami katakan bahwa puasa lebih utama. (Asy-Syarh al-Mumthi’ 6/330)

Sumber: Panduan Lengkap Puasa Ramadhan Menurut al-Quran dan as-Sunnah, oleh Ust. Syahrul Fatwa dan Ust Yusuf bin Mukhtar, pustaka al-Fuqon.

Ketika Amal Terhalang Sakit Atau Bepergian

????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????? ?????? ????????? ???? ??????? ?????? ???? ?????? ??? ????? ???????? ???????? ???????? “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Apabila seorang hamba sakit atau bepergian (safar), dicatat (amalannya) seperti apa yang dikerjakannya ketika dia bermukim dan sehat.’” (HR Bukhari) Syarah: Ini termasuk anugerah terbesar yang Allah ta’ala berikan […]

????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????? ?????? ????????? ???? ??????? ?????? ???? ?????? ??? ????? ???????? ???????? ????????

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Apabila seorang hamba sakit atau bepergian (safar), dicatat (amalannya) seperti apa yang dikerjakannya ketika dia bermukim dan sehat.’” (HR Bukhari)

Syarah:

Ini termasuk anugerah terbesar yang Allah ta’ala berikan kepada hamba-Nya yang mukmin. Sesungguhnya, amalan yang terus menerus dan biasa dikerjakan, apabila terputus karena sakit atau safar (bepergian jauh), maka amalan itu tetap dicatat sebagai amalan yang sempurna (sebagaimana ketika dalam keadaan normal). Karena Allah mengetahui kalau tidak ada penghalang, tentu amalan tersebut akan dikerjakannya. Sehingga Allah memberi pahala sesuai dengan niatnya sebesar pahala orang yang mengerjakannya (dalam keadaan normal) dan pahala sakit yang dirasakannya. Dimana ketika sakit itu mereka tabah di atas kesabaran. Padahal boleh jadi apa yang dikerjakan seorang musafir belum tentu dia kerjakan ketika bermukim, misalnya ta’lim (mengajar), memberi nasehat atau bimbingan kepada kemaslahatan, baik urusan dunia maupun agama, terutama dalam safar yang baik seperti, jihad, haji, umrah, dan sebagainya.

Masuk dalam hadits ini pula bahwa siapapun yang beribadah dengan cara yang kurang sempurna, sementara dia tidak mampu mengerjakan lebih sempurna lagi, maka sesungguhnya Allah akan menyempurnakan sesuai dengan niatnya –seandainya hal itu mampu dia lakukan tentu dikerjakannya secara sempurna. Sebab ketidakmampuan menyempurnakan ibadah merupakan salah satu jenis penyakit. Wallahu a’lam.

Barang siapa yang berniat mengerjakan kebaikan, namun disibukkan dengan amalan lain yang lebih utama dan tidak mungkin mengerjakannya sekaligus, maka lebih tapat dan lebih pantas amalannya yang terhalang tersebut untuk dicatat sebagai amalan yang (juga) utama. Demikian pula seandainya dia sibuk mengerjakan amalan yang setara dengan amalan yang (terpaksa ditinggalkannya). Sesungguhnya karunia Allah sangatlah besar. Wallahu a’lam.

***
muslimah.or.id

Disalih dari Buku Mutiara Hikmah Penyejuk Hati, Syarah 99 Hadits Pilihan
Terjemah dari Kitab Bahjatul Qulubil Abrar Qurratul Uyunil Akhyar fi Syarhi Jawami’il Akhbar karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di